Proyeksi Harga Energi Hingga 2026, Batubara Bisa Naik & Minyak Tertekan Geopolitik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga sejumlah komoditas energi kompak menguat dalam sebulan terakhir. Kenaikan terjadi pada minyak mentah, gas alam dan batubara di tengah risiko gangguan pasokan, kondisi cuaca serta ketegangan geopolitik.

Menurut data Bloomberg per Jumat (4/9/2026) pukul 19.00 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 90,81 per barel, turun 0,51% secara harian. Namun, harga WTI masih menguat 19,86% dalam sebulan.

Sementara itu, harga Brent berada di US$ 95,14 per barel, turun 0,4% secara harian, tetapi naik 19,88% secara bulanan. Harga gas alam tercatat US$ 2,93 per MMBtu, naik 0,58% secara harian dan 7,29% bulanan.


Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Rapikan Bisnis Lewat Merger Internal, Simak Prospek Sahamnya

Adapun harga batubara untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 per Kamis (3/9/2026) berada di level US$ 150 per ton, naik 0,27% secara harian, 5,38% dalam sepekan dan 12,34% dalam sebulan.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, batu bara menjadi salah satu komoditas yang berpotensi mendapat dorongan dari gangguan distribusi. Kondisi cuaca dan surutnya Sungai Barito dapat menghambat pengangkutan batu bara menggunakan tongkang dari wilayah Kalimantan.

"Transportasi akan lebih jauh lagi dan ini yang membuat impor akan terhambat. Kalau barang terlambat datang, berarti harga ini akan naik," ujar Ibrahim kepada Kontan, Jumat (4/9/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut perlu dicermati jika berlangsung hingga akhir tahun. Pasalnya, kondisi kering yang berkepanjangan juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di area pertambangan.

Di sisi lain, aktivitas produksi batu bara di sejumlah negara seperti China dan India juga berpotensi terganggu akibat kondisi cuaca. Ibrahim mengatakan, penambangan batu bara bawah tanah dapat terkendala ketika memasuki musim hujan karena terowongan berisiko tergenang.

"Di China dan India itu batu baranya masuk ke bawah tanah. Terowongan-terowongan tersebut pada saat musim hujan bisa tergenang air sehingga produksi dihentikan sementara," jelasnya.

Sementara itu, harga minyak mentah masih berpeluang bergerak tinggi seiring ketegangan geopolitik yang belum mereda.

Baca Juga: Tertahan Sinyal The Fed, Rupiah Menguat Tipis di Pekan Ini

"Minyak mentah terus mengalami kenaikan karena masalah geopolitik. Di Timur Tengah antara Amerika dan Iran, kemudian di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina. Ini yang membuat harga minyak mentah menguat," katanya Ibrahim.

Untuk gas alam, Ibrahim melihat permintaan berpotensi meningkat menjelang akhir tahun seiring memasuki musim dingin di belahan bumi utara. Kebutuhan gas terutama berpotensi meningkat di negara-negara Eropa yang mengandalkan gas sebagai sumber energi.

"Gas juga kemungkinan mengalami kenaikan karena mendekati akhir tahun ini adalah musim dingin ekstrem. Setelah musim panas, kemudian berganti musim dingin, sehingga kebutuhan gas meningkat," tuturnya.

Hingga akhir 2026, Ibrahim memperkirakan harga batu bara berpotensi mencapai sekitar US$ 155 per ton. Sementara itu, harga WTI diproyeksikan berada di level US$ 90-an per barel, sedangkan Brent berpotensi berada di kisaran US$ 100 per barel.

Menurut Ibrahim, faktor geopolitik masih menjadi penopang utama harga minyak, sementara batu bara berpotensi mendapat dorongan dari gangguan transportasi dan kebutuhan energi yang tetap tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News