KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Prospek kinerja bank-bank berkapitalisasi besar pada semester I-2026 diproyeksi masih positif. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat bank-bank milik negara (Himbara) kini menjadi motor utama pembiayaan sektor riil dan korporasi. Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang masih melaju kencang, bahkan mencapai dua digit. Per Mei 2026, pertumbuhan kredit bank only PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencapai 20,56% secara tahunan (
year-on-year/yoy), pun PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) tumbuh 24,55% yoy menjadi Rp 940,88 triliun.
“Pertumbuhan tersebut menunjukkan peran Himbara sebagai motor utama pembiayaan sektor riil dan korporasi," ujar Nafan kepada Kontan, Sabtu (27/6/2026).
Baca Juga: Proyeksi Kinerja Big Banks Semester I-2026: Bank Himbara Masih Ungguli Swasta Nafan bilang ekspansi kredit tersebut mampu dikonversi menjadi pertumbuhan pendapatan bunga bersih (
net interest income/NII) yang solid sehingga menopang prospek laba emiten perbankan pelat merah. Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru menunjukkan laju pertumbuhan kredit yang lebih moderat. Hingga Mei 2026, kredit BBCA tumbuh sekitar 4,85% yoy, masih di bawah target manajemen sebesar 8%–10% untuk sepanjang tahun. Nafan menilai perlambatan tersebut merupakan konsekuensi dari strategi konservatif bank dalam menjaga kualitas aset. "BBCA memilih membatasi ekspansi kredit demi menjaga kualitas aset, sehingga pertumbuhan NII cenderung datar. Namun kondisi itu berhasil dikompensasi oleh pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (
fee-based income) yang masih kuat, ditopang ekosistem transaksi digital," katanya. Pun, posisi BBCA sebagai salah satu saham
safe haven di sektor perbankan, kata Nafan, juga masih didukung struktur pendanaan yang kuat. Tingginya rasio dana murah (CASA) membuat margin bunga bersih (NIM) tetap terjaga di tengah suku bunga yang masih relatif tinggi. Ke depan, Nafan menilai terdapat sejumlah faktor yang akan menentukan arah kinerja sektor perbankan pada paruh kedua tahun ini. Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor utama karena akan mempengaruhi biaya dana (
cost of fund), terutama bagi bank dengan komposisi dana murah yang lebih rendah.
Baca Juga: OJK: Reasuransi Berpeluang Tingkatkan Partisipasi di Pasar Regional dan Internasional Selain itu, meredanya sentimen
rebalancing indeks MSCI diperkirakan dapat mengurangi tekanan jual investor asing terhadap saham-saham perbankan berkapitalisasi besar sehingga membuka peluang penguatan harga saham. Dari sisi fundamental, menurutnya pasar juga perlu mencermati perkembangan kualitas aset dan biaya kredit (
cost of credit/CoC).
Nafan bilang tren pencadangan pada kuartal II bakal menjadi penentu apakah pertumbuhan kredit yang agresif, khususnya di Himbara, benar-benar dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba bersih yang berkelanjutan tanpa diiringi lonjakan kredit bermasalah (NPL). Dari sisi rekomendasi investasi, Mirae Asset Sekuritas masih memberikan rekomendasi
accumulative buy untuk saham-saham bank berkapitalisasi besar. BMRI menjadi pilihan utama dengan target harga Rp 5.600 per saham atau menawarkan potensi kenaikan (
upside) sekitar 41,41%. Selanjutnya, BBCA dipatok dengan target harga Rp 7.900 per saham (
upside 31,12%), BBNI Rp 4.220 per saham (upside 25,97%), dan BBRI Rp 3.450 per saham (
upside 18,56%). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News