Prudential Beberkan Penyebab Inflasi Medis, dari Gaya Hidup hingga Overutilisasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inflasi medis yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, turut menekan kinerja asuransi kesehatan di industri asuransi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan fenomena inflasi medis masih menjadi salah satu tantangan utama bagi industri asuransi kesehatan pada tahun ini. 

PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) menilai ada beberapa faktor utama yang memengaruhi peningkatan inflasi medis setiap tahunnya. Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth menerangkan salah satunya faktor gaya hidup, yang mana masih banyak masyarakat memiliki kebiasaan hidup kurang sehat, sehingga berkontribusi pada peningkatan kebutuhan layanan kesehatan dan biaya yang lebih tinggi. 

Faktor lainnya, yaitu adanya overutilisasi atau perawatan berlebihan. Dia bilang faktor pemicu yang menyebabkan overutilisasi terjadi karena ada kekhawatiran baik dari pasien ataupun dokter terhadap diagnosa yang dirasa kurang tepat.


Baca Juga: Askrindo Syariah Bukukan Laba Rp163,18 Miliar pada 2025, Aset Tembus Rp3,28 Triliun

"Dengan demikian, merasa perlu dilakukan lebih banyak tes dan perawatan yang mungkin tidak diperlukan atau berlebihan," ungkapnya kepada Kontan, Sabtu (11/4).

Yosie menerangkan faktor berkembangnya teknologi yang digunakan untuk perawatan juga mendorong peningkatan biaya perawatan, sehingga membuat inflasi medis meningkat.

"Beberapa faktor tersebut yang menyebabkan inflasi medis terus meningkat setiap tahunnya," ujarnya.

Lebih lanjut, dari sisi biaya perawatan, Yosie bilang Indonesia saat ini belum ada kebijakan atau ketetapan tarif yang berlaku secara nasional. Dengan demikian, kesenjangan biaya untuk jenis perawatan dan pengobatan yang sama masih sangat beragam. 

Meski demikian, dia bilang pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah melakukan suatu upaya melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 tahun 2023 tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan, yang banyak diimplementasikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Menurut Yosie, diperlukan kebijakan lain untuk industri kesehatan agar ada acuan penetapan tarif maupun kenaikan tarif. Sebab, dia menilai kenaikan tarif yang dikenakan berbagai instansi kesehatan pastinya akan berdampak di industri asuransi yang merupakan bagian dari ekosistem kesehatan sebagai salah satu penanggung dari biaya-biaya tersebut. 

Sementara itu, Yosie mengatakan peningkatan biaya perawatan juga berdampak terhadap tingginya klaim kesehatan di industri asuransi dan harus disikapi dengan cermat oleh perusahaan asuransi. Untuk menyikapinya, dia menyebut perusahaan asuransi perlu melakukan penyesuaian premi atau biaya asuransi untuk memastikan keberlangsungan perlindungan bagi nasabah hingga masa mendatang, serta dapat memenuhi komitmen dalam melindungi dan memberikan layanan yang optimal kepada nasabah sesuai dengan standar kualitas yang ada.

Yosie mengatakan Prudential Indonesia pastinya tetap ingin nasabah memiliki manfaat kesehatan yang baik dan berkesinambungan. Dengan demikian, perlu dilakukan evaluasi sistem secara menyeluruh dari waktu ke waktu, agar dapat mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat, kondisi pasar, dan tentunya biaya kesehatan.

Berangkat dari hal tersebut, dia memahami pentingnya penerapan standarisasi layanan kesehatan untuk meningkatkan transparansi, kualitas, dan efisiensi pelayanan, serta mengurangi variasi dalam pelayanan. 

Baca Juga: Asuransi Jiwa Joint Venture Dominasi Aset Terbesar, Ini Kata OJK dan AAJI

"Oleh karena itu, Prudential Indonesia menghadirkan PRUPriority Hospitals sebagai bagian dari komitmen dalam menjaga kepercayaan nasabah, sejalan mendukung upaya pemerintah untuk mempertegas transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi pelayanan kesehatan, khususnya terkait proses verifikasi klaim jaminan kesehatan," tuturnya.

Selain itu, Yosie juga menilai perusahaan asuransi perlu mengoptimalkan Artificial Intelligence (AI) untuk menganalisis tren dan pola klaim lebih detil, serta mengidentifikasi area berisiko tinggi dari berbagai dimensi. 

"Dengan data yang lengkap, mendalam, dan akurat, kami dapat mengidentifikasi potensi risiko penggunaan berlebih (overutilization) yang dapat dicegah, serta melindungi nasabah agar dapat memperoleh layanan kesehatan yang dibutuhkan dengan aman dan nyaman," katanya.

Lebih lanjut, Yosie juga mengungkapkan Prudential juga melakukan penyesuaian premi atau repricing agar dapat terus melindungi nasabah hingga ke masa depan. Dia bilang repricing juga banyak dilakukan di industri asuransi karena adanya beberapa faktor, seperti inflasi medis, peningkatan risiko yang dialami nasabah, serta meningkatnya pengalaman klaim kesehatan. 

Tanpa peninjauan premi berkala, dinilai bisa terjadi ketidakseimbangan. Yosie menjelaskan bisa saja premi yang dibayarkan tidak lagi sebanding dengan biaya klaim yang terus meningkat. Jika dibiarkan, kondisi itu justru berisiko pada kualitas layanan dan keberlangsungan produk.

Oleh karena itu, dari sisi produk, Yosie melihat perlu ada produk asuransi kesehatan yang bisa menjadi solusi menghadapi inflasi medis yang terus naik setiap tahunnya. Hal itu juga dilakukan Prudential Indonesia pada 2024, menghadirkan inovasi produk asuransi kesehatan PRUWell Medical dan PRUWell Health yang menawarkan konsep fair pricing. 

Dari sisi edukasi, Prudential Indonesia terus mengedukasi akan pentingnya menjaga pola hidup sehat dan tindakan pencegahan melalui beragam inisiatif. Yosie mengatakan pihaknya secara rutin mengadakan acara bersama nasabah dengan menghadirkan dokter spesialis dari berbagai Rumah Sakit PRUPriority Hospitals maupun pakar kesehatan lainnya untuk memberikan seminar kesehatan.

"Kami juga akan terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesehatan dari ekosistem kesehatan di Indonesia," ucap Yosie.

Berdasarkan laporan keuangan di situs resmi perusahaan, Prudential mencatatkan pendapatan premi sebesar Rp 3,68 triliun per Februari 2026. Adapun klaim atau manfaat yang dibayarkan mencapai Rp 1,27 triliun. 

Baca Juga: Tugu Insurance Garap Green Bond, Porsi Investasi Masih 2,3%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News