KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai dimanfaatkan industri perasuransian, khususnya pada lini asuransi kesehatan. Adapun pemanfaatan AI bertujuan untuk mendukung peningkatan efisiensi operasional dan kualitas layanan. Secara rinci, OJK menyebut pemanfaatan AI pada lini asuransi kesehatan digunakan dalam proses underwriting, pengelolaan klaim, deteksi potensi fraud, analisis data kesehatan, serta layanan pelanggan melalui chatbot. Selain itu, digunakan juga untuk pengembangan produk yang lebih sesuai dengan profil risiko dan kebutuhan nasabah. Mengenai hal itu, PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) menyebut pemanfaatan AI telah diterapkan di berbagai fungsi yang berhubungan dengan pengalaman nasabah, operasional, pemasaran, serta pengelolaan risiko.
Baca Juga: Penyakit Kritis Masih Dominasi Klaim Kesehatan Prudential Indonesia Dari sisi operasional, Chief Digital & Technology Officer Prudential Indonesia Pradeep Grewal menerangkan AI membantu mempercepat customer profiling agar didapatkan informasi yang menyeluruh dan utuh dari keseluruhan data historis yang dimiliki. "Selain itu, AI membantu menganalisis data klaim secara lebih cepat. Dengan demikian, perusahaan dapat meninjau kesesuaian klaim dengan ketentuan polis nasabah, serta mengidentifikasi kondisi tertentu yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut," ungkapnya kepada Kontan, Kamis (6/8/2026). Dengan pengimplementasian AI, Pradeep menyampaikan proses penanganan klaim dapat berlangsung lebih efisien, akurat, dan tetap sesuai dengan standar yang berlaku. Dari sisi layanan nasabah, Pradeep menerangkan implementasi AI dapat membantu mempercepat pencarian dan pengolahan informasi, sehingga petugas customer service dapat memberikan respons yang lebih cepat dan akurat. "Hal itu memungkinkan karyawan untuk lebih fokus membangun interaksi yang bermakna dengan nasabah, memahami kebutuhan mereka secara lebih mendalam, serta memberikan layanan yang lebih personal dan berkualitas," tuturnya.
Baca Juga: Begini Strategi Prudential Indonesia Bidik Pasar Asuransi untuk Generasi Muda Selain mendukung proses bisnis, Pradeep bilang Prudential Indonesia juga memberdayakan karyawan melalui inisiatif AI for All yang diperkenalkan sejak 2025 untuk mendorong pemanfaatan AI dan berbagai alat pendukung, termasuk Microsoft Copilot, dalam aktivitas kerja sehari-hari. Melalui program pembelajaran dan pengembangan yang berkelanjutan, dia menyebut pihaknya membekali karyawan dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk memanfaatkan teknologi secara efektif dan bertanggung jawab. Dengan demikian, dapat bekerja lebih produktif dan menghadirkan pengalaman yang lebih baik bagi nasabah. Seiring perkembangannya, Pradeep menyebut pemanfaatan AI juga diperluas ke berbagai fungsi lain untuk mendukung analisis data, efisiensi operasional, dan peningkatan produktivitas. Menurutnya, AI berperan sebagai pendukung yang membantu memperkuat pengambilan keputusan dan kualitas layanan, dengan tetap memastikan adanya pengawasan dan sentuhan manusia pada setiap keputusan penting untuk menjaga akurasi, kepatuhan, dan tata kelola yang baik. Bagi Prudential Indonesia, Pradeep mengatakan penerapan AI bukan semata-mata tentang biaya teknologi, melainkan merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan pengalaman nasabah, memperkuat keamanan dan perlindungan data, serta meningkatkan efisiensi operasional. "Fokus kami bukan hanya pada adopsi teknologi, tetapi juga memastikan bahwa investasi tersebut memberikan nilai nyata bagi nasabah, mitra bisnis, dan organisasi secara berkelanjutan," ungkapnya. Adapun Prudential Indonesia telah membayarkan klaim kepada nasabah dengan total nilai Rp 16 triliun pada 2025. Pradeep menerangkan perlindungan bukan hanya tentang janji yang diberikan saat membeli polis, melainkan juga tentang komitmen yang diwujudkan saat nasabah membutuhkannya.
Baca Juga: Prudential Dorong Transformasi Asuransi Kesehatan Berbasis AI Dari perspektif OJK, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menjelaskan pemanfaatan AI merupakan bagian dari transformasi digital yang dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas layanan industri perasuransian. Meski demikian, dia menyebut penerapan AI harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan didukung tata kelola yang baik dan penerapan manajemen risiko memadai. "Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa risiko yang timbul dari penggunaan AI, seperti risiko operasional, siber, model (model risk), pelindungan data pribadi, serta bias algoritma, telah diidentifikasi, diukur, dipantau, dan dikendalikan secara efektif," katanya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Selasa (28/7/2026).
Ogi menyampaikan penggunaan AI juga tidak menghilangkan tanggung jawab direksi dan manajemen perusahaan dalam memastikan bahwa setiap keputusan yang dihasilkan tetap dapat dipertanggungjawabkan, transparan, adil, dan tidak merugikan konsumen. Sementara itu, Ogi memandang bahwa penerapan AI harus sejalan dengan prinsip kehati-hatian (prudential principle). Dengan demikian, inovasi teknologi tidak mengorbankan kualitas pengelolaan risiko maupun pelindungan konsumen. Ke depannya, OJK mendukung pemanfaatan AI sebagai salah satu pendorong inovasi dan peningkatan daya saing industri perasuransian.
Baca Juga: Prudential Siapkan Strategi Tekan Dampak Inflasi Medis pada Asuransi Kesehatan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News