KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor pertambangan mineral dan batubara (minerba) sedang menghadapi tantangan dari sisi ketidakpastian pasar akibat dinamika geopolitik global serta lonjakan biaya operasional. Menghadapi situasi ini, PT Andalan Artha Primanusa menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga tren pertumbuhan kinerja. Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa, Gahari Christine mengungkapkan bahwa kondisi saat ini mendorong para pelaku industri untuk adaptif dalam menjaga keseimbangan antara proses transisi dan bisnis, serta menjaga produktivitas tambang. Di tengah kompleksitas saat ini, Andalan Artha Primanusa ingin memperkuat posisinya sebagai kontraktor jasa pertambangan (
mining services) yang andal dan relevan. Guna mencapai target tersebut, Andalan Artha Primanusa mengusung sejumlah strategi.
Pertama, investasi strategis pada peremajaan armada baru. Menurut Gahari, strategi ini terbukti mampu meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar.
Baca Juga: Danantara Jamin BUMN Ekspor Jamin Kontrak Jangka Pangan, Tapi Bakal Evaluasi Harga Kedua, menerapkan pendekatan selektif dalam memilih kontrak baru. Pendekatan ini merupakan langkah strategis dalam menjaga kualitas portofolio bisnis dan memastikan keberlanjutan bisnis secara sehat. Gahari menjelaskan, hasil dari strategi efisiensi dan keunggulan operasional ini telah tercermin pada kinerja finansial Andalan Artha Primanusa. Pada tahun 2025, Andalan Artha mampu meningkatkan performa margin Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) di angka 39%, dengan nilai sebesar Rp 145,4 miliar. Gahari mengklaim, Andalan Artha mampu mencapai rekam jejak profitabilitas yang solid ini di tengah tantangan kondisi force majeure serta cuaca ekstrem yang membayangi industri. “Fokus kami ke depan adalah menjaga komitmen pertumbuhan yang solid dan terukur ini demi memberikan nilai jangka panjang yang optimal bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Gahari melalui rilis yang disiarkan pada Kamis (21/5/2026). Dengan dukungan dari kepastian volume beragam kontrak yang sedang berjalan, Andalan Artha menetapkan target pertumbuhan tahunan majemuk atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) cukup ambisius hingga 2028. Pendapatan Andalan Artha diproyeksikan meningkat dengan CAGR sebesar 28%, dari target Rp 949,6 miliar pada 2026 menjadi Rp 1,41 triliun pada 2027. Selanjutnya pada tahun 2028, Andalan Artha membidik pendapatan bisa tembus Rp 1,55 triliun. Selaras dengan proyeksi tersebut, Andalan Artha mengejar pertumbuhan EBITDA dengan level CAGR 21% hingga mencapai Rp 514,2 miliar pada 2028. Pada periode yang sama, target laba bersih melonjak dengan CAGR 31%, mencapai Rp 223,9 miliar. "Andalan menempatkan operational excellence sebagai fondasi utama dalam memastikan efisiensi, reliability, dan kualitas eksekusi yang konsisten di setiap lini operasi," imbuh Gahari. Andalan Artha menerapkan model layanan end-to-end mining services melalui sistem operasional terpadu yang mencakup perencanaan, eksekusi presisi, hingga evaluasi secara berkala. Solusi terstruktur ini terintegrasi dari tahapan awal eksplorasi, aktivitas inti produksi, hingga tanggung jawab reklamasi pasca-tambang. Menurut Gahari, model operasional Andalan Artha telah teruji melalui pengalaman lintas wilayah di berbagai proyek multi-site dengan karakteristik geografis yang beragam. Andalan Artha juga telah melakukan diversifikasi strategis ke industri nikel setelah meraih Letter of Award (LoA) dari PT Position (Grup Harum Energy) untuk proyek di Halmahera Timur, Maluku Utara.
Di tengah situasi industri yang fluktuatif seperti saat ini, Gahari menyoroti bahwa pemilihan mitra kerja yang kapabel menjadi kunci bagi kelangsungan bisnis Gahari pun optimistis Andalan Artha dapat merealisasikan proyeksi pertumbuhan usaha secara konsisten dan akuntabel, melalui kepastian volume kontrak yang berjalan dan investasi armada secara strategis. “Melalui pilar operational excellence, investasi armada yang tepat, serta kedisiplinan dalam pemilihan kontrak, Andalan berkomitmen untuk terus berdiri sebagai mitra strategis yang mengawal stabilitas operasional dan mendukung keberlanjutan rantai pasok industri pertambangan di Indonesia,” tandas Gahari.
Baca Juga: Industri Tekstil Tertekan Pelemahan Rupiah, APSyFI Usulkan Kebijakan Ini Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News