KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT PP Tbk (PTPP) mencatatkan raihan nilai kontrak baru sebesar Rp 8,42 triliun per Juni 2026.
Corporate Secretary PTPP Joko Raharjo menjelaskan, berdasarkan sumber pendanaan, komposisi perolehan kontrak baru PTPP terdiri dari 73% proyek pemerintah, 15% proyek swasta, dan 12% proyek BUMN. “Dari sisi segmentasi, kontribusi terbesar berasal dari Jalan & Jembatan 31%, Tanggap Darurat 21%, Smelter & Pertambangan 18%, Rumah Sakit 12%, Gedung 11%, Pelabuhan 3%, Sumber daya Air 2%, dan Infrastruktur Air 1%,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga: IHSG Melemah 0,39% ke 6.315 pada Sesi I Rabu (22/7), AMMN, TLKM, KLBF Top Losers LQ45 Di sisi lain, laba bersih PTPP juga melonjak di tengah penurunan pendapatan sepanjang Januari-Juni 2026. PTPP mengantongi pendapatan usaha sebesar Rp 5,95 triliun per kuartal II 2026. Ini turun 11,2% dari Rp 6,7 triliun di periode sama tahun lalu. Beban pokok pendapatan tercatat Rp 5,19 triliun per kuartal II 2026, turun dari Rp 5,78 triliun per kuartal II 2025. Laba kotor pun turun 17,5% secara tahunan alias
year on year (YoY) ke Rp 760,76 miliar, dari sebelumnya Rp 922,13 miliar. Pada periode ini, PTPP mengantongi selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan sebesar Rp 51,10 miliar. Sebelumnya, pos ini tercatat Rp 3,91 miliar per Juni 2025. Alhasil, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih menjadi Rp 193,46 miliar per semester I 2026. Ini naik 196,5% YoY dari Rp 65,24 miliar per semester I 2025. Joko mengatakan, laba komprehensif tahun berjalan PTPP di periode ini sebesar Rp68,4 miliar, naik 24% YoY. “Kenaikan laba komprehensif disebabkan oleh kenaikan penghasilan komprehensif lain yang diatribusikan pemilik entitas induk yang naik sebesar 264,2% secara YoY menjadi Rp247,6 miliar,” katanya. Menurut Joko, PTPP memasang sejumlah strategi dalam memperkuat kinerja secara keberlanjutan di tahun 2026. Pertama, fokus pada bisnis inti konstruksi (
back to core) serta melakukan divestasi pada aset-aset tertentu. Kedua, penguatan arus kas operasional melalui percepatan pencairan piutang usaha guna menjaga
cashflow. Ketiga, partisipasi aktif dalam berbagai peluang proyek strategis, termasuk proyek pemerintah, BUMN, dan sektor swasta yang prospektif. “Terakhir, penerapan prinsip kehati-hatian dalam pemilihan proyek dan pengelolaan portofolio dengan mengedepankan manajemen risiko,” paparnya.
Baca Juga: Barito Renewables Energy (BREN) Dapat Pinjaman US$ 300 Juta dari Bangkok Bank Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News