PTPN I Targetkan Optimalisasi 10.000 Ha Lahan untuk Budidaya Jagung pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I menargetkan optimalisasi lahan seluas 10.000 hektare (ha) untuk budidaya jagung pada 2026.

Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan, lahan yang digunakan merupakan aset perusahaan yang tengah memasuki masa persiapan replanting tanaman keras sehingga dapat dimanfaatkan untuk tanaman semusim (jagung). 

"10.000 hektare harus menjadi 10.000 hektare produktif. Artinya, lahan yang ditanami harus menghasilkan. Kita mau panen jagung, bukan hanya panen luasan," kata Rivai dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026).


Baca Juga: Pendanaan Startup di Indonesia Masih Prospektif, Tapi Investor Bakal Lebih Selektif

Rivai menjelaskan, optimalisasi lahan tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah mitra strategis yang akan memanfaatkan lahan PTPN I untuk budidaya jagung pada musim rendeng 2026.

Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan dan energi nasional dengan mengoptimalkan sumber daya pertanian yang dimiliki perusahaan.

"Kami punya lahan, pemerintah butuh komoditas pangan untuk menjaga stabilitas nasional. Maka kolaborasi ini terjadi. Ini bukan bisnis murni, tetapi lebih sebagai upaya sistematis untuk kemandirian pangan dan energi nasional," lanjut Rivai.

Rivai menyebut, pengembangan jagung memiliki peran strategis karena komoditas ini tidak hanya menjadi bahan pangan, tetapi juga menjadi bahan baku utama industri peternakan, khususnya pakan ternak.

Dengan meningkatnya produksi jagung, menurut dia, sektor peternakan juga dapat semakin diperkuat untuk mendukung ketahanan protein hewani nasional.

Selain meningkatkan produksi, PTPN I juga mendorong agar pengelolaan lahan jagung dapat membentuk rantai agribisnis dari hulu hingga hilir. Hal ini mencakup penyediaan benih, sarana produksi, penerapan teknologi budidaya, pengelolaan pascapanen, hingga kepastian pasar.

"Pengelolaan lahan tidak berhenti pada kegiatan budidaya, tetapi diarahkan untuk membangun rantai agribisnis dari hulu hingga hilir," kata Rivai.

Untuk memastikan target tersebut tercapai, PTPN I menekankan pentingnya pengawalan program secara terukur, mulai dari kesiapan lahan, target produktivitas, volume produksi, hingga penyerapan hasil panen.

"Target 10.000 hektare pada tahun 2026 tentu bukan target yang kecil. Untuk mewujudkannya diperlukan kecepatan, disiplin, tata kelola, teknologi, dan eksekusi yang kuat," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Bisnis PTPN III (Persero) Ryanto Wisnuardi menambahkan, optimalisasi lahan PTPN I juga berkaitan dengan agenda hilirisasi yang tengah dikembangkan perusahaan.

Ia melihat, pengembangan komoditas pertanian ke depan berfokus pada produksi bahan mentah sekaligus menciptakan produk turunan yang memiliki nilai tambah.

"PTPN I memiliki target hilirisasi hingga 15.000 hektare serta sejumlah potensi pengembangan energi berbasis hasil pertanian dan perkebunan," katanya.

Adapun salah satu peluang hilirisasi yang dikembangkan adalah pemanfaatan hasil pertanian untuk energi melalui PT Enero yang memiliki kapasitas produksi bioetanol sebesar 30.000 kiloliter per tahun.

Pengembangan tersebut rencananya akan diarahkan di sejumlah wilayah, seperti Lampung dan Sumatera Selatan, serta terbuka untuk dikembangkan di Jawa Barat.

Baca Juga: Tech Winter Masih Berlanjut, Pendanaan Startup Makin Selektif

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News