Punya Banyak Keterbatasan, Negeri Ini Mampu Menjadi Kiblat Masyarakat Digital



KONTAN.CO.ID - TALLINN/JAKARTA. Rencana peluncuran River memantik perselisihan di antara para pemegang saham perusahaan teknologi raksasa, Daghouse. Ulle Dag Charles (UDC), sang pendiri sekaligus pemegang saham terbesar perusahaan bersikeras merilis aplikasi yang disebut-sebut memiliki efek disrupsi. Sedang pemegang saham lain menolak peluncuran River. 

Perpecahan ini berujung ke siasat jahat.  Untuk mencegah River beredar, para pemegang saham Daghouse mengontak Jackal untuk mengakhiri hidup UDC. Eksekusi pun direncanakan berlangsung di sebuah event penting di jagad digital dunia yang akan dihadiri UDC di Tallinn.

Demikian bagian dari plot miniseries The Day of Jackal, produksi tahun 2024. Bahwa film ini memilih Tallinn sebagai lokasi event yang akan dihadiri oleh UDC, karakter yang digambarkan sebagai tech mogul, menggambarkan kuatnya image Estonia sebagai negeri digital.  Tallinn, yang memiliki arti literal sebagai kota yang dihuni orang-orang Denmark, Tallinn adalah ibukota Estonia. Negeri yang dalam satu dekade terakhir, disebut-sebut sebagai rumah bagi masyarakat digital paling maju di dunia.


Reputasi itu muncul dari perencanaan dan eksekusi yang matang selama kurang lebih 32 tahun. Hanya dua tahun setelah memperoleh kedaulatannya kembali dari Uni Soviet, Pemerintah Estonia menyusun prinsip-prinsip kebijakan informasi Estonia. Ini kemudian diikuti penyusunan rencana strategis pengembangan informasi teknologi, yang mendapat pengesahan Parlemen Estonia pada tahun 1994.

Tak sulit untuk memahami mengapa para pemimpin Estonia saat itu berkomitmen untuk serius menggarap pembangunan informasi teknologi. “Digitaliasi merupakan strategi untuk bertahan hidup,” tutur Johanna-Kadri Kuusk, Digital Transformation Adviser di e-Estonia Briefing Centre saat menemui wartawan Indonesia yang mengunjungi Estonia pada pekan kedua April lalu.

Kuusk merujuk ke berbagai keterbatasan yang melingkupi Estonia. Mengutip Estonia: Look and Behold, negeri itu hanya seluas 45.335 km persegi. Sebagai pembanding, Provinsi Jawa Timur menempati lahan yang masih lebih luas, yakni lebih dari 48.000 km persegi. 

Jumlah penduduknya juga tidak banyak, di kisaran 1,37 juta. Untuk ilustrasi, Papua, yang terbilang provinsi dengan jumlah penduduk terendah di Indonesia saat ini, memiliki populasi  1,1 juta orang.  Keterbatasan Estonia semakin lengkap dengan absennya sumber daya alam yang bernilai dalam jumlah besar.

Bagi Estonia, teknologi informasi menyediakan jalan untuk maju. Dan melihat apa yang terjadi saat ini, penduduk Estonia layak berbesar hati. Mereka tak cuma memilih jalan yang tepat, tapi lebih penting lagi serius menyusuri jalan tersebut.

Estonia kini menjadi negara dengan infrastruktur data publik paling oke. Negeri itu menempati peringkat kedua dalam e-Government Survey 2024, survei yang digelar PBB terhadap 193 negara anggotanya. Survei itu mengukur seberapa luas pemanfaatan digital dalam pemerintahan. 

Tak cuma dalam pengelolaan dana publik, Estonia juga terbilang maju dalam memanfaatkan digital sebagai industri. Jika diukur berdasarkan per kapita penduduk, Estonia punya jumlah startup digital terbanyak di Uni Eropa. Skype tentu layak disebut sebagai kisah sukses startup asal Estonia yang paling terkenal. Di masa kini, startup asal Estonia yang sudah mendunia seperti aplikasi keuangan Wise dan aplikasi ride hailing Bolt.