Punya Daya Tahan Terhadap Rotasi Sektor, Simak Rekomendasi Saham Emiten Holding Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Situasi makro ekonomi dan industri yang bergerak dinamis membawa rotasi sektor di pasar saham. Emiten holding yang punya diversifikasi bisnis dinilai lebih tahan banting dalam menghadapi rotasi di tingkat industri maupun pergeseran  sektor saham unggulan.

Analis Saham Rakyat by Samuel Sekuritas, Billy Halomoan mengamati telah terjadi rotasi sektor yang cukup signifikan di pasar saham hingga awal semester kedua ini.  Sepanjang semester I-2023, sektor energi yang paling jagoan di tahun lalu berbalik mencatatkan kinerja terburuk, diikuti oleh sektor barang baku yang banyak dihuni oleh emiten tambang mineral.

Harga komoditas dan energi fosil yang menukik membawa efek negatif, di samping terjadi aksi profit taking terutama pada saham-saham energi. Namun memasuki semester II-2023 ini, ada momentum saham sektor energi dan barang baku bangkit kembali.


Baca Juga: Pemerintah Berpeluang Pacu Hilirisasi Nikel Jika Jadi Pengendali Vale Indonesia

Sementara itu, ada sektor saham yang relatif konsisten bergerak di zona hijau yakni transportasi dan barang konsumsi primer. Sedangkan sektor consumer non-primer mulai melejit pada kuartal kedua hingga awal semester kedua.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menimpali, rotasi sektor semakin rentan terjadi di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian. Katalis dari masing-masing sektor industri menjadi faktor yang krusial.

Nico mengamati potensi sektor teknologi yang bisa terpapar rotasi di tengah tren penurunan inflasi dan ruang kenaikan suku bunga yang semakin terbatas. Hal ini juga bisa membawa angin segar untuk mengembuskan rotasi ke sektor properti.

"Rotasi sektor pasti akan terjadi untuk menyesuaikan situasi yang ada dan portofolio yang dimiliki oleh investor. Hal ini menjadi dinamis, sehingga pelaku pasar harus beradaptasi," kata Nico saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (20/7).

Pengamat Pasar Modal dan Founder WH-Project William Hartanto sepakat rotasi sektor bergerak dinamis. Artinya, rotasi sejatinya tidak dibatasi oleh periode tertentu. Melainkan dipicu oleh dinamika dari masing-masing industri maupun secara teknikal saat terjadi jenuh beli atau jenuh jual.

William mencontohkan emiten consumer goods yang meski punya prospek bisnis apik, tapi tren pergerakan sahamnya sedang rawan menurun. Begitu juga dengan saham otomotif yang mulai jenuh beli dan potensi koreksi pada saham emiten ritel.

Daya Tahan Emiten Holding

Di tengah rotasi yang dinamis, Nico melihat diversifikasi bisnis menjadi faktor krusial dan katalis penting bagi pergerakan saham emiten.  "Diversifikasi ini yang akan saling melengkapi, ketika ada sektor yang turun, akan ada sektor yang naik, sehingga mampu meredam atau menjaga kinerja," imbuhnya.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian menimpali dalam hal ini emiten holding akan lebih tahan banting. Terutama holding yang punya diversifikasi bisnis lintas industri, apalagi dengan fundamental apik dan market share yang besar.

Dengan diversifikasi bisnis yang kuat, emiten bisa lebih cepat mengambil peluang dari pergeseran momentum industri. Sehingga kinerja keuangan tetap stabil, bahkan bisa terjaga untuk terus tumbuh.

Pada semester II-2023, Fajar mengamati rotasi sektor juga akan didorong oleh musim kampanye di tahun politik. Momentum ini akan meniupkan angin segar bagi sektor barang konsumsi primer maupun non-primer, serta sektor keuangan.

Baca Juga: BUMN Holding Pertambangan MIND ID Buka Peluang Anak Muda Duduki Jabatan Strategis

Billy menambahkan, tahun politik akan ikut memoles prospek bisnis dan saham emiten media. Dus, emiten holding yang punya market share besar di industri media yakni PT Global Mediacom Tbk (BMTR) dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) menjadi saham yang layak dikoleksi.

Meski begitu, Billy menilai PT Astra International Tbk (ASII) masih menjadi emiten holding yang paling prospektif. Stabilitas kinerja ASII ditopang oleh bisnis yang terdiversifikasi di bidang otomotif, pertambangan, agrikultur hingga keuangan. 

Berbeda dari saham ASII, EMTK dan BMTR yang berpotensi naik, Billy melihat saham emiten holding lainnya masih akan terkonsolidasi pada semester II. Meliputi PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR), PT Multipolar Tbk (MLPL), PT Dosni Roha Indonesia Tbk (ZBRA) dan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).

Fajar turut menilai ASII masih jadi emiten holding paling menarik. hanya saja secara teknikal Fajar menyarankan wait and see terlebih dulu. Sedangkan William merekomendasikan buy saham ASII, BMTR dan EMTK. Kemudian hold saham SRTG, BNBR, dan PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi