Punya prospek jangka panjang, simak rekomendasi analis untuk saham telekomunikasi



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Persaingan di bisnis menara telekomunikasi kian ketat. Anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yakni PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) mendapatkan pengalihan menara telekomunikasi sebanyak 4.000 unit dari anak usaha Telkom lainnya, yakni PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel).

Sementara itu, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melalui anak usahanya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) juga berencana mengambil alih sekurang-kurangnya 90% dari modal ditempatkan dan disetor PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR).

Analis Panin Sekuritas, Restu Pamungkas, menilai, saham-saham industri telekomunikasi sangat menarik untuk dikoleksi jangka panjang, sebab saham-saham di sektor ini memiliki prospek fundamental ke depannya menjanjikan.


“Sebagai catatan, sektor menara, mempunyai nilai kontrak pendapatan jangka panjang yang tidak dapat dibatalkan, sehingga hal ini menjadi langkah positif untuk menjaga kinerja ke depannya,” terang Restu kepada Kontan.co.id, Senin (6/9).

Baca Juga: TOWR akuisisi SUPR, ini empat perusahaan penguasa menara telekomunikasi di Indonesia

Menyoal transaksi pengalihan menara dari Telkomsel ke Mitratel, Restu berpandangan bahwa transaksi tersebut akan berimplikasi positif baik kepada Mitratel sendiri, Telkomsel, maupun TLKM sebab transaksi ini akan membuat masing-masing perusahaan untuk berfokus pada inti bisnisnya. 

Pada sisi Telkomsel, transaksi ini bisa membuat Telkomsel lebih fokus dalam mengembangkan atau bahkan memperkuat transformasi digitalnya. Selain itu, pengeluaran Telkomsel juga akan menjadi lebih efisien ke depannya.

“Kalau dari mitratel sendiri, dengan kepemilikan lebih dari 28 ribu menara, tentunya nilai revenue mitratel akan meningkat, dan dapat lebih ekspansif ke depannya dalam menambah jumlah tenant-nya,” sambung Restu.

Di lain pihak, transaksi akuisisi SUPR oleh anak usaha TOWR juga bisa meningkatkan kinerja TOWR ke depannya. TOWR sendiri menurut catatan Restu masih memiliki neraca yang sangat kuat. Restu mencatat, nilai net debt/EBITDA TOWR masih berada di kisaran 2,8x. 

Baca Juga: Pengamat: Aksi akuisisi di bisnis menara telekomunikasi masih bisa berlanjut

Angka tersebut masih sangat rendah dibanding kompetitor lainnya  menurut catatan Restu. Dengan kondisi yang demikian, TOWR masih memiliki ruang untuk memperoleh pendanaan dan pinjaman.

Dengan melihat perkembangan yang ada, Restu melihat TOWR dan TLKM sebagai saham yang menarik untuk dikoleksi.

“Kalau dari kami, saham yang menarik ada di TOWR dan TLKM. Dari kondisi fundamental kedua saham tersebut paling solid. TLKM target harga di 4.000 (implied EV (Enterprise Value)/EBITDA di level 4,0x), TOWR target harga di 1.520 (implied EV/EBITDA di level 14,8x,” kata Restu.

Selanjutnya: Merah, harga saham TOWR melemah 0,36% pada sesi pertama bursa Senin (6/9)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli