KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pupuk Indonesia (Persero) berencana meningkatkan kapasitas produksi pupuk NPK menjadi 5,9 juta ton per tahun pada 2030. Namun, ekspansi tersebut juga akan meningkatkan kebutuhan impor bahan baku fosfat dan kalium yang hingga kini belum dapat dipenuhi dari sumber domestik. SVP Corporate Strategic PT Pupuk Indonesia Dade Senjayawijaya mengatakan, kapasitas produksi NPK perusahaan saat ini mencapai sekitar 4,6 juta ton per tahun. Perusahaan menargetkan penambahan kapasitas sekitar 1,3 juta ton dalam lima tahun ke depan. Seiring dengan ekspansi tersebut, kebutuhan impor fosfat diproyeksikan meningkat dari 1,8 juta ton menjadi 2,3 juta ton. Sementara kebutuhan kalium diperkirakan bertambah sekitar 400.000 ton dari posisi saat ini sekitar 1,4 juta ton.
"Untuk Pupuk Indonesia saja, kami tidak memiliki tambang fosfat dan kalium. Ini yang menjadi tantangan karena kami sangat bergantung terhadap impor," ujar Dade dalam pemaparan Minerba Convex 2026 pada Selasa (3/11/2026).
Baca Juga: Pasokan Batubara Seret, SIG Kehilangan Potensi Produksi Semen 1,7 Juta Ton Menurut dia, ketergantungan terhadap impor membuat industri pupuk nasional rentan terhadap perubahan harga komoditas dan dinamika geopolitik global. Hal tersebut dikarenakan sumber pasokan fosfat dan kalium terkonsentrasi di sejumlah negara. Untuk fosfat, Pupuk Indonesia selama ini mengandalkan pasokan dari kawasan Timur Tengah dan Afrika, seperti Yordania, Maroko, dan Mesir. Adapun kalium banyak diperoleh dari Kanada, Rusia, Belarusia, serta Laos. Dade mengatakan, kondisi geopolitik dapat memengaruhi kelancaran rantai pasok bahan baku pupuk. Salah satunya berkaitan dengan perdagangan melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting pengiriman sejumlah komoditas dari kawasan Timur Tengah. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Pupuk Indonesia menyiapkan strategi pengamanan bahan baku melalui diversifikasi sumber pasokan dan penjajakan kerja sama dengan perusahaan tambang di luar negeri. Pupuk Indonesia membuka peluang kerja sama melalui skema antarpemerintah (government to government/G2G) maupun antarbisnis (business to business/B2B) untuk memperoleh akses terhadap sumber bahan baku fosfat dan kalium. Langkah tersebut dinilai penting mengingat sejumlah produsen pupuk global telah memiliki tambang bahan baku sendiri. Sementara itu, Pupuk Indonesia masih harus mengandalkan pasar internasional untuk memenuhi kebutuhan kedua mineral tersebut. Di sisi lain, Pupuk Indonesia juga berencana mendekatkan fasilitas produksi NPK dengan sentra pertanian melalui pengembangan fasilitas manufaktur di sejumlah wilayah. Selain tantangan bahan baku mineral, keberlanjutan industri pupuk nasional juga bergantung pada ketersediaan gas bumi. Pasalnya, gas alam menjadi bahan baku utama dalam produksi amonia yang selanjutnya digunakan untuk menghasilkan pupuk urea.
Baca Juga: Bos Freeport Indonesia Bicara soal Rencana Perluasan Ekspor Satu Pintu DSI Dade menyebut, kebutuhan gas bumi Pupuk Indonesia mencapai sekitar 880 BBTUD per hari. Selain itu, perusahaan menggunakan sekitar 1,5 juta ton batubara per tahun untuk mendukung operasional boiler di sejumlah pabrik. Dia menilai kepastian pasokan gas domestik penting untuk menjaga keberlanjutan produksi pupuk nasional. Karena itu, Pupuk Indonesia mendukung pemanfaatan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News