Pupuk Indonesia Pastikan Pasokan Pupuk Nasional Aman di Tengah Gejolak Timur Tengah



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan pasokan pupuk nasional tetap terjaga meski terjadi gejolak geopolitik di Timur Tengah.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira menyatakan, perusahaan memiliki kapasitas produksi dan cadangan stok bahan baku yang memadai untuk memastikan keberlanjutan pasokan bagi petani.

“Kami berkomitmen menjalankan mandat pemerintah untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pupuk. Petani bisa terus menanam tanpa khawatir soal pasokan pupuk,” ujar Yehezkiel, Senin (16/3/2026).


Baca Juga: Apindo: WFH Tak Bisa Diterapkan ke Semua Sektor, Ini Alasannya

Saat ini, kapasitas produksi Pupuk Indonesia Grup mencapai 14,8 juta ton per tahun untuk berbagai jenis pupuk, menjadikannya produsen pupuk terbesar ketujuh di dunia.

Khusus pupuk urea, Pupuk Indonesia mampu memenuhi seluruh kebutuhan domestik, dengan bahan baku utama berupa gas bumi yang bersumber dari dalam negeri.

Meski konflik di Selat Hormuz berpotensi mengganggu distribusi urea global, kondisi ini tidak berdampak langsung pada pasokan pupuk nasional.

Diversifikasi Sumber Bahan Baku

Pupuk Indonesia juga mengamankan rantai pasok melalui diversifikasi bahan baku strategis yang harus diimpor, seperti fosfat (P) dan kalium (K) untuk pupuk NPK.

Fosfat diperoleh dari negara-negara Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair, sementara kalium berasal dari Kanada dan Laos—di luar wilayah konflik Timur Tengah.

Baca Juga: Tiket.com: Bus Jadi Alternatif Perjalanan Jelang Lebaran 2026

Bahan baku sulfur (S), yang digunakan untuk memproduksi asam sulfat pendukung pembuatan NPK, sebagian diperoleh dari UAE, Qatar, dan Kuwait.

Risiko gangguan pasokan relatif bisa dimitigasi karena sulfur juga tersedia dari Kanada dan Kazakhstan, serta sebagian dapat dipenuhi dari sumber domestik.

Selain diversifikasi, manajemen stok bahan baku diperkuat untuk menjaga ketersediaan fosfat, kalium, sulfur, dan asam sulfat pada tingkat optimal.

Langkah ini juga menjadi antisipasi terhadap kenaikan biaya logistik akibat melonjaknya harga minyak dunia.

Optimalisasi Operasional

Dari sisi operasional, Pupuk Indonesia meningkatkan efisiensi energi dan penggunaan bahan baku melalui program revitalisasi industri sesuai Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025.

Baca Juga: SiCepat Raih Sertifikasi Halal Logistik, Perkuat Dukungan Distribusi Industri Halal

Program ini mencakup pembangunan pabrik baru dan peremajaan 7 pabrik dalam lima tahun ke depan, yang memungkinkan optimalisasi kapasitas produksi sekaligus efisiensi bahan baku.

Yehezkiel menegaskan, kombinasi kapasitas produksi yang kuat, diversifikasi bahan baku, manajemen stok, dan program revitalisasi membuat Pupuk Indonesia yakin bisa menjaga stabilitas pasokan pupuk nasional.

“Fokus utama kami tetap memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi dengan optimal,” tutup Yehezkiel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News