Puradelta (DMAS) Andalkan Bisnis Data Center, 75% Permintaan Lahan dari Sektor Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) masih akan terus fokus melakukan penjualan lahan untuk mendukung tren industri data center hingga 2027.

DMAS merupakan pengembang kawasan terpadu Kota Deltamas, yang berlokasi di Cikarang Pusat, dengan luas area pengembangan mencapai sekitar 3.200 hektar.

Infrastruktur yang dikembangkan DMAS mendukung self-sustained integrated township, terdiri atas area industri, hunian, dan komersial.


Baca Juga: BEI Perketat Seleksi IPO, Penolakan Calon Emiten Capai 60%

Pada beberapa tahun terakhir, DMAS telah mengembangkan sebuah zona industri baru dengan luas sekitar 300 hektare yang dinamakan Zona Data Center. 

Sudah bergabung kurang lebih 16 tenant data center, baik dari lokal maupun internasional, yang keseluruhannya merupakan data center tier 4.

Department Head of Investor Relations & Corporate Sustainability DMAS, Esther Meilia Natanael menjelaskan, fasilitas data center yang ada di kawasan Deltamas cukup premium.

Pertama, pasokan listrik yang saat ini sampai dengan 1000 megavolt ampere. Energi listrik di kawasan Deltamas yang berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) ini terbagi menjadi dua, yaitu batubara dan Renewable Energy (REC).

Kedua, instalasi fiber optic yang bisa di-subscribe sampai dengan 12 ISP yang berbeda.

Ketiga, ketersediaan air, baik air bersih, air daur ulang, hingga limbah cair. DMAS juga memiliki internal water management di kawasan tersebut yang terdiri dari Water Treatment Plant, Wastewater Treatment Plant, dan Recycle Water Treatment Plant.

Saat ini Deltamas punya kapasitas air sekitar 40.000 meter kubik dan akan merampungkan plant dengan total 60.000 meter kubik.

Baca Juga: Deretan Emiten Ini Gelar Buyback, Seberapa Efektif Angkat Kinerja Saham?

“Kami juga sudah menyelesaikan recycle water sejumlah kapasitas 8.000 meter kubik. Ini bagus untuk data center karena tenant butuh zero recycle untuk mendukung keberlanjutan,” paparnya.

Terakhir, sistem keamanan terintegrasi dan komprehensif yang sudah beroperasi sejak sekitar dua tahun lalu. 

“Ini bertugas untuk memberikan keamanan dan pengawasan di area sekitar Deltamas, khususnya area data center, serta penggunaan AI untuk pengaturan lalu lintas di Deltamas” katanya.

Tingginya minat industri data center juga tercermin dari total permintaan lahan industri di Kota Deltamas yang telah mencapai sekitar 85 hektare hingga pertengahan 2026.

Sekitar 75% dari permintaan tersebut berasal dari pelaku industri data center. “Mengenai negara (asal investor), ada dari Asia, AS, dan domestik,” tuturnya.

Dalam waktu dekat, perusahaan mengaku belum berencana melakukan akuisisi lahan dalam waktu dekat meskipun cadangannya mulai menipis. 

Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS, Tondy Suwanto mengatakan, hal itu lantaran proses penambahan landbank tidak mudah.

Meskipun begitu, bukan berarti DMAS sepenuhnya tak berencana melakukan akuisisi lahan. Apalagi, permintaan lahan industri untuk fasilitas data center juga masih sangat tinggi. 

Baca Juga: Rupiah Masih Tertekan, Berpotensi Tembus Rp 18.050 di Pekan Depan

Dengan menipisnya cadangan lahan yang menjadi tantangan DMAS, perusahaan terus berupaya untuk memenuhi permintaan dari calon pembeli lahan.

Ini juga mengingat cadangan kas dan setara kas perusahaan sebesar Rp 2,08 triliun per Juni 2026. Selain itu, DMAS saat ini juga tidak sedang memiliki pinjaman finansial.

“Kesempatan itu sedang kita usahakan agar dapat direalisasikan, tetapi kelihatannya belum ada aksi korporasi mengenai landbank dalam waktu dekat,” ungkapnya.

Rencana penambahan landbank, jika nanti dilakukan di kemudian hari, diakui akan dimulai dari lahan di sekitar kawasan Kota Deltamas. Alasannya, agar lebih mudah untuk menyambung konektivitas listrik dan internet, serta jaringan air bersih, air limbah, dan air recycle.

“Jika ada lahan industri yang prospektif dengan lahan minimal 500 hektar, maka perusahaan akan mengusahakan untuk akuisisi,” katanya.

Selain itu, DMAS pun mengaku masih memiliki cadangan lahan lain, seperti kawasan komersial.

”JIka memungkinkan, (penyedia) data center juga dapat membeli lahan tersebut. Sehingga, masih tersedia kesempatan yang sangat luas bagi data center untuk masuk ke DMAS,” ujarnya.

Dalam hitungan budget perusahaan, pendapatan berulang alias recurring income bisa mencapai sekitar Rp 300 miliar - Rp 400 miliar per tahun. Jumlah tersebut dinilai cukup, meskipun tetap ada ruang bagi perusahaan untuk menambah porsi cadangan recurring income.

Baca Juga: Deretan Emiten Ini Gelar Buyback, Seberapa Efektif Angkat Kinerja Saham?

“Tiap tahunnya, recurring income Puradelta meningkat sebesar 25%-30%,” katanya.

Di sisi lain, DMAS juga terus berkomitmen untuk membagi dividen sebesar 30% dari laba bersih. Sebagai gambaran, dividend payout ratio (DPR) mencapai sekitar 100%.

Tondy bilang, pihaknya pun masih optimistis dengan sektor properti kawasan industri hingga tahun 2027.

Suku bunga Bank Indonesia (BI) yang masih tinggi dinilai merupakan tantangan yang lebih nyata untuk sektor properti residensial, bukan kawasan industri.

Selain itu, volatilitas rupiah dianggap sebagai peluang lantaran pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) justru menarik investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia.

“Melemahnya rupiah bagi investor asing malah menjadi lebih murah. Jadi kami melihat bahwa outlook untuk kawasan industri sangat prospektif dan optimistis,” paparnya.

Dengan prospek yang cukup cerah, DMAS pun berencana menaikkan target marketing sales di tahun 2026. Sayangnya, Tondy belum menyebutkan angka pasti target baru marketing sales DMAS di tahun ini maupun di tahun 2027.

Namun sebagai gambaran, target marketing sales DMAS sebesar Rp 2,08 triliun di tahun 2026. Per semester I 2026, marketing sales DMAS sebesar Rp 1,15 triliun, setara dengan 55% dari target tahun ini.

“Kami melihat sektor data center masih sangat prospektif hingga 2027,” paparnya.

Baca Juga: BEI Jajaki Kerja Sama dengan Bursa Asia Tenggara hingga Arab Saudi

Per semester I 2026, pendapatan usaha DMAS naik hampir tiga kali lipat menjadi Rp 1,8 triliun dari posisi semester I-2025 yang senilai Rp 613,36 miliar. 

Laba bersih DMAS terdongkrak menjadi Rp1,19 triliun pada semester pertama tahun 2026, atau naik 175,34% dibanding tahun 2025 yang sebesar Rp 433,02 miliar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News