Puradelta (DMAS) Punya Inquiry Lahan 85 Ha Data Center, Landbank Industri 60 Ha



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) melihat permintaan lahan untuk pusat data (data center) masih kuat. Kondisi ini mendorong pengembang kawasan industri Kota Deltamas tersebut untuk menyiapkan tambahan lahan industri guna menangkap peluang dari ekspansi sektor data center.

Analis Indo Premier Sekuritas Aurelia Barus dalam riset 8 September 2026 mengatakan, DMAS saat ini memiliki sekitar 85 hektare (ha) lahan yang masih dalam tahap inquiry, terutama berasal dari calon penyewa di sektor data center.

"DMAS saat ini memiliki 85 ha land inquiries, terutama dari sektor data center, yang berasal dari sekitar 5–6 klien. Permintaan tersebut berasal dari penyewa baru maupun penyewa eksisting yang ingin melakukan ekspansi," ujar Aurelia dalam riset.


Baca Juga: PP (PTPP) Teken MRA dengan 4 Bank Kreditur, Ini Detailnya

Permintaan tersebut cukup besar dibandingkan dengan ketersediaan lahan industri DMAS. Hingga semester I-2026, perusahaan ini hanya memiliki sekitar 60 ha lahan industri yang tersedia.

Di sisi lain, DMAS masih menguasai lahan komersial sekitar 357 ha dan lahan residensial sekitar 164 ha. Manajemen pun mulai mengonversi sebagian lahan tersebut menjadi lahan industri sejak akhir 2025, meski luas lahan yang dialihkan belum diungkapkan.

Menurut Aurelia, langkah tersebut menjadi sinyal positif karena memungkinkan DMAS memenuhi permintaan dari calon maupun penyewa eksisting sekaligus mengantisipasi kebutuhan lahan industri di masa mendatang.

Prospek ekspansi data center di kawasan DMAS juga didukung oleh ketersediaan pasokan listrik. Saat ini, klaster data center DMAS telah mencakup area lebih dari 300 ha.

Pengembangan data center ke depan bahkan berpotensi meluas ke luar klaster yang sudah ada. Di kawasan tersebut, PLN telah menyediakan pasokan listrik sekitar 1 gigawatt (GW) untuk kebutuhan data center.

Namun, pemanfaatannya baru sekitar 25%. Saat ini baru sekitar 5–6 pemain data center yang telah beroperasi dari total 15–16 penyewa.

Aurelia mengatakan, berdasarkan diskusi dengan manajemen DMAS, tambahan pasokan listrik diperkirakan akan tersedia seiring dengan meningkatnya permintaan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat menopang pertumbuhan permintaan lahan data center di kawasan DMAS.

Baca Juga: Ekspansi HEAL Jadi Penopang, Tekanan Margin Masih Membayangi

Kuatnya permintaan data center telah tercermin dalam kinerja prapenjualan (marketing sales) lahan DMAS. Pada semester I-2026, marketing sales lahan mencapai Rp 1,15 triliun, melonjak 99% secara tahunan.

Realisasi tersebut setara dengan 55% dari target marketing sales DMAS sepanjang 2026 yang dipatok sebesar Rp 2,1 triliun. Dari total tersebut, lahan yang terjual mencapai sekitar 19 ha dan terutama didorong oleh permintaan dari sektor data center.

Harga permintaan (asking price) lahan juga terus meningkat. Per Juli 2026, harga lahan untuk data center dan industri lainnya masing-masing mencapai sekitar Rp 4,6 juta dan Rp 3,8 juta per meter persegi.

Harga tersebut masing-masing naik 23% dan 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan harga ini mencerminkan permintaan lahan yang semakin kuat.

Meski demikian, keputusan mengubah lahan komersial dan residensial menjadi lahan industri berpotensi menekan nilai aset bersih (net asset value/NAV) DMAS. Pasalnya, harga lahan industri saat ini sekitar 43% lebih rendah dibandingkan lahan komersial dan sekitar 34% lebih rendah dibandingkan lahan residensial.

Namun, Aurelia menilai dampak tersebut dapat dikompensasi oleh percepatan monetisasi lahan.

"Kami melihat konversi lahan tambahan menjadi lahan industri secara positif karena dapat mempercepat monetisasi landbank," kata dia.

Selain mempercepat penjualan, monetisasi lahan juga membuka peluang pembagian dividen yang lebih besar. Secara historis, DMAS kerap membagikan dividen khusus setelah mencatat land sales dalam jumlah besar pada tahun sebelumnya.

Baca Juga: IHSG Anjlok ke 6.492 Pukul 09.30 WIB, Jumat (11/9), CPIN, CUAN, JPFA Top Losers LQ45

Dari sisi keuangan, DMAS memiliki kas sekitar Rp 2,1 triliun dan tidak memiliki utang. Perusahaan ini juga memiliki rekam jejak rasio pembayaran dividen yang tinggi, yakni sekitar 48% hingga 204% pada periode 2019–2026.

Dengan kondisi tersebut, Indo Premier Sekuritas melihat adanya peluang peningkatan dividen DMAS seiring dengan percepatan penjualan lahan.

Di pasar saham, DMAS saat ini diperdagangkan dengan diskon sekitar 66% terhadap NAV dan pada valuasi 1,3 kali price to book value (P/BV) berdasarkan estimasi 2026.

Indo Premier Sekuritas tidak memberi rating atas saham DMAS. Namun menurut konsensus Bloomberg saham DMAS ditargetkan di Rp 167,67 per saham. Ada tiga analis yang mengkaver saham DMAS. Dua diantaranya menyarankan hold dan satu analis menyarankan sell. 

Hagra saham DMAS turun 2,59% berada di Rp 188 per saham pada pukul 10.33 WIB, Jumat (11/9/2026). 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News