KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) diproyeksikan masih prospektif pasca merevisi target prapendapatan alias presales pada tahun 2026. DMAS meraih prapenjualan sebesar Rp2,61 triliun pada periode sembilan bulan pertama tahun 2026. Raihan tersebut sudah mencapai 125,91% dari target awal 2026 yaitu Rp2,08 triliun. Dengan adanya revisi kenaikan target baru 2026 sebesar Rp2,95 triliun, maka raihan pra-penjualan sebesar Rp2,61 triliun tersebut sudah mencapai 88,57%.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat 0,28% ke Rp 17.992 Selasa (20/10), Akhiri Pelemahan Empat Hari Tondy Suwanto, Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS mengatakan, perseroan memutuskan untuk menaikkan target presales sekitar 42% setelah mempertimbangkan pipeline serta mengevaluasi tren penjualan lahan industri sebagai kontributor utama, khususnya pada segmen data center hingga melewati paruh pertama tahun ini. Pada periode sembilan bulan pertama tahun 2026, penjualan lahan industri DMAS pun dikontribusikan oleh segmen data center. “Seiring dengan adanya lonjakan kebutuhan teknologi kecerdasan buatan (AI), dan memperhatikan kesiapan DMAS dalam menyediakan infrastruktur terbaik maupun fasilitas premium bagi para pemain data center kelas dunia, kami percaya permintaan lahan untuk data center masih terbuka lebar,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (19/10/2026). Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama mengatakan, langkah DMAS menaikkan target marketing sales 2026 bisa menjadi sinyal positif bahwa permintaan lahan industri masih cukup kuat, khususnya dari sektor data center. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat, raihan dan revisi presales DMAS cukup signifikan, sehingga menjadi katalis positif bagi prospek bisnis perseroan. Namun, investor tetap perlu mencermati realisasi penjualan lahan, penyelesaian transaksi, serta konversi marketing sales menjadi pendapatan dan laba. “Pencapaian target baru DMAS akan sangat bergantung pada kemampuan perseroan merealisasikan permintaan yang masuk menjadi transaksi konkret hingga akhir 2026,” ujarnya kepada Kontan, Senin (19/10/2026). Prospek DMAS hingga 2027 masih cukup positif, terutama karena kebutuhan lahan untuk data center terus meningkat dan kawasan GIIC memiliki infrastruktur yang mendukung. Selain data center, Kevin berpandangan, sektor barang konsumsi, makanan dan minuman, dan juga industri manufacturing lainnya juga memiliki potensi untuk mendukung penjualan lahan DMAS. Dibandingkan kinerja peers emiten kawasan industri lain, seperti SSIA, BEST, dan KIJA, DMAS memiliki posisi keuangan yang relatif kuat dan mencatat laba bersih semester I 2026 yang lebih besar. “Namun, tantangan utamanya adalah ketersediaan lahan industri, kebutuhan pengembangan kawasan, dan risiko penundaan investasi,” katanya. Senada, Nafan melihat bahwa prospek DMAS hingga akhir 2026 dan tahun 2027 dinilai relatif positif seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital, komputasi awan, dan kecerdasan buatan yang mendorong ekspansi pusat data. Sektor data center berpotensi tetap menjadi motor utama penjualan lahan DMAS, meskipun besarnya pipeline calon tenant perlu dibedakan dari transaksi yang sudah terealisasi. Diversifikasi tenant tersebut penting untuk menjaga kesinambungan penjualan lahan dan mengurangi ketergantungan terhadap satu sektor. “Peluang pertumbuhan turut didukung oleh kebutuhan ekspansi perusahaan domestik maupun asing yang mencari kawasan industri dengan infrastruktur memadai, akses logistik yang baik, serta kepastian pasokan listrik,” tuturnya. Nafan melihat, tantangan DMAS ke depan meliputi ketersediaan lahan siap jual, kebutuhan utilitas dan listrik yang besar dari tenant data center, persaingan antar kawasan industri, serta potensi perlambatan investasi akibat ketidakpastian ekonomi global. Oleh karena itu, DMAS berpeluang mempertahankan momentum pertumbuhan hingga 2027 apabila permintaan data center tetap kuat dan pipeline penjualan dapat direalisasikan. “Investor tetap perlu memperhatikan realisasi marketing sales, pertumbuhan pendapatan dan laba, serta valuasi saham agar prospek bisnis yang positif sejalan dengan potensi imbal hasil investasi,” ujarnya.
Kevin merekomendasikan trading buy untuk DMAS dengan target harga jangka pendek di kisaran Rp 179 - Rp 184 per saham. “Meski demikian, disarankan untuk berhati-hati mengingat kondisi market yang masih volatil,” kata Kevin.
Baca Juga: Puradelta Lestari (DMAS) Raih Prapenjualan Rp 2,61 Triliun per September 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News