KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Maret 2026 mencatat defisit sebesar Rp 240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pelebaran defisit ini terutama dipicu laju belanja negara yang meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, pendapatan negara baru mencapai Rp 574,9 triliun atau 18,2% dari target APBN 2026 sebesar Rp 3.153,6 triliun. Meski tumbuh 10,5% secara tahunan (
year on year/yoy), angka ini belum mampu mengimbangi lonjakan belanja negara yang mencapai Rp 815 triliun atau 21,2% dari pagu, dengan pertumbuhan tinggi 31,4% yoy.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan, pihaknya memang sengaja mempercepat belanja negara di awal tahun, sehingga terjadi pelebaran defisit APBN yang cepat.
Baca Juga: Purbaya Audit Penerima Restitusi Jumbo, Targetkan Dua Bulan Selesai “Ini sengaja kita lakukan. Saya ingin menciptakan kondisi di mana belanja pemerintah tumbuh hampir merata sepanjang tahun, jangan sampai menumpuk di akhir tahun seperti tahun-tahun sebelumnya sehingga dampak ekonominya tidak optimal. Jadi defisit yang membesar di awal adalah konsekuensi logis dari kebijakan ini,” tutur Purbaya dalam konferensi pers, Senin (6/4/2026). Ia menyebut, peruntukan belanjanya hampir merata, namun yang paling besar berasal dari BGN (Badan Gizi Nasional) karena anggarannya memang besar. Terkait kualitas belanja ke depan, ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan pemantauan. Jika terdapat belanja yang tidak tepat, pihaknya akan memberikan peringatan kepada kementerian atau lembaga terkait. “Jika diteruskan, kami bisa tidak membayarkannya. Langkah disiplin ini sudah kita lakukan sejak tahun 2025 sehingga belanja lebih terkontrol,” ungkapnya. Lebih lanjut, Purbaya membeberkan, sebelumnya pihaknya mengumumkan defisit APBN 2025 sebesar 2,91% dari PDB, namun terdapat indikasi bahwa realisasinya bisa lebih baik, yakni di kisaran 2,8% dari PDB. Saat ini, angka tersebut masih dalam proses audit oleh BPK. Ia menegaskan bahwa kondisi anggaran tidak seburuk yang diduga, dan dengan defisit yang tetap terjaga, pemerintah dapat mendorong pembalikan arah ekonomi. Purbaya juga menambahkan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV tahun lalu mencapai 5,39% dan kini diperkirakan bisa melampaui 5,5%. Dengan kondisi ekonomi dan pendapatan negara yang membaik, alokasi anggaran ke kementerian/lembaga juga dinilai dapat lebih konsisten.
“Kenapa bisa begitu? Karena kita menjaga
private sector (sektor swasta) untuk tumbuh lebih baik. Jangan hanya melihat dari sisi pemerintah, karena 90% pergerakan ekonomi ada di private sector,” jelasnya. Purbaya juga memastikan pihaknya akan memastikan kondisi investasi berjalan baik dengan melakukan
debottlenecking agar iklim investasi terus membaik. Selama sektor privat tumbuh dengan baik, ekonomi ke depan diperkirakan terus membaik.
Baca Juga: Harga Avtur Melonjak, Pemerintah Lakukan Penyesuaian Fuel Surcharge Hingga 38% Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News