Purbaya: Kebijakan WFH Satu Hari Bisa Efisien Bila Dtetapkan di Hari Jumat



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah berencana menerapkan kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam seminggu untuk menghemat Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional, di tengah gejolak perang di Timur Tengah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai, kebijakan WFH bisa efisien jika hari yang dipilih dilakukan secara cermat, misalnya pada hari Jumat yang merupakan hari terjepit. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara rinci besaran persentase penghematan tersebut karena dapat berubah-ubah tergantung harga minyak.

“Jadi pasti ada penghematan BBM. Berapa persen saya nggak tahu detailnya karena bisa berubah-ubah tergantung harga minyak,” tutur Purbaya saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jumat (27/3/2026).


Baca Juga: Arus Balik Lebaran, One Way Tahap 2 di To Trans Jawa Diberlakukan Bertahap

Di sisi lain, ia menambahkan dari segi produktivitas, kebijakan tersebut tidak harus diterapkan pada sektor seperti pabrik yang memerlukan operasional secara terus-menerus.

Selain itu, ia juga membeberkan kantor pelayanan publik tentunya harus tetap berjalan dan tidak ada sistem WFH.

“Jadi harusnya nggak masalah kalau cuma satu hari saja. Tidak (mengganggu) produktivitas kita total enggak akan terlalu terganggu,” ungkapnya.

Sebelumnya, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, memperkirakan kebijakan WFH berpotensi menghemat anggaran hingga Rp 9,67 triliun dalam setahun.

Berdasarkan hasil analisisnya, Ronny menyebut rata-rata konsumsi atau kebutuhan harian BBM nasional pada tahun 2025 mencapai 232.417 kilo liter (kl).

Sementara itu, pemerintah menargetkan penghematan BBM sebesar 20% dari penerapan kebijakan WFH.

Dengan asumsi tersebut, apabila WFH dilakukan satu hari dalam seminggu, maka penghematan BBM diperkirakan mencapai 46.483,4 kilo liter per hari.

Ronny menjelaskan, bila dalam setahun terdapat 52 minggu, maka kebijakan WFH sehari seminggu berpotensi menghemat BBM hingga 2.417.136,8 kilo liter per tahun.

Selanjutnya, asumsi penghematan fiskal dihitung berdasarkan selisih harga minyak pasar (US$ 100 per barel) dengan harga subsidi BBM seperti pertalite dan biosolar, yang diperkirakan sebesar Rp 4.000 per liter.

Dengan perhitungan tersebut, potensi penghematan anggaran pemerintah diproyeksikan mencapai Rp 9,67 triliun.

"Penghematan sebesar hampir Rp 10 triliun ini merupakan angka yang sangat krusial bagi pemerintah tahun 2026," jelas Ronny dalam analisis ISEAI yang dikutip Kontan, Kamis (26/3/2026).

Meski berpotensi mengurangi beban subsidi BBM, Ronny mengingatkan kebijakan WFH sehari seminggu juga dapat menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi, terutama pada sektor jasa dan perdagangan ritel.

Baca Juga: Arus Balik 2,3 Juta Kendaraan Masuk Jakarta Jumat (27/3), One Way Diberlakukan

Menurutnya, sektor transportasi berisiko menjadi pihak yang paling terdampak. Operator transportasi publik seperti MRT Jakarta sangat bergantung pada jumlah penumpang harian (ridership) yang tinggi pada hari kerja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News