Purbaya Tegaskan Subsidi BBM Tak Terlalu Terpengaruh Rupiah, Ini Biang Kerok Utamanya



KONTAN.CO.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan nilai tukar rupiah tidak memberikan dampak besar terhadap beban subsidi bahan bakar minyak (BBM). Menurutnya, faktor yang lebih dominan memengaruhi subsidi BBM justru berasal dari pergerakan harga minyak dunia.

Purbaya mengatakan pemerintah sudah mengantisipasi berbagai risiko tersebut dalam simulasi fiskal dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ia menjelaskan, asumsi harga minyak dunia dalam simulasi APBN telah ditetapkan pada level tinggi, yakni sekitar US$ 100 per barel secara rata-rata sepanjang tahun. Dengan asumsi itu, pemerintah tidak perlu melakukan perubahan besar pada postur anggaran meskipun rupiah mengalami tekanan.


"Dampak pelemahan rupiah relatif kecil terhadap subsidi BBM ya. Yang besar adalah harga minyak dunia," kata Purbaya dalam Konferensi Pers di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Baca Juga: Rupiah Tertekan, BI Bisa Naikkan Bunga! Ini Untung-Ruginya untuk Ekonomi

Selain itu, pemerintah juga telah melakukan langkah penghematan serta penyesuaian fiskal untuk menghadapi dinamika pasar saat ini. Termasuk, kata dia, pemerintah telah memperhitungkan pergerakan nilai tukar rupiah dalam simulasi APBN.

Purbaya pun optimistis tekanan terhadap rupiah tidak akan berlangsung lama. Ia melihat kondisi pasar obligasi mulai menunjukkan perbaikan, yang tercermin dari aliran dana asing yang mulai kembali masuk ke pasar domestik.

"Dana mulai masuk ke sini dan saya pikir ke depan akan lebih banyak yang masuk sehingga rupiah akan menguat," ujarnya.

Tonton: Merek Mobil China Baru Meramaikan Pasar EV Indonesia, BYD Respons Begini

Tabel: Faktor yang Memengaruhi Subsidi BBM Menurut Pemerintah

Faktor Pengaruh ke Subsidi BBM Penjelasan
Harga minyak dunia Sangat besar Kenaikan harga minyak langsung meningkatkan biaya pengadaan BBM
Nilai tukar rupiah Relatif kecil Dampak kurs sudah diperhitungkan dalam simulasi fiskal
Asumsi APBN Menjadi bantalan risiko Pemerintah memakai asumsi harga minyak tinggi (US$ 100/barel)
Arus dana asing Mempengaruhi stabilitas rupiah Inflow ke pasar obligasi berpotensi menguatkan rupiah
Kebijakan penghematan fiskal Menahan tekanan subsidi Pemerintah melakukan penyesuaian belanja dan mitigasi risiko
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News