KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan kredit perbankan dapat menembus di atas 20% jika
kondisi likuiditas sistem keuangan yang membaik. Hal ini utamanya didorong oleh pertumbuhan base money atau uang primer (M0) maupun penempatan Sisa Anggaran Lebih (SAL) di sistem perbankan. Purbaya mengatakan, pertumbuhan base money menjadi salah satu indikator yang menunjukkan kondisi likuiditas sistem keuangan saat ini cukup kuat.
Baca Juga: Aturan Penyeragaman Kemasan Rokok Berpotensi Picu Berbagai Permasalahan Baru "Juli kemarin sudah 18,3% itu base money-nya tumbuh. Saya yakin kalau nggak berubah banyak, akhir bulan Agustus juga mungkin sekarang 18%. Sekitar segitu," ujar Purbaya saat ditemui di DPR, Rabu (2/9/2026)
Purbaya juga mengungkapkan alasan dirinya lebih memilih menggunakan M0 untuk melihat kondisi likuiditas dibandingkan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) perbankan. Menurut Purbaya, rasio AL/DPK tidak selalu mencerminkan kondisi likuiditas perbankan secara keseluruhan. Ia bahkan menyebut indikator tersebut sebagai angka yang "semu". "Kan saya bilang AL/DPK itu semu. Kadang-kadang bagus terus, perbankannya kurang duit saja, nggak tahu kadang-kadang angka itu. Jadi saya nggak pakai itu, saya pakai angka yang lain, base money, M0, atau primary money. Itu biasanya selama ini cukup baik untuk menggambarkan keadaan likuiditas di sistem keuangan seluruhnya," katanya. ujar Purbaya. Dengan kondisi M0 yang tumbuh kuat, Purbaya melihat ruang untuk meningkatkan penyaluran kredit perbankan masih terbuka lebar. Menurutnya, pertumbuhan base money tersebut cukup untuk menciptakan ruang bagi ekspansi kredit perbankan hingga di atas 20%. "Itu cukup kalau ditahan terus ke depan, cukup menciptakan pertumbuhan kredit di atas 20%. Data terakhir kan kredit 13,58% (per Juli 2026)," katanya. Purbaya menilai kondisi likuiditas perbankan saat ini membaik dibandingkan periode sebelumnya. Perbaikan tersebut memberikan ruang bagi sektor perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit kepada dunia usaha. "Kredit meningkat dibanding sebelum-sebelumnya karena pengaruh likuiditas di sistem keuangan kita tadi," jelasnya.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan 500 Huntap dan Dana Rp 5 Miliar untuk Korban Gempa NTT Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah dan bank sentral untuk menjaga likuiditas tetap kondusif. "Jadi saya pikir dengan koordinasi lebih baik antara keuangan dengan bank sentral, ruang bagi kita untuk menciptakan kondisi likuiditas yang bagus untuk perbankan terbuka lebar," ungkap Purbaya.
Penempatan SAL Ikut Jaga Likuiditas
Selain pertumbuhan M0, penempatan dana SAL di sistem perbankan juga turut memberikan dampak positif terhadap likuiditas perbankan.
Purbaya menjelaskan, sebagian dana pemerintah ditempatkan di Bank Indonesia (BI), sementara sebagian lainnya ditempatkan di sistem perbankan. Penempatan tersebut merupakan bagian dari manajemen kas pemerintah. Menurutnya, kondisi tersebut secara tidak langsung memberikan tambahan likuiditas bagi perbankan. Namun, Purbaya menegaskan bahwa penempatan dana pemerintah tersebut bukan semata-mata ditujukan untuk memberikan stimulus kepada perbankan. "Kebetulan berdampak positif ke perbankan, jadi itu cuma kebetulan saja," katanya. Purbaya juga memastikan pemerintah tidak akan sembarangan menarik dana SAL yang telah ditempatkan di perbankan. Apabila pemerintah membutuhkan dana tersebut, penarikannya akan dikoordinasikan terlebih dahulu dengan bank sentral. "Yang memang kita mau dipakai nanti kita komunikasi dengan bank sentral. Sehingga yang tadi base money, itu nggak terganggu," tegasnya.
Baca Juga: Keracunan MBG di Sidoarjo Tembus 512 Orang, Komisi X DPR Minta BGN Perbaiki SOP Ia menambahkan, pemerintah tidak dapat menggunakan SAL begitu saja sebelum memperoleh persetujuan sesuai mekanisme yang ditetapkan. "SAL itu nggak dipakai sebelum dapat prosedur DPR," ujarnya. Purbaya menilai likuiditas yang lebih baik tidak hanya berdampak terhadap pertumbuhan kredit, tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan sektor swasta atau non-government.
"Artinya apa? Sektor non-government atau private sector itu bisa tumbuh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya," katanya. Menurutnya, peningkatan aktivitas sektor swasta tersebut pada akhirnya dapat memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia bahkan optimistis pertumbuhan ekonomi dapat berada signifikan di atas 6% jika kondisi tersebut terus terjaga. "Kalau pemerintahnya malas saja bisa tumbuh 6% ekonominya. Sekarang pemerintahnya rajin. Jadi akan signifikan di atas 6%," pungkas Purbaya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News