PUSHEP: Target Ekspor Nikel US$ 45 Miliar pada 2026 Tidak Mudah Dicapai



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan nilai ekspor nikel yang ditargetkan mencapai US$ 45 miliar tahun ini disebut memungkinkan dicapai, tetapi tidak mudah.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengarahkan target pendapatan ekspor nikel Indonesia mampu mencapai US$ 45 miliar tahun ini. Dengan target ini, pemerintah membidik ekspor nikel bertumbuh dari capaian tahun lalu sebesar US$ 40 miliar.

"Alhamdulillah nilai ekspor kita untuk di sektor mineral nikel saja pada tahun 2023 sudah mencapai US$ 34 miliar dan di tahun 2025 sudah lebih di angka US$ 40 miliar dan di tahun 2026 saya targetkan minimal di angka US$ 45 miliar," katanya dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD City, Rabu (14/10/2026).


Baca Juga: Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi Emas Periode II Oktober 2026 Turun 3,15%

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar mengatakan bahwa target yang ditetapkan tahun ini cukup menantang untuk dicapai.

"Target tersebut berat dan sangat menantang, tapi ya masih mungkin dicapai tetapi dengan upaya yang luar biasa," katanya kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).

Bisman menuturkan, kenaikan nilai ekspor yang dari US$ 40 miliar ke level US$ 45 miliar pada 2026 membutuhkan pertumbuhan sekitar 12,5%.

Dus, menurutnya pemerintah tak cukup hanya mengandalkan kenaikan harga, tetapi juga perlu menjaga volume produksi, tingkat utilisasi smelter, dan kelancaran ekspor produk hilir.

Pasalnya, Bisman menegaskan faktor penentu kenaikan pendapatan ekspor tidak tunggal, tak hanya harga komoditas.

"Nilai ekspor ditentukan oleh kombinasi harga jual, volume ekspor, serta komposisi produk yang diekspor," ujarnya.

Bisman mengingatkan, pemerintah juga perlu menakar sejumlah risiko ekspor nikel yang perlu diantisipasi.

Terutama, jika terjadi kelebihan pasokan komoditas ini secara global, pelemahan permintaan, volatilitas harga, hingga perubahan kebijakan produksi yang memengaruhi kepastian pasokan bijih bagi smelter.

"Oleh karena itu, strategi ekspor perlu diarahkan pada peningkatan efisiensi, diversifikasi produk hilir, dan penguatan daya saing agar tidak terlalu bergantung pada kenaikan harga komoditas," imbuhnya.

Namun demikian, Bisman menilai harga dan permintaan nikel hingga akhir tahun masih akan lebih baik, khususnya jika penurunan produksi memperketat stok di skala global.

"Prospek harga dan permintaan nikel global hingga akhir 2026 akan bagus. Harga nikel hingga akhir tahun berpeluang akan membaik, apalagi jika pemangkasan produksi benar memperketat pasokan global," tandas Bisman.

Baca Juga: Toyota Buka Peluang Produksi Avanza Hybrid di Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News