KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan pembicaraan yang sangat bermanfaat selama lebih dari tiga jam pada hari Sabtu (5/9) dengan dua utusan AS yang mengupayakan kesepakatan untuk mengakhiri perang Ukraina, kata seorang pejabat Kremlin, namun ia tidak memberikan indikasi adanya terobosan. Pejabat tersebut, Yuri Ushakov, mengatakan bahwa warga Amerika Steve Witkoff dan Jared Kushner memaparkan sejumlah gagasan mengenai kemungkinan jalan menuju penyelesaian. Ushakov tidak menyebutkan apa saja gagasan tersebut. Ia mengatakan Putin telah menyampaikan kepada keduanya bahwa Rusia sedang membuat kemajuan nyata di medan perang, yakin dapat mencapai tujuannya, dan menekankan perlunya menangani semua akar penyebab konflik.
Baca Juga: Minyak Brent Naik 7,6% Sepekan, Harga Diesel AS Cetak Rekor US$ 5,85 Semua ini adalah pernyataan yang telah berulang kali disampaikan Moskow selama perang berlangsung. Tidak ada komentar dari Witkoff dan Kushner, yang mengunjungi Moskow untuk pertama kalinya sejak Januari mewakili Presiden Donald Trump. Mereka meninggalkan Moskow tak lama setelah pembicaraan tersebut dan dijadwalkan bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy di Kyiv pada hari Minggu. "Pembicaraan tersebut melampaui sekadar pertukaran pandangan mengenai penyelesaian krisis Ukraina. Isu-isu ekonomi serta potensi proyek besar Rusia-Amerika yang saling menguntungkan dibahas secara cukup rinci," kata Ushakov. "Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa negosiasi tersebut berlangsung tepat waktu dan sangat bermanfaat bagi kedua belah pihak." Utusan investasi Putin, Kirill Dmitriev, kemudian menulis di X bahwa kunjungan tersebut merupakan kunjungan penting untuk mewujudkan perdamaian. Ia dan Ushakov sama-sama hadir dalam pertemuan itu.
Putin puji upaya Trump
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pada awal pembicaraan, Putin memuji upaya Trump untuk mengakhiri perang. Trump pada hari Jumat mengisyaratkan bahwa AS memiliki proposal baru yang bertujuan mengakhiri perang, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut. "Memahami bahwa ia memasuki situasi yang sulit, ia tetap tidak menghentikan upayanya untuk membantu mewujudkan penyelesaian dan memberikan kontribusi dalam mengatasi konflik Rusia-Ukraina," ujar Putin.
Baca Juga: Terjebak 10 Hari di Terowongan, Warga China Selamat dari Bencana Nepal Ia berjanji untuk menjamin keselamatan para negosiator AS. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, sebelumnya mengatakan bahwa Putin telah memerintahkan militer Rusia untuk tidak menyerang Kyiv selama tiga hari terkait perjalanan mereka tersebut. Selama 10 hari sebelumnya, Rusia terus-menerus menggempur ibu kota Ukraina siang dan malam dengan rudal dan pesawat nirawak (drone), termasuk serangan pada hari Jumat terhadap markas besar badan keamanan SBU. Ukraina telah melancarkan serangan yang merusak terhadap kilang minyak, terminal minyak, dan gudang pengecer daring Wildberries milik Rusia, dalam upaya meningkatkan biaya yang harus ditanggung Moskow untuk melanjutkan perang. Zelenskiy menyatakan bahwa Kyiv siap menahan diri untuk tidak menyerang Moskow hingga hari Senin.
Perbedaan posisi yang besar
Masih terdapat jurang pemisah yang lebar antara Rusia dan Ukraina mengenai cara mengakhiri perang tersebut, yang merupakan konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Sebuah sumber yang dekat dengan Kremlin, yang berbicara sebelum munculnya laporan mengenai kunjungan utusan Trump, mengatakan bahwa Putin masih bertekad untuk merebut lebih banyak wilayah. "Tidak ada peluang untuk mencapai kesepakatan mengenai garis depan sampai Putin berhasil menguasai sisa wilayah Donetsk," kata sumber tersebut kepada Reuters, seraya menambahkan bahwa pemimpin Kremlin itu yakin—berdasarkan laporan dari para komandannya—bahwa hal tersebut akan terwujud pada akhir tahun ini.
Para analis militer Barat menilai kemungkinan tersebut sangat kecil, mengingat lambatnya kemajuan yang dicapai Moskow. Ukraina menolak menyerahkan wilayah yang telah berhasil mereka pertahankan dengan pengorbanan besar, dan menganggap persyaratan semacam itu sama saja dengan menyerah. Kremlin menyatakan pada hari Jumat bahwa posisi yang disampaikan Putin dalam pidatonya dua tahun lalu—bahwa Ukraina harus menyerahkan seluruh wilayah dari empat daerah yang diklaim oleh Rusia serta membatalkan rencananya untuk bergabung dengan NATO—adalah posisi yang tidak dapat diganggu gugat. Sejak perundingan damai terakhir antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi AS pada bulan Februari, kedua belah pihak telah meningkatkan serangan udara jarak jauh jauh ke dalam wilayah lawan, sementara perang di laut juga semakin memanas.
Baca Juga: AS Serang Tiga Tanker Minyak Iran, Konflik Energi Timur Tengah Kian Memanas