Pyridam menyasar pasar Vietnam dan Myanmar



JAKARTA. Perusahaan farmasi PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) berencana memperkuat penjualan ekspor dengan membidik dua negara baru, yakni Vietnam dan Myanmar. Perusahaan ini mengincar pertumbuhan pendapatan ekspor 10% di tahun ini.

Namun, perusahaan  berkode PYFA di Bursa Efek Indonesia ini belum bisa memastikan kapan kedua pasar baru tersebut tertembus. "Dua negara yang akan kami jajaki itu baru tahap perizinan, kami belum tahu kapan selesainya," ungkap Sekretaris Perusahaan Pyridam Farma Steven A.A. Setiawan kepada KONTAN, Minggu (6/7).

Sepanjang 2013 pendapatan Pyridam dari penjualan ekspor mencapai Rp 578,89 juta. Itu berarti target pendapatan ekspor tahun ini adalah Rp 636,78 juta.


Perlu Anda ketahui, capaian pendapatan ekspor Pyridam di 2013 tersebut cuma setara dengan 0,3% terhadap total pendapatan Rp 192,56 miliar. Mayoritas pendapatan Pyridam tahun lalu masih berasal dari penjualan domestik yang berupa jasa maklun dan penjualan produk alat kesehatan. Sejauh ini tujuan ekspor obat-obatan Pyridam adalah Hong Kong dan Filipina.

Meski realisasi ekspor belum juga pasti, Pyridam sudah membekali diri dengan penambahan kapasitas produksi hingga 50% dibandingkan dengan tahun lalu. Alhasil, kapasitas produksi obat per tahun perusahaan ini menjadi 510 juta tablet, 102 juta kapsul, dan 3,5 juta botol.

Penambahan kapasitas produksi pabrik tersebut menghabiskan dana Rp 13 miliar. Ini adalah bagian dari total belanja modal tahun ini yang sebesar Rp 15 miliar.

Selain menambah kapasitas produksi, Pyridam juga mempersiapkan dua strategi bisnis lain. Pertama, memasarkan enam produk obat baru. Tahun lalu, perusahaan ini juga menambah produk baru sebanyak lima produk.

Kedua, Pyridam bekerjasama dengan Hankook Korus Pharm Co Ltd, perusahaan farmasi asal Korea Selatan, membangun pabrik biofarmasi dengan nilai investasi mencapai US$ 12 juta.

Pabrik baru ini akan menempati bangunan seluas 1.400 meter persegi (m²) di atas lahan seluas 8.000 m². Lokasinya di sebelah pabrik Pyridam di Cianjur, Jawa Barat. Perusahaan ini merancang pabrik barunya akan memproduksi erythropoietin (EPO), PEG Interferon Alfa-2b, dan human growth hormone.

Pyridam dan Hankook memprediksi butuh waktu dua tahun hingga tiga tahun ke depan untuk menyelesaikan pembangunan pabrik ini. "Saat ini masih tahap izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Mudah-mu-dahan tahun depan bisa mulai pembangunan fisik, sehingga pada 2018 sudah bisa berproduksi," beber Steven.

Aneka strategi Pyridam tersebut tak cuma demi mengejar pasar ekspor. Melainkan demi menunjang kinerja perusahaan ini secara keseluruhan. Tahun ini Pyridam mematok pertumbuhan pendapatan 12%, atau lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan industri farmasi 7%–8%. Kalau pendapatan Pyridam tahun lalu Rp 192,56 miliar, itu berarti tahun ini target pendapatannya  sekitar Rp 215,67 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anastasia Lilin Yuliantina