Qatar Ingin Perkuat Kerja Sama Pertahanan dengan AS Usai Serangan Iran



KONTAN.CO.ID - DOHA. Qatar ingin memperkuat kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat setelah serangan udara Iran yang menghantam wilayahnya. Hal ini disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, dalam konferensi pers pada Selasa (10/3).

Al Ansari menegaskan kemitraan keamanan antara Qatar dan Amerika Serikat tetap solid. Namun, ia menilai perjanjian pertahanan yang sudah ada dengan Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa perlu diperkuat untuk meningkatkan kemampuan pencegahan terhadap ancaman serangan.

“Kemitraan ini merupakan garis pertahanan utama sekaligus pencegah terhadap setiap serangan terhadap negara kami,” kata Al Ansari.


Baca Juga: Imbas Gangguan LNG Qatar, Harga Batubara Naik 7% ke US$ 138 Per Ton

Menurutnya, ketika konflik meningkat dan situasi di luar kendali, mekanisme pencegahan memang bisa gagal. Namun hal tersebut tidak berarti sistem pencegah tidak diperlukan.

“Justru kita harus memperkuatnya, dan itulah yang sedang kami upayakan saat ini,” ujarnya.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk penghasil minyak, termasuk Qatar. Serangan tersebut terjadi setelah operasi militer Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan sejumlah pemimpin tertinggi Iran.

Konflik yang meletus pada 28 Februari itu juga sempat mengganggu produksi energi di kawasan Teluk dan memicu lonjakan harga minyak dunia.

Qatar sendiri menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat terbesar di Timur Tengah, Al Udeid Air Base, yang turut menjadi sasaran serangan Iran selama konflik berlangsung.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Oktober lalu berjanji akan menganggap setiap serangan bersenjata terhadap Qatar sebagai ancaman langsung terhadap keamanan Amerika Serikat.

Baca Juga: Harga Gas Eropa dan Asia Meroket Hampir 50% Setelah Qatar Hentikan Produksi LNG

Sementara itu, Iran menegaskan akan membalas setiap serangan terhadap kepentingannya dengan menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah