Qatar menjual surat utang US$ 9 miliar



KONTAN.CO.ID - DOHA. Qatar butuh pendanaan besar untuk menyelamatkan anggaran akibat merosotnya harga minyak. Terbaru, Qatar kembali akan merilis obligasi global. Jumlahnya berkisar US$ 9 miliar, sama seperti yang telah diterbitkan pada tahun 2016 lalu.

Seperti diberitakan Bloomberg, Senin (9/10) mengutip seorang sumber, Pemerintah Qatar kini sedang berbicara dengan perbankan atas rencananya tersebut. Hal itu terpaksa dilakukan Qatar menyusul aksi boikot yang dilakukan negara tetangganya seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir.

Keempat negara tersebut memutuskan hubungan diplomatik dan rute transportasi dengan Qatar sejak 5 Juni 2017, kerena menuduh negara itu mendanai aksi terorisme. Sejak saat itu, perbankan di sejumlah negara Arab, memboikot dan menghentikan aliran dana ke Qatar.


Lantaran dikucilkan dari pergaulan regional, Qatar mengarahkan radarnya ke calon investor dari kawasan Asia lain, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Sejumlah kawasan itu menjadi target pencarian dana.

Namun sayang, Kementerian Keuangan dan Kementerian Komunikasi Qatar menolak memberikan komentar terkait kabar tersebut.

Sementara itu, Doug Bitcon selaku Kepala Strategis Kredit Rasmala Investment Bank Ltd. memprediksi, investor bakal tertarik membeli surat utang Qatar. "Semakin menarik jika Qatar bisa memberikan bunga yang cukup tinggi," tutur Bitcon seperti dikutip Bloomberg.

Jual aset

Asal tahu saja, boikot yang dimotori Arab Saudi, telah membebani ekonomi Qatar. Para ekonom pun lantas memprediksi laju pertumbuhan ekonomi Qatar berada dalam posisi yang terlemah sejak tahun 1995. Padahal, Qatar sedang mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Untuk membangun infrastruktur penunjang Piala Dunia tersebut, Qatar mengalokasikan dana hingga US$ 200 miliar.

Sejak mendapat boikot, Moody's Investor Service memperkirakan Pemerintah Qatar telah menggelontorkan dana sebanyak US$ 40 miliar, demi mendorong perekonomian dan sistem keuangan dalam negeri. Bahkan Qatar Investment Authority telah mengurangi portofolio investasinya di Credit Suisse Group AG, Rosneft PJSC dan Tiffany & Co.

Qatar kini juga tengah mempertimbangkan penjualan aset senilai US$ 320 miliar, yang mencakup kepemilikan saham di Glencore Plc dan Barclays Plc.

Qatar, sebagai negara pengekspor liquefied natural gas (gas alam cair), seperti juga negara pengekspor minyak lain di wilayah Arab, kini mengandalkan utang luar negeri untuk menopang anggaran.

Sebagai tambahan informasi, pekan lalu Abu Dhabi sukses mencetak penjualan obligasi sebesar US$ 10 miliar. Sebelumnya, Arab Saudi, berhasil merilis obligasi senilai US$ 12,5 miliar.

Editor: Rizki Caturini