KONTAN.CO.ID – DOHA. QatarEnergy memperkuat strategi perdagangan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dengan mengamankan pasokan jangka panjang dari Amerika Serikat (AS) dan produsen lainnya. Langkah ini ditujukan untuk menjaga pendapatan perusahaan apabila ekspor LNG melalui Selat Hormuz kembali terganggu pada masa mendatang. Chief Executive Officer (CEO) QatarEnergy Saad Sherida Al-Kaabi mengatakan, strategi tersebut dirancang untuk memanfaatkan potensi kenaikan harga gas global ketika jalur pelayaran strategis itu ditutup. “Dalam skenario ketika selat tersebut ditutup, yang merupakan kondisi darurat sesungguhnya yang ingin kami antisipasi, harga gas akan langsung melonjak dan QatarEnergy dapat menghasilkan pendapatan yang sebelumnya tidak akan diperoleh,” kata Kaabi, yang juga menjabat Menteri Negara Urusan Energi Qatar, kepada Reuters, Kamis (29/10/2026).
Pernyataan tersebut mengungkap untuk pertama kalinya bagaimana Qatar, salah satu produsen LNG terbesar di dunia, berupaya mengimbangi hilangnya pendapatan akibat perang Iran sekaligus melindungi pendapatan dari potensi gangguan di Selat Hormuz pada masa mendatang. Pada Kamis (29/10/2026), QatarEnergy menandatangani perjanjian pasokan selama 20 tahun untuk membeli 3 juta ton LNG per tahun atau million tonnes per annum (mtpa) dari fasilitas Woodside di AS.
Baca Juga: ECB Tahan Suku Bunga, Ada Sinyal Kenaikan pada Desember Pekan sebelumnya, perusahaan juga menandatangani dua perjanjian dengan Cheniere Energy untuk membeli LNG hingga 4 mtpa sampai 2054 dari fasilitas Sabine Pass dan Corpus Christi. Dengan demikian, total kontrak pasokan LNG yang diamankan QatarEnergy dalam dua pekan terakhir mencapai 7 mtpa. “Masih akan ada kesepakatan lainnya,” ujar Kaabi. Namun, pengiriman LNG dari Cheniere diperkirakan baru dimulai pada 2031.
Strategi perdagangan LNG QatarEnergy
Kaabi, yang ditunjuk sebagai CEO perusahaan energi milik negara tersebut pada 2014, mengatakan strategi ini merupakan gagasannya sendiri dan mulai dirancang sekitar tiga bulan lalu setelah QatarEnergy mempelajari sejumlah opsi pembangunan jaringan pipa, tetapi akhirnya mengesampingkannya. “Seperti yang telah kita lihat, jaringan pipa, stasiun pompa, maupun stasiun kompresor juga dapat menjadi sasaran serangan,” katanya. Strategi tersebut memanfaatkan keahlian QatarEnergy dalam bisnis LNG, operasi perdagangan, serta armada kapal pengangkut gas. Menurut Kaabi, pendekatan ini tidak membutuhkan belanja modal dan jauh lebih murah dibandingkan membangun jaringan pipa atau menambah fasilitas pencairan LNG. “Dalam kondisi normal, Anda akan memperoleh imbal hasil yang wajar. Sementara itu, dalam kondisi kritis—apa pun bentuknya dan berapa lama pun berlangsung—kini Anda sudah memiliki bukti nyata mengenai potensi keuntungan yang bisa diperoleh,” ujar Kaabi. QatarEnergy menghentikan produksi LNG pada awal Maret setelah Qatar mengalami serangan rudal Iran selama beberapa hari. Perusahaan kemudian menyatakan keadaan kahar atau force majeure kepada pembeli yang terdampak pada 4 Maret 2026. Qatar menyumbang sekitar seperlima dari ekspor LNG dunia. Seluruh ekspor LNG negara tersebut melewati Selat Hormuz. QatarEnergy telah memperpanjang status force majeure hingga akhir 2026.
Baca Juga: Ekonomi AS Tumbuh 3,4% pada Kuartal III 2026, Belanja Konsumen Jadi Penopang Kaabi mengatakan ketidakmampuan mengirimkan LNG dalam volume normal telah memberikan tekanan besar terhadap pendapatan perusahaan. Untuk menjalankan strategi tersebut, QatarEnergy mengandalkan armada sekitar 200 kapal tanker LNG yang merupakan armada terbesar di dunia. Perusahaan juga memanfaatkan QatarEnergy Trading, yang menurut Kaabi dalam waktu dekat akan menjadi platform perdagangan gas terbesar di dunia. “Dengan kemampuan arbitrase yang kami miliki, volume perdagangan, jumlah kapal, dan seluruh kapabilitas tersebut, itulah yang memungkinkan kami menjalankan strategi ini,” kata Kaabi. Strategi lindung nilai ini diterapkan di tengah perubahan pasar energi global setelah Iran merespons perang yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 dengan secara efektif menutup Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan titik strategis perdagangan energi dunia yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan LNG global. Kaabi mengatakan QatarEnergy dapat memperoleh keuntungan dari selisih harga gas yang lebih rendah di AS dan harga yang lebih tinggi di Eropa. “Anda bisa membayangkan keuntungan arbitrase yang dapat diperoleh, dan keuntungan tersebut akan mengganti sebagian kerugian,” ujarnya.
QatarEnergy siapkan lebih banyak kontrak LNG
Kaabi memperkirakan QatarEnergy akan menandatangani lebih banyak perjanjian pasokan jangka panjang dengan durasi 20 hingga 25 tahun bersama produsen di AS dan negara lain pada tahun ini. Target pembelian LNG perusahaan disebut jauh lebih tinggi dibandingkan 7 mtpa yang telah diamankan dalam dua pekan terakhir. Namun, Kaabi tidak mengungkapkan angka pasti target tersebut. Ia mengatakan QatarEnergy sedang melakukan pembicaraan dengan berbagai pemasok, termasuk Venture Global. Perusahaan akan memilih pemasok yang menawarkan persyaratan komersial paling menguntungkan. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa QatarEnergy sedang melakukan pembicaraan lanjutan dengan Venture Global untuk memasok 3 mtpa LNG. Kaabi menjelaskan QatarEnergy tidak dapat menawarkan pasokan LNG dari AS sebagai cadangan kepada pelanggan jangka panjang apabila terjadi gangguan di Selat Hormuz. Pasalnya, kontrak pelanggan jangka panjang menggunakan skema pengiriman langsung dari terminal ekspor tertentu ke tujuan yang telah ditetapkan.
Baca Juga: Microsoft Siapkan Obligasi Jumbo US$ 25 Miliar, Danai Ekspansi AI Meski demikian, ia mengatakan para pelanggan memahami gangguan yang sedang dihadapi perusahaan. Serangan rudal Iran terhadap fasilitas pengolahan gas utama QatarEnergy di Ras Laffan pada Maret merusak dua dari 14 unit produksi LNG atau train. Kerusakan tersebut berdampak terhadap kapasitas gabungan sebesar 12,8 mtpa dan menghilangkan sekitar 17% kapasitas ekspor LNG Qatar. QatarEnergy memperkirakan kerusakan itu mengakibatkan kehilangan potensi pendapatan sekitar US$ 20 miliar per tahun. Kaabi mengatakan perbaikan kedua unit produksi tersebut akan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Sementara itu, fasilitas Pearl gas-to-liquids (GTL), yang merupakan usaha patungan QatarEnergy dan Shell dan turut mengalami kerusakan akibat serangan tersebut, diperkirakan kembali beroperasi pada kuartal I-2027. Ia menambahkan Qatar dapat memulai kembali produksi LNG secara penuh dalam waktu satu pekan setelah kesepakatan perdamaian tercapai, dengan syarat kapal pengangkut tersedia. Namun, produksi hanya akan mencapai sekitar 83% dari tingkat sebelum perang hingga kedua unit produksi yang rusak selesai diperbaiki.
Baca Juga: Pasar Saham dan Obligasi Eropa Menguat, Investor Cermati Kebijakan ECB dan Belanja AI Ekspansi kapasitas LNG Qatar tetap berlanjut
Di tengah konflik dan kerusakan fasilitas produksi, Kaabi menegaskan tidak ada proyek yang telah diumumkan QatarEnergy yang dibatalkan.
Fasilitas Ras Laffan memiliki kapasitas produksi LNG sebesar 77 mtpa. Qatar juga tetap mempertahankan rencana peningkatan kapasitas produksi LNG menjadi 142 mtpa, dengan seluruh kontrak proyek telah diberikan kepada pihak terkait. Menurut Kaabi, proyek North Field East, North Field South, dan North Field West tetap berjalan sesuai rencana. Unit produksi pertama proyek North Field diperkirakan mulai beroperasi pada kuartal I-2027. Meski demikian, produksi tersebut tetap bergantung pada tercapainya kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran. Kaabi juga mengatakan dirinya telah bertemu dengan penjabat menteri perminyakan Iran sebanyak dua kali dalam beberapa pekan terakhir. Pertemuan itu dilakukan untuk menjajaki peluang kerja sama di sektor minyak dan gas setelah perang berakhir.