KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Radiant Utama Interinsco Tbk (
RUIS) mengincar kontrak di sektor minyak dan gas (migas) maupun non-migas dengan margin yang lebih tebal demi bisa mendongkrak perolehan laba. Secara pendapatan, pada tahun ini RUIS membidik pertumbuhan sekitar 5% dibandingkan realisasi 2025. Meski mengusung target yang cukup konservatif, tapi RUIS bisa mencapai level pertumbuhan yang lebih tinggi pada awal tahun ini. Pendapatan RUIS meningkat 11,90% secara tahunan atau
year on year (yoy) dari Rp 440,02 miliar menjadi Rp 492,40 miliar dalam tiga bulan pertama 2026. Jasa pendukung operasi menjadi sumber utama pendapatan RUIS dengan kontribusi sebesar Rp 361,31 miliar atau setara dengan 73,37% dari total pendapatan pada kuartal I-2026. Pendapatan RUIS dari jasa pendukung operasi mendaki 13,61% (yoy).
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Gelar Uji Emisi Gratis, Sasar 7.000 Kendaraan di Jabodetabek Pertumbuhan pendapatan RUIS juga terjadi di segmen bisnis lainnya. Pada kuartal I-2026, jasa inspeksi RUIS naik 8,69% (yoy) menjadi Rp 65,51 miliar. Jasa kegiatan lepas pantai meningkat 6,20% (yoy) ke Rp 65,38 miliar, serta pendapatan lain-lain tumbuh 14,49% (yoy) menjadi Rp 188,12 juta. Hanya saja, pada saat yang sama, beban langsung RUIS mengalami peningkatan 14,07% (yoy) menjadi Rp 444,49 miliar. Hasil ini membuat perolehan laba kotor RUIS menyusut 4,84% (yoy) dari Rp 50,35 miliar menjadi Rp 47,91 miliar. Secara
bottom line, RUIS meraih laba bersih sebesar Rp 3,18 miliar pada kuartal I-2026. Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk RUIS menurun 20,89% dibandingkan kuartal I-2025, yang kala itu tercatat sebesar Rp 4,02 miliar. Direktur Keuangan Radiant Utama Interinsco, Zaki Maulana mengungkapkan bahwa pada tahun 2026, RUIS menargetkan kinerja keuangan bisa tumbuh secara sehat. Manajemen RUIS optimistis laba bersih bisa mencapai pertumbuhan yang lebih baik daripada pendapatan yang pada tahun ini diproyeksikan tumbuh sekitar 5%.
Baca Juga: Ada Rencana Kenaikan Royalti Mineral, Pelaku Usaha Khawatir Investasi Terganggu Target ini sejalan dengan fokus RUIS pada peningkatan kualitas portofolio usaha, efisiensi biaya, dan penguatan margin. Zaki menjelaskan, strategi utama RUIS pada 2026 adalah melanjutkan penguatan bisnis yang memiliki nilai tambah dan margin yang lebih baik. RUIS secara bertahap mengarahkan fokus ke layanan
inspection, maintenance, engineering, dan
technical services. Strategi ini dijalankan sambil lebih selektif terhadap bisnis yang volumenya besar tetapi tingkat profitabilitasnya relatif lebih rendah. Dengan strategi ini, RUIS ingin memastikan pertumbuhan yang dicapai bukan hanya dari sisi
top line, tetapi juga lebih berkualitas dan berkelanjutan. "Perseroan juga akan menitikberatkan pada disiplin eksekusi proyek, pengendalian biaya, selektivitas dalam memperoleh kontrak baru, serta penguatan sinergi antar lini usaha. Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, profitabilitas, dan ketahanan usaha di tengah dinamika pasar yang masih cukup menantang," kata Zaki kepada Kontan.co.id, Senin (11/5/2026). RUIS memandang bahwa kebutuhan terhadap layanan penunjang operasi, keandalan aset, inspeksi,
maintenance, dan
engineering masih tetap terbuka di sektor migas. Di tengah situasi global yang masih dipengaruhi faktor geopolitik dan volatilitas rantai pasok energi, RUIS memilih untuk bersikap
prudent dengan memperkuat diversifikasi jasa, menjaga fleksibilitas operasional, dan menerapkan mitigasi risiko yang terukur. Dengan respons tersebut, RUIS berharap tetap dapat menangkap peluang pertumbuhan sekaligus menjaga resiliensi bisnis. Memasuki kuartal II-2026, Zaki menyatakan bahwa RUIS tetap aktif mengejar kontrak baru di sektor migas maupun non-migas. "Namun kami belum dapat menyampaikan detail tender yang sedang berjalan karena mempertimbangkan aspek kerahasiaan proses pengadaan. Fokus kami tetap selektif pada peluang yang memberikan kualitas margin lebih baik," ujar Zaki.
RUIS juga masih melihat prospek yang positif pada sektor non-migas, termasuk dari kelanjutan proyek panas bumi (geothermal) yang sudah diperoleh sejak 2025 dan berlanjut pada 2026. "Sehingga menjadi salah satu area pertumbuhan yang kami dorong ke depan," imbuh Zaki. Mengenai belanja modal atau
capital expenditure (capex), Zaki membeberkan bahwa realisasi tahun lalu mencapai sekitar Rp 30 miliar, yang terutama digunakan untuk investasi peralatan proyek. Untuk tahun 2026, strategi capex RUIS diarahkan lebih kepada penguatan bisnis inti. Zaki menggambarkan bahwa RUIS menyiapkan anggaran capex yang kurang lebih berada pada level yang sama dengan tahun lalu. "Fokus penggunaannya tetap diarahkan pada peremajaan dan pembaruan peralatan proyek, termasuk adopsi teknologi yang lebih mutakhir, agar operasional semakin efisien, andal, dan mampu mendukung kebutuhan proyek dengan standar yang semakin tinggi," tandas Zaki. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News