KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten migas yang terafiliasi dengan pengusaha Happy Hapsoro, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), bersiap kembali menggelar ekspansi secara agresif pada 2026. Dalam berita sebelumnya, RATU mencatat sekitar 20 blok migas yang masuk dalam pipeline untuk diakuisisi anak usaha PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tersebut. Tentu tidak seluruh blok migas tersebut akan diakuisisi oleh RATU, mengingat mereka masih melakukan kajian untuk menilai kesesuaian aset dengan strategi dan profil risiko. Pihak RAJA juga akan memprioritaskan untuk mengakuisisi blok migas yang sudah berada dalam tahap operasi atau produksi.
Prospek RATU
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, prospek kinerja RATU tergolong positif mengingat rencana akuisisi blok migas ini sangat strategis untuk menambah pendapatan berulang (recurring income). Keputusan RATU untuk fokus ke aset blok migas yang sudah beroperasi cukup masuk akal lantaran dapat meminimalisir risiko atas investasi untuk kegiatan eksplorasi. Sejauh ini, belum diketahui besaran capital expenditure (capex) yang disediakan oleh RATU untuk mengeksekusi agenda akuisisi blok migas pada 2026. Namun, RATU kemungkinan akan kesulitan jika hanya mengandalkan kas internal untuk membiayai akuisisi. "Opsi pendanaan kemungkinan lewat pinjaman bank atau rights issu dengan risiko utamanya adalah kenaikan cost of fund," ungkap dia, Senin (26/1/2026). Baca Juga: Harga Emas Tembus US$5.000, Saham ANTM hingga MDKA Melonjak Tajam Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan, tahun 2026 sebenarnya juga bisa menjadi fase konsolidasi bagi RATU. Pasalnya, emiten ini sudah aktif melakukan akuisisi blok migas sejak tahun lalu. Alhasil, mereka berpeluang menikmati dampak hasil akuisisinya mulai tahun ini. Selain itu, secara umum RATU memiliki posisi strategis sebagai salah satu pemegang hak partisipasi dari beberapa blok migas yang dioperasikan oleh perusahaan besar ExxonMobil dan PetroChina. Kemitraan dengan perusahaan tersebut tentu akan memperkuat stabilitas bisnis RATU. Namun, lantaran bukan menjadi operator utama, pertumbuhan kinerja RATU akan sangat bergantung dari kinerja operasional mitra-mitranya. "Ketergantungan ini menjadi risiko karena kendali operasional dan produksi berada di pihak mitra," imbuh dia, Senin (26/1).Rekomedasi Saham
Nafan menyarankan investor untuk wait and see saham RATU lantaran masih dalam kondisi downtrend sejak awal tahun ini. Di sisi lain, Wafi merekomendasikan trading buy saham RATU dengan target harga di level Rp 8.600 per saham. Sebagai catatan, harga saham RATU menyusut 27,41% year to date (ytd) ke level Rp 7.150 per saham hingga penutupan perdagangan Senin (26/1/2026). Baca Juga: Laba Indo Tambangraya (ITMG) Diprediksi Pulih pada 2026, Ini SebabnyaRATU Chart by TradingView