KONTAN.CO.ID - Fenomena mainan kolektibel atau designer toys telah bertransformasi dari sekadar hobi menjadi instrumen investasi yang menjanjikan bagi sebagian kalangan di Asia, termasuk Indonesia. Di balik meledaknya tren ini, terdapat sosok Wang Ning, pendiri sekaligus CEO Pop Mart, yang berhasil mengubah konsep belanja mainan menjadi pengalaman adiktif melalui strategi blind box. Keberhasilannya membawa perusahaan melantai di Bursa Efek Hong Kong pada tahun 2020 menjadi sinyal kuat bagi para investor mengenai besarnya potensi pasar ekonomi kreatif yang menyasar generasi milenial dan Gen Z.
Kapitalisasi Pasar dan Kekayaan Bersih Pendiri
Berdasarkan data yang dilansir dari Forbes, kekayaan bersih Wang Ning saat ini diperkirakan mencapai US$ 6,5 miliar atau sekitar Rp 109,76 triliun (kurs Rp 16.887 per Dolar AS). Angka ini mencerminkan dominasi Pop Mart di pasar mainan kolektibel global yang terus berekspansi meskipun kondisi ekonomi makro mengalami ketidakpastian. Pertumbuhan nilai perusahaan juga didorong oleh performa saham yang impresif di bursa. Investor melihat Pop Mart bukan sekadar produsen mainan, melainkan perusahaan hiburan berbasis teknologi dan seni. Mengutip laporan dari Business Insider, saham Pop Mart sempat mengalami kenaikan signifikan seiring dengan meningkatnya permintaan global, terutama untuk karakter seperti Labubu dan Molly yang menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan.Strategi Bisnis: Dari Ritel Hingga Ekosistem Digital
Keberhasilan Wang Ning sering kali dibandingkan dengan strategi perusahaan hiburan besar. Namun, keunikan Pop Mart terletak pada integrasi antara seni desain dan model bisnis ritel modern. Dikutip dari South China Morning Post (SCMP), Wang Ning mengawali kariernya dengan mengamati tren di toko-toko mainan di Hong Kong sebelum akhirnya memutuskan untuk memfokuskan bisnisnya pada kategori mainan seni yang memiliki margin keuntungan lebih tinggi dibandingkan mainan tradisional. Beberapa pilar utama yang mendasari pertumbuhan Pop Mart antara lain:- Sistem Blind Box: Menciptakan rasa penasaran bagi konsumen dan mendorong pembelian berulang untuk melengkapi koleksi.
- Manajemen Kekayaan Intelektual (IP): Mengakuisisi dan mengembangkan karakter unik melalui kolaborasi dengan seniman global seperti Kasing Lung (pencipta Labubu).
- Ekspansi Global yang Agresif: Membuka toko fisik dan mesin penjual otomatis (roboshops) di lokasi-lokasi strategis di seluruh dunia.
- Komunitas Penggemar: Memanfaatkan media sosial untuk menciptakan ekosistem di mana kolektor dapat bertukar informasi dan melakukan transaksi jual beli koleksi langka.