Raih Kinerja Positif, Begini Prospek Emiten Bahan Kimia di Semester II-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten-emiten produsen dan distributor bahan kimia menunjukkan perkembangan positif pada semester I-2026. Pulihnya permintaan di pasar menjadi salah satu faktor di balik hasil positif tersebut.

Salah satu emiten, yakni PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) mencatat kenaikan pendapatan 43,98% year on year (yoy) menjadi Rp 30,84 triliun pada semester I-2026. Dari situ, pendapatan perusahaan dari segmen perdagangan dan distribusi bahan kimia tumbuh 30,43% yoy menjadi Rp 4,50 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk AKRA juga tumbuh 21,19% yoy menjadi Rp 1,43 triliun.

Emiten lainnya, PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) membukukan kenaikan pendapatan sebesar 36% yoy menjadi US$ 186 juta pada semester I-2026. Pada saat yang sama, laba bersih ESSA juga meningkat 103% yoy menjadi US$ 30 juta.


Ada pula PT Lautan Luas Tbk (LTLS) yang meraup kenaikan pendapatan 21,09% yoy menjadi Rp 5,11 triliun pada semester I-2026. Bersamaan dengan itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk LTLS melesat 55,81% yoy menjadi Rp 124,49 miliar.

Baca Juga: Ada Rumor Akuisisi Oleh Haji Isam, Begini Respons Bayan Resources (BYAN)

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, terdapat tiga faktor utama di balik kinerja positif emiten-emiten bahan kimia. Pertama, harga komoditas kimia yang menguat, terutama amonia yang menguntungkan bagi ESSA akibat gangguan pasokan gas global.

Kedua, permintaan industri pengguna kimia yang mulai pulih pasca normalisasi manufaktur domestik turut berdampak positif bagi emiten produsen dan distributor bahan kimia.

Ketiga, model bisnis distribusi yang meneruskan penyesuaian harga memungkinkan emiten seperti AKRA dan LTLS mempertahankan margin di tengah skala operasional yang membesar.

Secara umum, prospek kinerja emiten-emiten bahan kimia tergolong positif pada sisa semester II-2026. Salah satu katalisnya berasal dari harga komoditas kimia yang masih berpeluang naik seiring ketidakpastian geopolitik global, permintaan industri yang pulih, hingga proyek hilirisasi seperti blue amonia dan Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang membuka ruang ekspansi bagi emiten.

"Sektor ini berpotensi tetap ekspansif didukung permintaan domestik yang solid," kata dia, Selasa (18/8/2026).

Meski begitu, kondisi kurs rupiah yang rentan terhadap pelemahan rupiah berpotensi mengerek biaya bahan baku impor bagi emiten bahan kimia. 

Baca Juga: Rupiah Melemah Menjadi Rp 17.862, Pasar Menanti Keputusan BI Rate

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, sektor ini berpeluang melanjutkan ekspansi, namun pertumbuhan laba kemungkinan tidak akan merata di seluruh emiten. 

Sentimen positif datang dari permintaan industri domestik terhadap bahan kimia masih berpotensi tumbuh. Asal tahu saja, Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap impor berbagai produk kimia dan petrokimia.

"Ini memberikan ruang bagi produsen dan distributor domestik untuk meningkatkan utilisasi kapasitas maupun memperluas market share," tutur dia, Selasa (18/8/2026).

Di samping itu, hilirisasi dan industrialisasi tetap menjadi katalis struktural bagi sektor bahan kimia. Pengembangan kawasan industri, manufaktur, pengolahan makanan, pupuk, pertambangan, hingga berbagai industri lainnya akan meningkatkan kebutuhan bahan kimia untuk menunjang produksi.

Tak ketinggalan, harga komoditas tertentu masih berpotensi memberikan potensi peningkatan pendapatan, khususnya bagi produsen yang memiliki eksposur terhadap amonia atau produk kimia yang harganya mengikuti pasar global. 

Meski begitu, volatilitas harga minyak, gas, dan bahan baku bisa menjadi tantangan tersendiri bagi emiten bahan kimia. Bagi produsen, kenaikan harga minyak, gas, atau nafta tidak selalu positif. 

"Kalau harga jual tidak bisa dinaikkan secepat kenaikan biaya input, margin justru tertekan," imbuhnya. 

 
AKRA Chart by TradingView

Emiten juga perlu mewaspadai risiko dari sisi modal kerja. Sebab, ketika harga komoditas naik, kebutuhan modal kerja juga meningkat lantaran nilai persediaan dan piutang ikut membesar.

Oleh karena itu, emiten produsen dan distributor bahan kimia perlu memperkuat cost leadership dan efisiensi produksi, memperkuat pengadaan dan lindung nilai (hedging), memperbanyak produk bernilai tambah, serta memperkuat kontrak jangka panjang dan diversifikasi pelanggan. 

Dari sekian emiten, Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham AKRA dengan target harga di level Rp 1.635 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News