KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum mendapat kenaikan peringkat korporasi menjadi idAA/Stable dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Sebelumnya, perusahaan yang merupakan bagian dari Grup MIND ID ini memiliki peringkat idAA-/Stable. Pefindo memberikan peringkat tersebut untuk periode 18 Agustus 2026 hingga 1 Juli 2027. Kenaikan peringkat satu tingkat ini menjadi modal bagi Inalum untuk memperkuat akses pendanaan di tengah rencana ekspansi bisnis. Direktur Utama Inalum Melati Sarnita mengatakan, perusahaan akan tetap menjaga disiplin investasi dan struktur pendanaan yang prudent seiring meningkatnya kebutuhan pendanaan untuk proyek-proyek strategis.
Baca Juga: Integra Indocabinet (WOOD) Optimistis Kinerja di Semester II-2026 Membaik "Di tengah agenda ekspansi perusahaan yang semakin besar, kami akan tetap mengedepankan disiplin investasi, memperkuat tata kelola, serta struktur pendanaan yang prudent," ujar Melati dalam keterangan resmi, Senin (31/8/2026). Adapun kebutuhan pendanaan Inalum diproyeksikan meningkat pada periode 2026-2029. Hal ini sejalan dengan pengembangan sejumlah proyek, terutama Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II dan Smelter Aluminium II. Meski kebutuhan investasi meningkat, Inalum menyatakan akan mengelola pendanaan secara terukur dan terdiversifikasi dengan tetap menjaga struktur permodalan, likuiditas, serta kemampuan menghasilkan arus kas. Kenaikan rating ini juga menjadi capaian positif setelah Pefindo mempertahankan peringkat INALUM di level idAA-/Stable selama dua periode sebelumnya, yakni pada 2024 dan 2025. Pefindo menilai profil Inalum turut ditopang oleh posisi strategis perusahaan dalam pengembangan rantai nilai aluminium nasional. Inalum saat ini mengembangkan integrasi rantai pasok dari bauksit hingga aluminium, antara lain melalui proyek SGAR Fase I dan II serta Smelter Aluminium II. Di sisi pasar, Inalum memiliki posisi kuat sebagai satu-satunya produsen aluminium primer hijau di Indonesia. Perusahaan juga menyebut permintaan aluminium masih memiliki prospek pertumbuhan, baik di pasar domestik maupun global. Dari sisi biaya, daya saing Inalum ditopang oleh cash cost yang berada di kuartil pertama kurva biaya global. Perusahaan juga memiliki basis pelanggan yang terdiversifikasi serta sumber energi dari pembangkit listrik tenaga air.
Baca Juga: YLKI Soroti Akurasi Data DTSEN dalam Pengetatan Subsidi LPG 3 Kg Melati menambahkan, kenaikan peringkat tersebut tidak hanya mencerminkan kondisi fundamental perusahaan saat ini, tetapi juga menjadi fondasi untuk menjalankan agenda pertumbuhan ke depan. "Kami ingin memastikan setiap langkah ekspansi perusahaan tidak hanya meningkatkan daya saing Inalum, tetapi menciptakan nilai perusahaan dalam jangka panjang sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap terwujudnya kemandirian industri aluminium nasional," katanya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News