Raih Untung Rp 7,92 Triliun, Berikut Capaian Kinerja Bumi Resources (BUMI) di 2022



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melompat tinggi sepanjang tahun lalu. Emiten batubara Grup Bakrie dan Grup Salim ini meraih laba bersih senilai US$ 525,27 juta, meroket 212,62% secara tahunan.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2021, BUMI membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 168,02 juta. Jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp 15.086 per dolar AS, maka BUMI mengantongi laba bersih senilai Rp 7,92 triliun pada tahun lalu.

Lompatan bottom line BUMI didorong oleh pendapatan yang melonjak 81,2% secara tahunan. Merujuk laporan keuangan yang diterbitkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), BUMI mengantongi pendapatan US$ 1,83 miliar pada 2022.


Raihan tersebut belum termasuk konsolidasi dari PT Kaltim Prima Coal (KPC). Apabila memakai metode konsolidasi penuh, maka pada tahun lalu BUMI meraih pendapatan sebesar US$ 8,53 miliar atau naik 57,4% secara tahunan.

Baca Juga: Laba Bumi Resources (BUMI) Melesat 213% pada 2022

Direktur & Corporate Secretary Bumi Resources, Dileep Srivastava, mengungkapkan pendapatan konsolidasi BUMI pada tahun lalu memecahkan rekor sebagai pendapatan tertinggi. Dengan perhitungan ini, laba neto BUMI pun melejit 138,18% menjadi US$ 1,16 miliar.

Laba neto tersebut terbagi ke dalam laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 525,3 juta dan kepentingan non-pengendali sebesar US$ 638,52 juta.

Dileep membeberkan sejumlah tantangan yang dihadapi pada tahun lalu. Mulai dari curah hujan yang tinggi sejak akhir 2021 hingga krisis energi yang diperburuk oleh perkembangan geopolitik dan kekhawatiran resesi.

Baca Juga: Bumi Resources (BUMI) Catatkan Rekor Pendapatan Sebesar US$ 8,52 Miliar pada 2022

Volume penjualan batubara BUMI mengalami penurunan sekitar 12% dari 79 juta ton pada 2021 menjadi 69,4 juta ton. Penjualan batubara BUMI berasal dari KPC sebanyak 48,2 juta ton dan Arutmin sebesar 21,2 juta ton. 

Meski volume penjualan menurun, namun harga batubara meroket sepanjang tahun lalu. Realisasi harga batubara BUMI sebesar US$ 121 per ton, melejit sekitar 80% dibandingkan US$ 67,4 per ton pada tahun sebelumnya.

Biaya produksi ikut meningkat seiring tingginya harga minyak dan ratio pengupasan (stripping ratio). BUMI menanggung biaya produksi US$ 46,9 per ton pada 2022, naik dibandingkan US$ 37,1 per ton pada 2021.

BUMI berhasil mendongkrak margin laba dari 20,5% menjadi 24,2%. Selain kinerja keuangan dan operasional, Dileep juga mengungkapkan progres pembayaran utang BUMI.

Baca Juga: Memburu Cuan dari Pergerakan Saham Lapis Kedua dan Ketiga

Utang yang belum dibayar telah dilunasi dengan konversi MCB atau Obligasi Wajib Konversi (OWK) menjadi saham serta penerbitan saham melalui PMTHMETD (private placement) senilai US$ 1,6 miliar pada 22 Oktober 2022. Dengan aksi ini, Grup Salim menjadi pemegang saham pengendali bersama Grup Bakrie.

"Perusahaan bebas utang dan akan mengeliminasi beban bunga di masa mendatang," tegas Dileep lewat keterangan tertulis, Rabu (29/3).

Lewat konversi dan penerbitan saham yang dilakukan, saham beredar BUMI pun meningkat pesat. Dari posisi 74,3 miliar di awal tahun menjadi 371,3 miliar per 31 Desember 2022.

Sebagai panduan pada tahun ini, BUMI menargetkan produksi batubara di kisaran 75 juta ton - 80 juta ton. Dengan estimasi harga US$ 100 per ton-US$ 105 per ton.

BUMI juga memiliki decarbonization strategic framework sebagai bagian dari upaya transisi energi. "Suatu usaha mengatasi masalah perubahan iklim dan emisi oleh grup BUMI. Rencana ini sedang dipersiapkan untuk diterapkan dalam jangka menengah," tandas Dileep.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati