Raja Charles Kunjungi AS, Upaya “Soft Power” Pulihkan Hubungan dengan Trump



KONTAN.CO.ID - Raja Inggris King Charles III dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat (AS) pada akhir April 2026, dalam upaya memperbaiki hubungan yang merenggang antara kedua negara sekutu di tengah konflik Iran.

Melansir Reuters Selasa (14/4/2026), kunjungan selama empat hari yang dimulai 27 April ini akan diikuti oleh Ratu Queen Camilla.

Baca Juga: Goldman Sachs Ajukan ETF Bitcoin Perdana, Bidik Eksposur dan Pendapatan Opsi


Agenda utama mencakup pertemuan pribadi dan jamuan teh dengan Presiden AS Donald Trump di Washington, serta jamuan makan malam kenegaraan di Gedung Putih bersama Ibu Negara Melania Trump.

Pemerintah Inggris berharap pendekatan “soft power” melalui monarki dapat meredakan ketegangan diplomatik yang muncul setelah perbedaan sikap terkait perang Iran.

Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan antara Trump dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memburuk, terutama setelah Inggris tidak memberikan dukungan penuh terhadap operasi militer AS-Israel.

Juru bicara Istana Buckingham menyatakan kunjungan ini menjadi momentum penting untuk “menegaskan kembali dan memperbarui hubungan bilateral” di tengah tantangan global yang dihadapi kedua negara.

Baca Juga: AS-Iran Berpotensi Lanjutkan Perundingan Pekan Ini Meski Ada Blokade Pelabuhan

Agenda Diplomatik dan Simbolik

Selain pertemuan bilateral, Raja Charles dijadwalkan menyampaikan pidato di Kongres AS, menjadi raja Inggris kedua yang melakukannya setelah Ratu Elizabeth II pada 1991.

Pasangan kerajaan juga akan mengunjungi New York untuk bertemu keluarga korban serangan Serangan 11 September 2001.

Kunjungan akan berlanjut ke Virginia sebelum Raja Charles bertolak ke Bermuda, wilayah luar negeri Inggris.

Di balik seremoni kenegaraan, pemerintah Inggris melihat kunjungan ini sebagai cara untuk menunjukkan nilai hubungan “persahabatan terdekat” antara kedua negara. Namun, hubungan tersebut tengah diuji oleh ketegangan geopolitik.

Trump sebelumnya mengkritik Inggris secara terbuka, bahkan menyebut Starmer “bukan Winston Churchill” serta meremehkan kemampuan militer Inggris.

Meski demikian, hubungan personal Trump dengan keluarga kerajaan disebut tetap baik.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Melonjak 2%, Didorong Pelemahan Dolar dan Harapan Negosiasi AS-Iran

Kontroversi dan Kritik

Kunjungan ini juga menuai kritik di dalam negeri Inggris. Sejumlah politisi, termasuk pemimpin Partai Liberal Demokrat Ed Davey, menilai kunjungan tersebut tidak tepat di tengah situasi politik saat ini.

Namun, Starmer menegaskan pentingnya menjaga hubungan jangka panjang kedua negara. Ia menyebut peran monarki dapat menjembatani hubungan lintas generasi dan meredakan ketegangan politik.

Baca Juga: Ekspor China Kehilangan Tenaga, Sinyal Risiko Ekonomi

Isu Sensitif Turut Membayangi

Salah satu isu yang berpotensi menjadi sorotan adalah kasus Jeffrey Epstein, yang menyeret nama Pangeran Andrew.

Meski demikian, pihak istana menegaskan Raja Charles tidak akan bertemu dengan korban Epstein demi menjaga proses hukum yang masih berjalan.

Istana menyatakan memahami posisi para korban, namun menilai keterlibatan publik dalam isu tersebut berisiko mengganggu jalannya proses hukum.

Kunjungan ini diharapkan tidak hanya menjadi simbol diplomasi, tetapi juga langkah konkret untuk meredakan ketegangan dan memperkuat kembali hubungan strategis antara Inggris dan Amerika Serikat di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.