Sebagai sebuah seni, rajah alias tato memang bukan lagi hal tabu. Bisnis tato di dalam negeri pun semakin berkembang dengan kian kreatifnya para seniman
menciptakan karya baru. Kendati demikian, tak semua orang memberanikan diri untuk memiliki tato dengan beragam alasan. Beberapa di antaranya karena proses merajah tubuh itu sakit dan tato bersifat permanen sehingga sangat sulit dihapus. Akan tetapi, alasan itu tak berlaku lagi karena tato temporer beredar di pasaran. Dus, seseorang bisa menikmati keindahan tato di tubuh tanpa takut kesakitan. Selain itu, tato hanya tahan sekitar 2 minggu. Penggemar tato temporer ini tak hanya orang dewasa tapi juga anak kecil. Tentu saja, ini jadi ladang bisnis yang menggiurkan. Tengok saja pengalaman Indah Juniwati yang secara tak sengaja memasarkan tato temporer dengan merek Lolitatto. Usaha tato temporer dimulai Indah sejak Desember 2013. “Bisa dikatakan saya pelopor untuk produk ini,” klaim Indah.
bekerjasama dengan pabrik di Amerika Serikat untuk produksi Thattoo. Salah satu pertimbangan keduanya dalam memilih pabrik ialah jejak rekam. Artinya, pabrik yang mereka pilih pernah memproduksi tato temporer untuk merek-merek ternama, terutama di AS. Selain itu, tentu saja pertimbangan harga dan minimal pemesanan. Adapun bahan baku yang digunakan juga jadi bahan perhatian. Baik Indah maupun Felicia mengaku menggunakan tinta yang aman di tubuh. Bahkan, tinta yang digunakan Felicia untuk Thattoo sudah disetujui oleh Food and Drug Administration di AS (semacam BPOM di Indonesia). “Tintanya sama dengan bahan kosmetik dan lem untuk tato temporer ini juga organik sehingga bagus buat kulit,” tutur Felicia. Masing-masing pemain dalam bisnis ini menggelontorkan modal puluhan juta hingga ratusan juta rupiah untuk merintis bisnisnya. Felicia, misalnya, mengeluarkan modal Rp 50 juta untuk memesan produk di AS dan membuat kemasan kedap udara untuk tato. Sementara, Indah merogoh kocek sebesar Rp 100 juta ketika ia menjual produknya di gerai modern, seperti Gramedia dan booth di mal-mal. Hingga kini, Indah memiliki 16 gerai Lolitatto di Jabodetabek, Yogyakarta, Solo, Medan, dan Palembang. “Semua itu gerai milik pribadi,” sebut dia. Tak sampai setahun, Indah sudah balik modal. Ia melanjutkan, melihat antusiasme masyarakat, ia memang gencar berekspansi. Ia ingin ketika seseorang ingin membeli Lolitatto, pembeli tak kesulitan mendapatkan produknya. “Ketersediaan di 300 modern channel jadi salah satu kelebihan kami,” ujarnya. Selain itu, Lolitatto juga punya varian yang sangat banyak. Saban bulan, Indah mengeluarkan 50 hingga 80 desain baru. Demikian juga dengan Felicia yang mengatakan, penjualan online tak bisa diandalkan. Sebab, perempuan kelahiran Pontianak, 13 September 1991 ini bilang, pembeli ingin melihat secara langsung ukuran tato. Lantaran dengan melihat gambar saja, mereka tak bisa memperkirakan ukuran tato ketika ditempel di badan. “Selain itu, dengan membeli di outlet, konsumen bisa tanya dan konsultasi dengan pegawai kami,” ucap Felicia. Merambah stiker kuku Meskipun belum sampai dua tahun, bisnis tato temporer berkembang pesat. Agar bisnis tak melempem, para pemain mengembangkan produknya. Rata-rata pemain di bisnis ini merambah ke produk lain, yaitu stiker kuku.
Hanya, pengguna stiker kuku terbatas hanya pada perempuan dewasa. Namun, potensi bisnisnya juga menjanjikan. Pasalnya, biaya untuk perawatan dan cat kuku di salon tak murah. “Supaya lebih mudah dan murah, ada alternatifnya,” kata Felicia. Tiap lembarnya berisi 14 stiker kuku. Felicia bilang, karena ukuran jari orang berbeda-beda, ia memberikan stiker cadangan sehingga semua kuku bisa ditempeli stiker. Sebelum memesan stiker kuku, Felicia bilang, ia menetapkan ukuran kuku sendiri karena ukuran kuku orang Indonesia berbeda dengan ukuran kuku lainnya.