Raksasa Barang Konsumsi Dunia Bersiap Naikkan Harga



KONTAN.CO.ID - LONDON. Konsumen dunia harus bersiap merogoh kocek lebih dalam. Sejumlah raksasa barang konsumsi global mulai memberi sinyal bakal kembali mengerek harga produk pada tahun depan. Langkah ini ditempuh untuk meredam lonjakan biaya produksi di tengah daya beli masyarakat yang masih lesu.

Mengutip Reuters (27/10/2026), perusahaan besar seperti Coca-Cola, Procter & Gamble (P&G), Nestle, hingga Reckitt menghadapi tekanan biaya energi, bahan baku, dan pengiriman barang. Ketegangan akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran turut memperberat beban operasional perusahaan.

Kondisi ini menempatkan produsen makanan, minuman, hingga kebutuhan rumah tangga dalam posisi sulit. Di satu sisi, perusahaan perlu menjaga margin keuntungan. Namun di sisi lain, kenaikan harga berisiko membuat konsumen semakin menahan belanja.


Tekanan tersebut sekaligus memunculkan kekhawatiran inflasi global bakal bertahan hingga 2027. Apalagi, tingginya harga bahan bakar dan kebutuhan pokok menjadi salah satu isu utama menjelang pemilihan umum sela AS pada pekan depan.

Kepala Ekuitas sekaligus Manajer Portofolio Aptus Capital Advisors David Wagner menilai, kenaikan harga menjadi pilihan terakhir bagi perusahaan untuk menjaga profitabilitas.

"Penyesuaian harga menjadi langkah terakhir perusahaan. Masalahnya, konsumen saat ini sebenarnya sudah kesulitan menanggung kenaikan harga lebih lanjut," ujar Wagner.

Tekanan serupa dirasakan Coca-Cola. Chief Executive Officer (CEO) Coca-Cola Henrique Braun memperkirakan tekanan terhadap konsumen masih akan berlangsung hingga 2027.

"Kami menghadapi tekanan biaya yang tinggi, terutama akibat kenaikan biaya logistik dan transportasi," kata Braun. Meski begitu, Coca-Cola tetap menaikkan proyeksi laba tahunannya.

Baca Juga: Bank Sentral Selandia Baru Tahan Suku Bunga 2,75%, Meski Buka Peluang Pengetatan

Ruang kenaikan harga

Persoalannya, ruang bagi perusahaan untuk menaikkan harga semakin terbatas. Konsumen mulai lebih selektif membeli produk bermerek setelah bertahun-tahun menghadapi lonjakan harga sejak pandemi.

Produsen cokelat asal Swiss, Lindt & Sprüngli, misalnya, mengakui kesulitan membaca respons konsumen terhadap kenaikan harga. Perusahaan bahkan mengganti CEO di tengah kekhawatiran terhadap kinerja bisnisnya.

CEO Reckitt Kris Licht juga mengakui tekanan ekonomi paling terasa di pasar Eropa dan Amerika Utara. Produsen Durex tersebut kini harus menimbang antara menaikkan harga jual dan memperbesar belanja promosi untuk mempertahankan pelanggan.

"Kami mungkin harus melakukan penyesuaian harga lebih besar apabila biaya komoditas dan bahan baku tetap berada pada level saat ini," ujar Licht.

Sementara itu, P&G memperkirakan tekanan biaya terhadap laba semakin besar. Produsen deterjen Tide tersebut menaikkan estimasi dampak negatif dari kenaikan biaya bahan baku, energi, dan pengangkutan menjadi US$ 1,4 miliar, dari sebelumnya US$ 1 miliar.

Chief Financial Officer (CFO) P&G Andre Schulten mengatakan, kenaikan harga sulit dihindari apabila tekanan biaya komoditas terus berlanjut.

"Pada tingkat tekanan biaya seperti sekarang, industri secara umum akan menaikkan harga karena hampir tidak ada pilihan lain untuk menutup kenaikan biaya tersebut," jelas Schulten.

Kepala Strategi Pasar Zacks Investment Management Brian Mulberry menilai, lonjakan biaya mulai menggerus margin keuntungan P&G meskipun harga dan volume penjualannya relatif stabil pada kuartal terakhir.

Menurutnya, konsumen masih bersedia berbelanja selama produk menawarkan nilai yang sepadan. Namun, batas toleransi konsumen terhadap kenaikan harga, terutama produk makanan ringan, semakin tipis.

Tekanan serupa menghantui PepsiCo. Sepanjang tahun ini, perusahaan melakukan penyesuaian harga, baik kenaikan maupun penurunan, untuk menghidupkan kembali penjualan. Namun, strategi tersebut belum sepenuhnya mampu meredam tekanan margin pada kuartal terakhir.

Nestle pun memilih berhati-hati. CFO Nestle Anna Manz mengakui kenaikan harga berpotensi menekan volume penjualan dalam jangka pendek karena konsumen membutuhkan waktu untuk menyesuaikan pengeluaran.

"Ke depan, tekanan kenaikan biaya bahan baku kembali muncul. Kami akan menyesuaikan harga sejauh memungkinkan tanpa mengorbankan jangkauan konsumen dalam jangka menengah," ujar Manz.

Meski menghadapi tekanan, Nestle mencatat pertumbuhan volume penjualan kuartalan yang melampaui pertumbuhan harga untuk pertama kalinya sejak 2024.

Dengan kondisi tersebut, perusahaan barang konsumsi global menghadapi dilema yang semakin pelik. Menaikkan harga bisa menyelamatkan margin keuntungan, tetapi juga berisiko menggerus penjualan ketika daya beli konsumen belum sepenuhnya pulih.

Baca Juga: Inflasi Australia Memanas, Peluang Kenaikan Suku Bunga RBA Tembus 85%