Raksasa Energi Global Bidik Proyek Migas AS di Tengah Konflik Timur Tengah



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah perusahaan energi besar Eropa dan global tengah mengincar kepemilikan mayoritas di salah satu proyek migas paling menjanjikan di Teluk Amerika Serikat, seiring meningkatnya minat terhadap aset energi Amerika Utara akibat konflik di Timur Tengah.

Perusahaan seperti TotalEnergies dan Shell disebut-sebut menjadi kandidat utama yang mempertimbangkan untuk mengambil alih saham mayoritas proyek tersebut. Selain itu, BP, Repsol, serta Chevron juga dilaporkan menunjukkan minat serupa.

Proyek yang dimaksud adalah ladang lepas pantai Shenandoah di Teluk AS, yang saat ini tengah dalam proses penjualan sebagian kepemilikan. Dua pemilik utama, yakni Beacon Offshore Energy—yang didukung Blackstone—dan HEQ Deepwater (dimiliki oleh Quantum Capital Group dan Houston Energy), menawarkan hingga 51% saham kepada calon investor.


Baca Juga: Lonjakan Harga BBM Akibat Konflik Iran Ganggu Rencana Libur Paskah Warga Australia

Sementara itu, sisa kepemilikan proyek dipegang oleh perusahaan Israel Navitas Petroleum.

Minat Tinggi di Tengah Ketidakpastian Global

Sumber Reuters menyebutkan bahwa penawaran awal (initial bids) diperkirakan akan diajukan dalam beberapa pekan mendatang. Selain perusahaan Eropa dan Amerika, produsen energi besar dari Timur Tengah dan Asia juga berpotensi ikut serta dalam proses ini.

Nilai transaksi masih belum pasti dan akan sangat bergantung pada beberapa faktor, termasuk besaran saham yang dilepas serta pergerakan harga minyak global.

Lonjakan minat terhadap aset energi di Amerika Serikat tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Aset di wilayah ini dinilai lebih aman dari risiko konflik, sekaligus memiliki fleksibilitas distribusi ke berbagai pasar global.

Potensi Besar dari Ladang Ultra Deepwater

Ladang Shenandoah tergolong sebagai proyek ultra deepwater, dengan cadangan minyak dan gas berada di kedalaman sekitar 30.000 kaki. Eksplorasi di wilayah ini dikenal sangat menantang secara teknis, dengan tekanan mencapai sekitar 20.000 psi.

Meski demikian, para ahli industri menilai proyek ini memiliki potensi besar sebagai salah satu sumber produksi energi utama di kawasan Teluk AS.

Baca Juga: Netflix Perkuat Konten Orisinal Usai Gagal Akuisisi Warner Bros

Produksi di Shenandoah sendiri telah dimulai sejak Juli lalu. Beacon Offshore Energy melaporkan pada Oktober bahwa empat sumur tahap awal telah mencapai target produksi sebesar 100.000 barel minyak per hari.

Didorong Harga Energi dan Stabilitas Pasokan

Nilai aset minyak dan gas AS saat ini semakin menarik di tengah kenaikan harga energi global. Selain itu, lokasi yang jauh dari zona konflik menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan proyek energi di kawasan Timur Tengah.

Dengan meningkatnya permintaan energi global dan ketidakpastian pasokan, investasi di proyek seperti Shenandoah dipandang sebagai langkah strategis bagi perusahaan energi besar untuk mengamankan portofolio jangka panjang.

Meski demikian, hingga saat ini sebagian besar perusahaan yang disebutkan menolak memberikan komentar terkait proses penawaran yang masih berlangsung.