KONTAN.CO.ID - Raksasa teknologi AS yakni Alphabet Inc., Amazon, Meta Platforms, dan Microsoft diperkirakan akan menggelontorkan investasi kolektif sekitar US$650 miliar untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) pada 2026. Perkiraan tersebut disampaikan oleh Bridgewater Associates dalam analisis terbarunya. Nilai itu melonjak tajam dibandingkan estimasi belanja sekitar US$410 miliar pada 2025.
Baca Juga: Bayer Gugat Johnson & Johnson atas Dugaan Iklan Menyesatkan Obat Kanker Prostat Dalam surat kepada klien, Co-Chief Investment Officer Bridgewater Greg Jensen menyebut ledakan AI kini memasuki fase yang “lebih berbahaya”, ditandai lonjakan eksponensial investasi infrastruktur fisik dan meningkatnya ketergantungan pada pendanaan eksternal. “Permintaan komputasi terus jauh melampaui pasokan, mendorong para hyperscaler berinvestasi semakin cepat untuk suatu hari bisa mengejar permintaan,” tulis Jensen pada Senin (23/2/2026). Risiko Jika Terjadi Gangguan Menurut Jensen, keempat perusahaan tersebut telah memangkas program pembelian kembali saham (
buyback) secara lebih agresif untuk mendanai lonjakan belanja modal (
capital expenditure). Namun, skala pengeluaran yang sangat besar juga menciptakan risiko penurunan signifikan jika terjadi gangguan, baik dari sisi teknologi, permintaan, maupun pasar keuangan.
Baca Juga: Trump Ancam Tarif Lebih Tinggi bagi Negara yang Main-main Usai Putusan Mahkamah Agung Ia juga menyoroti perusahaan AI seperti OpenAI dan Anthropic yang dinilai memerlukan terobosan produk besar untuk mengamankan pendanaan akhir sebelum potensi penawaran saham perdana (IPO). Tanpa jalur yang jelas menuju profitabilitas besar, perusahaan-perusahaan ini bisa kesulitan membenarkan valuasi tinggi dan kebutuhan modal yang besar. Jensen menambahkan, dominasi AI juga menciptakan risiko eksistensial bagi sektor lain, terutama perusahaan perangkat lunak dan penyedia data, yang tercermin dari aksi jual saham software baru-baru ini. “Tidak lagi memungkinkan bagi pemimpin AI untuk memenuhi ekspektasi investor tanpa menciptakan risiko eksistensial bagi sektor lain seperti software,” katanya. Dampak ke Pertumbuhan dan Inflasi Di luar pasar saham, Bridgewater menilai belanja teknologi tetap menjadi pendorong penting pertumbuhan ekonomi AS. Perusahaan memperkirakan investasi teknologi menyumbang sekitar 50 basis poin terhadap pertumbuhan PDB AS pada 2025 dan dapat memberikan dukungan hingga 100 basis poin pada 2026.
Baca Juga: Singapura Akan Tindak Warga yang Bertempur di Luar Negeri untuk Tujuan Asing Namun, lonjakan belanja ini juga berpotensi mendorong inflasi pada peralatan teknologi dan komunikasi, serta meningkatkan harga listrik di sejumlah wilayah akibat kebutuhan energi pusat data yang semakin besar.
Jensen mengingatkan bahwa koreksi tajam pasar saham dapat melemahkan pertumbuhan dan membatasi kemampuan perusahaan menghimpun modal meski ia menekankan bahwa kondisi saat ini masih jauh lebih kecil dibanding gelembung dot-com tahun 2000. Dengan investasi ratusan miliar dolar yang terus mengalir, fase berikutnya dari boom AI dinilai akan menentukan apakah ekspansi ini berujung pada pertumbuhan berkelanjutan atau risiko sistemik baru.