KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Momentum bulan Ramadan dan Lebaran 2026 diperkirakan menjadi angin segar bagi emiten perunggasan atau poultry. Kenaikan permintaan daging ayam dan DOC (day old chick) selama periode musiman ini berpotensi mendorong volume penjualan emiten unggas hingga 5%-20% dibanding bulan normal. Abdul Azis Setyo Wibowo, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan, daya beli masyarakat selama periode Ramadan juga ikut memengaruhi kinerja emiten unggas.
Baca Juga: Momen Nataru Jadi Katalis Positif Bagi Emiten Unggas, Cek Rekomendasi Sahamnya Ia menambahkan, secara historis, permintaan yang meningkat selama Ramadan dan Lebaran berdampak positif pada kinerja keuangan perusahaan peternakan unggas. Hal senada disampaikan Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI). Menurutnya, lonjakan permintaan dari rumah tangga serta sektor hotel, restoran, dan kafe bisa mendorong volume penjualan naik hingga 15%-20%. "Harga jual rata-rata emiten unggas biasanya ikut naik di bulan Ramadan. Belum lagi ada stimulus pemerintah dan Tunjangan Hari Raya yang mendorong daya beli masyarakat,” kata Wafi. Namun, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menekankan bahwa kenaikan volume penjualan sangat tergantung pada keseimbangan suplai dan stabilitas harga ayam hidup di tingkat peternak.
Baca Juga: Ramadan Jadi Katalis Positif Bagi Emiten Komponen Otomotif "Dampaknya terhadap harga saham tetap dipengaruhi faktor lain seperti fluktuasi harga jagung dan soybean meal sebagai bahan baku pakan, serta kebijakan intervensi harga dari pemerintah," ujar Abida. Meski begitu, Wafi menilai prospek jangka panjang sektor unggas masih menjanjikan. Konsumsi daging unggas per kapita masyarakat Indonesia relatif rendah dibanding negara tetangga, sehingga ruang pertumbuhan emiten masih terbuka lebar. Namun, tantangan utama tetap ada di volatilitas harga bahan baku pakan. Wafi menyarankan investor fokus pada emiten poultry besar yang memiliki bisnis terintegrasi vertikal, seperti Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). "MAIN bisa menjadi alternatif
turnaround. Adapun WMUU, SIPD, dan AYAM punya profil risiko lebih tinggi dan likuiditas lebih menantang," tambahnya. Abdul Azis menambahkan, program Makanan Bergizi Gratis (MBG) 2026 juga bisa menjadi katalis tambahan. Pemerintah menganggarkan Rp 335 triliun untuk program ini dengan target 82,9 juta penerima, naik signifikan dibanding 2025 yang sebesar Rp 71 triliun untuk 17,9 juta penerima.
Baca Juga: Emiten Unggas Berpeluang Cuan di Musim Ramadan, Simak Rekomendasi Sahamnya Dengan sentimen tersebut, Azis merekomendasikan beli JPFA dengan target harga Rp 3.110 per saham. Abida menekankan fokus pada saham emiten berfundamental kuat dan biaya efisien, yakni CPIN, JPFA, dan MAIN dengan target harga masing-masing Rp 5.600, Rp 3.100, dan Rp 1.500. Sementara Wafi menyarankan mencermati CPIN, JPFA, dan MAIN dengan target harga Rp 5.600, Rp 2.900, dan Rp 800 per saham.
Sentimen positif Ramadan dan Lebaran, ditambah dukungan pemerintah melalui program MBG, diyakini mampu mendorong pertumbuhan kinerja emiten unggas di 2026, meski tetap perlu waspada terhadap fluktuasi harga bahan baku pakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News