Ramadan Datang, Beras dan Minyakita Masih Mahal, APPSI Soroti Distribusi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga beras premium yang menembus Rp 15.000 per kilogram, cabai rawit merah yang masih tinggi, serta Minyakita yang dijual melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 17.700 per liter masih ditemukan di sejumlah pasar pada awal Ramadan.

Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menilai tingginya harga, khususnya beras premium, patut dipertanyakan jika pemerintah menyatakan stok dalam kondisi aman. Mereka menduga ada persoalan di level distribusi maupun penguasaan barang.

Baca Juga: WIKA Gedung Garap Halte BRT Metropolitan Mebidang, Nilai Kontrak Rp 198,51 Miliar


Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) APPSI Ngadiran mengatakan, kenaikan harga beras bukan semata soal produksi, melainkan bisa berkaitan dengan pola lama permainan stok di lapangan.

“Diduga masih lagu lama, mungkin ada yang punya duit, punya barang, punya gudang, yang dikeluarkan dan dimainkan,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (1/3/2026).

Ia menambahkan, jika distribusi berjalan normal dan stok benar-benar mencukupi, harga seharusnya tidak bertahan di atas HET.

Berbeda dengan beras, Ngadiran menilai lonjakan harga cabai rawit merah lebih masuk akal disebabkan faktor cuaca.

Musim hujan membuat petani enggan memanen karena risiko kerusakan barang meningkat.

Sementara untuk Minyakita, ia menilai pengawasan distribusi perlu diperketat agar harga di tingkat pengecer tidak melampaui ketentuan yang ditetapkan pemerintah.

Baca Juga: Maklon Kosmetik Prospektif, Perkosmi Ingatkan Ancaman Produk Ilegal

Pemerintah Klaim Harga Stabil

Di sisi lain, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan pemerintah, harga pangan pokok justru menunjukkan tren stabil dengan stok yang terjaga.

Ia mengatakan pemerintah terus memantau volatilitas harga agar tidak berfluktuasi tajam serta memastikan intervensi dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Saya rasa semua pangan pokok stabil. Stok aman. Jadi supaya mudah-mudahan memasuki Lebaran dengan pemantauan di pasaran, bisa turun harganya,” katanya dalam keterangan resmi, Sabtu (27/2/2026).

Ia menambahkan, pemerintah bersama Perum Bulog menggulirkan berbagai program intervensi, termasuk bantuan pangan dan beras bersubsidi kepada 33,24 juta keluarga penerima manfaat pada Maret 2026, dengan total anggaran Rp 11,92 triliun.

Pemerintah optimistis langkah tersebut mampu meredam gejolak harga hingga Idulfitri.

Baca Juga: Indonesia Kendaraan Terminal (IPCC) Bidik Pertumbuhan Moderat 10% - 15% pada 2026

Kenaikan Musiman Dinilai Wajar

Sebelumnya, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu Surya Vandiantara menilai, kenaikan harga pangan pada Ramadan masih dalam batas wajar.

Ia berpandangan lonjakan tersebut lebih dipicu peningkatan konsumsi musiman, bukan karena kelangkaan pasokan.

“Kenaikan tingkat permintaan inilah yang akhirnya direspons dengan kenaikan harga oleh para penjual atau produsen,” ungkapnya kepada wartawan, Selasa (24/2/2026).

Meski begitu, Surya mengingatkan potensi praktik pedagang nakal atau kartel yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk mengerek harga di luar kewajaran.

Karena itu, operasi pasar dan penindakan tegas tetap diperlukan agar harga mencerminkan mekanisme pasar yang sehat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News