KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor manufaktur makanan dan minuman (mamin) dinilai masih akan menjadi penopang penting ekonomi nasional pada kuartal I-2026 ini, seiring momentum Ramadan dan Lebaran 2026. Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet memprediksi, manufaktur makanan dan minuman dapat berkontribusi 6,5% hingga 7% terhadap Produk Domestik Bruto Nasional (PDB) nasional pada kuartal pertama tahun ini, dengan pertumbuhan sektoral sekitar 5,5%-6% secara tahunan. Ia mengungkapkan, proyeksi ini berlandaskan pada Ramadan–Lebaran yang tetap menjadi momentum “panen” bagi industri makanan dan minuman.
Baca Juga: Strategi MAP Active, Menambah Brand Baru & Perkuat Citra Lama dengan Sentuhan Lokal “Terutama, dengan permintaan yang biasanya naik 30%–40% dibanding bulan normal, serta ikut menggerakkan produksi, distribusi, ritel, hingga sektor hulu,” kata Yusuf kepada Kontan, Kamis (12/2/2026). Menurutnya, periode ini dapat menyumbang 30%–40% ke omzet tahunan industri makanan dan minuman, serta membantu menahan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama di kisaran 5%–5,1%. Kata Yusuf, hal ini mengingat Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada bulan Maret 2026 membuat puncak belanja sepenuhnya terkonsentrasi di kuartal pertama. Dibanding tahun lalu, ia memprediksi efek Lebaran 2026 ke industri makanan dan minuman masih positif, tetapi lebih moderat. Pasalnya, meskipun arus mudik dan mobilitas bakal meningkat, sektor rumah tangga kini dinilai lebih berhati-hati. Menurut dia, tekanan biaya hidup dan ketidakpastian global membuat konsumen lebih selektif. Akibatnya, konsumen cenderung memilih produk dengan lebih mempertimbangkan manfaatnya (
value for money), alih-alih belanja produk premium. “Maka, volume penjualan makanan dan minuman masih naik, tetapi nilai transaksi dan margin industri tak setinggi tahun sebelumnya. Apalagi, stimulus fiskal tahun ini juga lebih terbatas,” ujar Yusuf.
Baca Juga: Belanja Friday Mubarak 2026 Hingga 31 Maret 2026, Bidik Transaksi Rp 119 Triliun Sementara, dari sisi produksi, ia menilai momentum Lebaran tetap jadi katalis positif karena utilisasi kapasitas pabrik makanan dan minuman tahun ini naik ke kisaran 80%–90% dari sebelumnya 60%–70%. Hal ini kata Yusuf menunjukkan permintaan musiman masih cukup kuat untuk menggerakkan mesin industri. Kendati demikian, Yusuf bilang tantangannya terletak pada biaya. Seperti diketahui, industri makanan dan minuman cukup rentan terhadap tekanan kurs rupiah, lantaran banyak bahan baku yang masih mengandalkan impor. Seperti gandum, gula industri, kedelai, dan susu. “Saat rupiah melemah, Harga Pokok Penjualan (HPP) naik, sedangkan ruang menaikkan harga jual terbatas karena konsumen makin sensitif,” tuturnya. Dus, lanjut Yusuf, produsen cenderung mengandalkan efisiensi atau mengecilkan ukuran kemasan makanan dan minuman guna menjaga volume. Supaya momentum Lebaran tak sekadar mempertahankan volume, menurut Yusuf, pemerintah harus fokus pada stabilitas kurs dan pasokan bahan baku. Juga, memastikan inflasi pangan terkendali agar ruang belanja masyarakat tak tergerus Pemerintah, lanjutnya, juga perlu memastikan Tunjangan Hari Raya (THR), bantuan sosial (bansos), dan biaya logistik ke daerah-daerah aman terkendali.
Baca Juga: Industri Telekomunikasi Terjepit Biaya Regulasi, Pungutan Daerah dan Aturan Lokal “Dengan begitu, konsumsi tetap jalan dan kinerja industri makanan dan minuman tetap sehat,” tandas Yusuf.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News