Rangka atap baja ringan: Ringan produknya, berat profitnya



Baja ringan semakin populer di Indonesia. Para pemilik rumah sekarang lebih gemar untuk memakai baja ringan untuk atap rumah. Hal itu membuat permintaan baja ringan makin tinggi. Sayangnya memulai bisnis ini butuh modal gede.Harga kayu yang tersendat menyebabkan rangka atap berbahan baku kayu semakin ditinggalkan. Saat ini, rata-rata rumah baru yang dibangun sudah menggunakan rangka atap berbahan baja ringan. Meski biaya bahan lebih mahal daripada kayu, baja ringan jauh lebih tahan lama. Tak heran permintaan baja ringan terus meningkat. Omar Chandra, pemilik PT Kepuh Kencana Arum (Kencana Truss), perusahaan pembuat rangka atap berbahan baja ringan menjadi saksi kecenderungan ini. Selama delapan tahun menggeluti bisnis ini dia merasa permintaan baja ringan terus tumbuh. Tahun ini saja, pertumbuhan penjualan Kencana Truss tumbuh 11%.Kini, Kencana Truss memiliki lima cabang yang tersebar di Surabaya, Makassar, Mojokerto, Bali, dan Balikpapan. Omar mencatat total penjualan rata-rata per bulan mencapai 4.000 ton. Masing-masing cabang rata-rata bisa menjual 800 ton atau senilai Rp 7 miliar - Rp 8 miliar per bulan. Dus, secara Kencana Truss membukukan omzet senilai Rp 35 miliar - Rp 50 miliar per bulan.Pengalaman serupa juga dialami pewaralaba (franchisee) PT Metal Forming Industry, perusahaan produsen rangka atap baja ringan. Saat ini Metal Forming memiliki lima mitra di Medan, Makassar, Balikpapan, Jakarta, dan Riau. Tahun 2012, mereka akan membuka lima mitra di Jakarta, Pontianak, Bandung, Timor-Timur, dan Surabaya. Ozie Hansery, Managing Director PT Metal Forming Industry, menjelaskan bahwa rata-rata omzet dari terwaralaba bisa mencapai Rp 1,2 miliar-Rp 2 miliar per bulan atau setara dengan 60 ton - 100 ton per bulan. Omar membanderol harga baja ringan Kencana Truss mulai Rp 39.000 hingga Rp 120.000 per meter persegi (m²). Adapun Ozie mengaku menjual baja ringan sesuai tipe: pertama, tipe proyek seharga Rp 100.000 - Rp 150.000 per m², tergantung ketebalan dan bentuk rangka; kedua, tipe batangan reng dan c-truss, masing-masing dengan harga Rp 5.000 - Rp 7.500 per meter dan Rp 11.000 - Rp 15.000 per meter. Bisnis ini memang sangat kental dengan pekerjaan teknik sipil. Tapi, menurut para produsen, mereka yang masuk ke bisnis ini tak harus mempunyai dasar pengetahuan di bidang konstruksi. Meski begitu Omar dan Ozie menyarankan pemula lebih baik memiliki pengetahuan dasar. “Selebihnya, dikerjakan sistem,” ujar Ozie.Jika Anda tertarik memasuki bisnis ini, berikut ini dua pilihan dengan memulai sendiri atau mengikuti waralaba.• Pabrik sendiriJika membangun pabrik pembuatan baja ringan sendiri, tentu Anda harus menyiapkan semua modal dan kebutuhan dari awal, termasuk rencana bisnis, sistem pemasaran, dan bagaimana proses produksi. Anda juga harus menyiapkan modal. Investasi awal bisnis ini memang cukup besar. Ambil contoh Omar yang mengaku menanamkan total modal hingga ratusan miliar. Dengan total produksi 800 ton per bulan, ia mengoperasikan 14 mesin seharga Rp 400 juta - Rp 4 miliar per unit. Ia juga membeli lahan seluas 4 hektare untuk pabrik dan gudang, serta kebutuhan lain seperti beberapa unit crane dan truk.Selain itu, Omar mengaku menyiapkan dana untuk stok bahan baku berupa lempengan baja ringan senilai Rp 3 miliar - Rp 4 miliar. “Kita harus stok bahan baku,” tegas dia. Dengan skala industri sebesar itu, ia mengklaim balik modal tiga sampai empat tahun.Untuk memasarkan produk baja ringan, Omar menggaji orang khusus untuk mencari pasar. Dia membagi tim pemasar menjadi dua yang membidik pekerjaan proyek dan toko bangunan. “Pesanan dari proyek lebih banyak, yaitu sekitar 60% dari total produksi,” ujar dia. Keuntungan membuat pabrik sendiri tanpa waralaba adalah Anda akan mendapatkan margin usaha lebih besar. Omar mengaku bisa meraup untung bersih sebesar 30% dari pendapatan. Biaya produksi paling besar berasal dari pembelian bahan baku yang bisa mencapai 60%. Selain itu, ada juga biaya listrik. Maklum, proses produksi baja ringan ini membutuhkan tenaga listrik cukup besar. “Saya harus memanaskan baja di suhu 6.000 derajat,” ujar dia. Biaya lain yang memakan cukup besar adalah gaji karyawan. Saat ini Omar mempunyai 80 karyawan. “Kapasitas produksi kami sudah meningkat menjadi 10.000 ton,” tutur dia. • Ikut waralabaNah, kalau kurang percaya diri memulai bisnis ini dari nol, Anda bisa menjadi terwaralaba Metal Forming. Ozie memaparkan, modal yang dibutuhkan sekitar Rp 1,5 miliar. Sebesar Rp 350 juta akan terpakai untuk franchise fee alias biaya bergabung. Dengan demikian Anda berhak menggunakan merek Audie Truss, meminjam satu set manual operasi pabrik, menggunakan dua unit mesin Audie Truss, serta menggunakan peranti lunak desain dan analisis struktur dari Australia. Selain itu Anda juga akan mendapat software keuangan yang terintegrasi, jaminan ketersediaan bahan baku, inovasi produk baru, dan beberapa lain. Alat yang digunakan ada dua: mesin C-truss dan mesin Batten. Ozie menambahkan, terwaralaba tidak boleh membeli bahan baku dari tempat lain. Nah, sisa modal (Rp 1,15 miliar) harus Anda pakai untuk menyiapkan gudang, bahan baku, komputer, mobil transpor, dan perekrutan karyawan. Di luar itu, Anda masih harus menyiapkan deposit awal Rp 1 miliar. ”Untuk membeli stok bahan baku. Nilai itu sebanding dengan 80 ton bahan baku,” ujar Ozie. Jadi, total investasi awal bisa mencapai Rp 2,5 miliar. Dengan modal awal sebesar itu, kapasitas pabrik yang ditawarkannya Metal Forming mencapai 200 ton per bulan. Lokasi pabrik juga harus menyediakan listrik dengan daya sampai 15.000 watt. Ozie menjelaskan lokasi pabrik yang akan digunakan tidak harus di daerah perkotaan atau tempat strategis. Asal mempunyai luas tanah satu hektare dengan bangunan 600 m², pabrik sudah bisa berdiri. “Lokasi pabrik sebisa mungkin dapat dilalui truk,” ujar dia. Salah satu kelemahan mendirikan pabrik baja ringan melalui waralaba adalah margin yang Anda diperoleh bisa lebih kecil ketimbang membuat pabrik sendiri. Ozie memaparkan, margin bersih yang mampu dihasilkan terwaralaba hanya sekitar 9% - 11% dari total omzet. Maklum, Anda masih harus dibebani royalti fee yang besarannya kurang dari 10% dari omzet. Meski begitu, berdasarkan pengalaman dari beberapa terwaralaba yang telah bekerja sama dengan Metal Forming, balik modal paling cepat selama 15 bulan dan paling lama 24 bulan. Hitungan itu sudah mencakup deposit awal senilai Rp 1 miliar. Jika komponen ini tidak dihitung, balik modal bisa lebih cepat dari itu. Menurut Ozie, semua tergantung penjualan. “Paling cepat balik modal Medan dan Jakarta,” ujar Ozie. Urusan produksi Anda tidak perlu pusing. Metal Forming akan mendampingi Anda. “Akan ada tim kami yang akan membantu proses produksi,” ujar Ozir. Tak hanya di proses produksi, pewaralaba juga akan membantu dalam hal pengelolaan keuangan dan pemasaran. Kebutuhan karyawan untuk bisnis ini sekitar 20 orang, baik bagian produksi, pemasaran, keuangan, dan sopir. Proses produksi memang tidak terlalu rumit. Menurut Ozie, semuanya diatur komputer. “Semuanya sudah bisa potong sendiri,” ujar dia. Meski begitu, sebelumnya, terwaralaba bakal mendapatkan pelatihan produksi, penjualan ritel dan proyek, pelatihan akuntansi dan finance, serta pelatihan software dan manajemen bisnis. Metal Forming juga memberikan bantuan konsultasi pemasaran dengan fokus membangun dua tim penjualan yang membidik toko bangunan dan ritel perumahan. “Memang door to door,” ujar Ozie.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Tri Adi