Rapor 18 Bulan Donald Trump: AI Bersinar, Inflasi dan Biaya Hidup Masih Membebani



KONTAN.CO.ID - Memasuki 18 bulan masa jabatan keduanya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadapi ekonomi yang dinilai cukup tangguh menghadapi berbagai guncangan kebijakan.

Namun, sejumlah janji utama kampanyenya, mulai dari menurunkan harga, menghidupkan kembali sektor manufaktur hingga meningkatkan kesejahteraan kelas menengah, belum sepenuhnya terwujud.

Baca Juga: Kim Jong Un Peringati Hari Gencatan Senjata Perang Korea, Ju Ae Tampil Mendampingi


Reuters melaporkan, kebijakan pengetatan imigrasi, kenaikan tarif impor, hingga konflik militer dengan Iran telah menjadi sumber guncangan utama bagi perekonomian AS.

Meski demikian, ekonomi terbesar dunia itu masih mampu bertahan lebih baik dari perkiraan banyak ekonom.

Namun, laju pertumbuhan ekonomi mulai kehilangan momentum di sejumlah sektor yang sebelumnya dijanjikan akan berkembang pesat berkat kebijakan Trump.

Pasar tenaga kerja berubah

Data ketenagakerjaan menunjukkan jumlah angkatan kerja dan pekerja mengalami penurunan sejak Trump kembali menjabat.

Kondisi ini sejalan dengan kebijakan pembatasan imigrasi dan deportasi yang mengurangi jumlah tenaga kerja yang tersedia, ditambah dengan populasi AS yang semakin menua.

Baca Juga: Iran Klaim Masih Kuasai Selat Hormuz, Belum Berminat Lanjutkan Perundingan dengan AS

Di sisi lain, sektor konstruksi justru menikmati lonjakan investasi pembangunan pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Namun, sektor manufaktur belum menunjukkan kebangkitan seperti yang dijanjikan Trump. Jumlah pekerja manufaktur bahkan tercatat lebih rendah dibandingkan saat pemerintahan Joe Biden berakhir pada Januari 2025.

Inflasi belum kembali ke target

Inflasi menjadi salah satu isu utama dalam kampanye Trump pada 2024. Namun, upaya menurunkan harga barang secara luas dinilai bukan hal yang mudah.

Berbagai indikator inflasi menunjukkan laju kenaikan harga memang melambat, tetapi masih berada di atas target Federal Reserve sebesar 2%.

Baca Juga: Bursa Saham Global Menguat, Harga Minyak Anjlok Usai AS-Iran Hentikan Serangan

Kenaikan tarif impor, lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah, serta besarnya investasi AI turut memberikan tekanan terhadap harga-harga.

Sejumlah pejabat The Fed bahkan mulai mengkhawatirkan risiko inflasi yang kembali meningkat apabila tekanan harga semakin meluas.

Pendapatan dan daya beli melambat

Belanja konsumen sejauh ini masih bertahan di tengah berbagai guncangan ekonomi.

Namun, ukuran pendapatan riil yang dapat dibelanjakan rumah tangga setelah dikurangi pajak (real disposable personal income) mulai stagnan bahkan menurun dalam beberapa periode terakhir.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan konsumsi masyarakat dalam beberapa bulan ke depan.

Baca Juga: Ekspor Produk Engineering India Melonjak 21% pada Juni, China Jadi Pendorong Utama

Keterjangkauan rumah masih menjadi masalah

Salah satu persoalan yang belum terselesaikan adalah tingginya biaya kepemilikan rumah.

Harga rumah tetap tinggi, sementara suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dan premi asuransi properti masih berada di level tinggi.

Pemerintah federal juga memiliki ruang terbatas untuk mengatasi persoalan pasokan perumahan karena banyak kebijakan ditentukan pemerintah daerah melalui aturan tata ruang dan zonasi.

Baca Juga: Presiden FIFA Infantino Klaim Piala Dunia 2026 Berjalan Aman, Tepis Berbagai Kritik

Bursa saham tetap menguat

Meski menghadapi berbagai tantangan, pasar saham AS terus mencetak rekor baru.

Indeks S&P 500 telah menguat sekitar 25% sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025.

Kinerja tersebut berada di sekitar median kenaikan indeks saham selama 18 bulan pertama masa jabatan presiden-presiden AS sejak era Ronald Reagan.

Reli pasar saham terutama didorong oleh optimisme terhadap sektor AI.

Investasi AI mendorong penerbitan obligasi

Gelombang investasi AI juga tercermin pada pasar obligasi korporasi.

Sepanjang semester I-2026, penerbitan obligasi korporasi mencapai US$ 1,52 triliun atau berada pada laju tertinggi dalam sejarah.

Baca Juga: SoftBank Gandeng 21 Kreditur Baru Danai Investasi Jumbo di OpenAI

Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur AI, termasuk pusat data.

Besarnya penerbitan obligasi yang tetap diserap pasar menunjukkan kondisi neraca perusahaan masih relatif kuat dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi AS di tengah berbagai ketidakpastian global.