Rapor Bank Digital Q3 2026: 4 Bank Melesat, 2 Susut Tertekan Beban



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja industri perbankan digital hingga kuartal III-2026 menunjukkan tren positif yang diwarnai polarisasi.

Dari enam bank digital yang telah merilis kinerja keuangannya hingga kuartal III-2026, tercatat sebanyak empat bank berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih, sementara dua bank lainnya labanya menyusut secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan laba tertinggi dipimpin oleh PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank yang meroket tajam 398,77% yoy menjadi Rp 299,89 miliar.


Menyusul di belakangnya, SeaBank mencatat lonjakan laba sebesar 172% yoy menjadi Rp 1,11 triliun.

Baca Juga: OJK Beri 45 Sanksi Soal Kewajiban Pelaporan Kegiatan Literasi&Inklusi per Oktober2026

Setelah itu, PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang labanya tumbuh 49,7% yoy menjadi Rp 298,08 miliar, serta PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) yang naik 25% yoy menjadi Rp 157,91 miliar.

Di sisi lain, tren pelemahan kinerja dialami oleh PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) dengan laba bersih yang susut 11% yoy menjadi Rp 338,1 miliar, serta PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) yang juga terkoreksi 7,12% yoy menjadi Rp 430,98 miliar.

Benang merah dari raihan positif keempat bank yang tumbuh bermuara pada kemampuan mengapitalisasi ekosistem digital untuk mendongkrak pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) serta meraup dana murah alias current account saving account (CASA).

Di Superbank, integrasi ekosistem digital, termasuk kolaborasi strategis di dalam ekosistem Grab, sukses mengerek Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga 79,3% yoy. Pola serupa terlihat di SeaBank yang bertumpu pada kolaborasi kemitraan dan ekosistem digital, serta Bank Jago yang mampu mencetak NII tinggi mengandalkan dominasi porsi CASA.

Sebaliknya, penyebab penyusutan laba pada dua bank lainnya bukan berasal dari pelemahan pendapatan bunga, melainkan membengkaknya sejumlah pos beban dan strategi efisiensi.

Pada Allo Bank, kenaikan NII sebesar 16,1% yoy tergerus oleh beban impairment (pencadangan) yang melesat tajam 65,2% yoy menjadi Rp 454,11 miliar. Sementara itu, penurunan laba Bank Neo Commerce berasal dari penyusutan penyaluran kredit sebesar 10,18% yoy seiring penerapan strategi penyaluran pinjaman yang lebih selektif.

Terkait tantangan, hambatan yang kini menekan laju perbankan digital adalah kompetisi likuiditas yang ketat dan tekanan daya beli di segmen masyarakat tertentu.

Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo menilai persaingan memperebutkan dana di era suku bunga acuan yang tinggi tak pelak memaksa bank untuk fokus memupuk pendanaan granular melalui transaksi harian dibanding terjebak dalam perang bunga. Di saat bersamaan, bank juga harus memakai pendekatan berbasis data guna memitigasi risiko kredit.

Di tengah iklim ketidakpastian makroekonomi yang membayangi kinerja industri, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk Adrian Soewardjo menyoroti pentingnya kelincahan perbankan dalam memitigasi efek rambatan geopolitik global.

"Situasi ini membuat Bank Neo Commerce senantiasa adaptif, cermat dalam mengantisipasi risiko, serta mampu merespons perubahan dengan strategi yang tepat," ungkap Adrian kepada Kontan, Jumat (6/10/2026).

Melihat konstelasi dan strategi yang tengah dimainkan oleh para pelaku industri, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan memproyeksikan arah angin perbankan digital masih akan memberikan sinyal hijau ke depannya.

"Prospek bank digital hingga akhir tahun masih positif, terutama bagi bank yang memiliki ekosistem transaksi kuat, dana murah yang meningkat, dan pengelolaan risiko kredit yang baik," kata Trioksa kepada Kontan, Jumat (6/10/2026).

Ke depan, kunci keberlanjutan bisnis bank digital di sisa tahun ini tidak lagi sekadar diukur dari seberapa agresif mereka mencetak pertumbuhan aset, melainkan kedisiplinan mengawal kualitas underwriting dan efisiensi operasional. 

Baca Juga: Tabungan Segmen Menengah Bawah BTN Tumbuh 5% hingga September 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News