Rapot BUMN Karya Merah pada 2025, Simak Prospek Kinerjanya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten BUMN karya masih merah di tahun 2025. Kerugian mereka bahkan tercatat makin dalam sepanjang tahun lalu.

PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT PP Tbk (PTPP), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) kompak membukukan kenaikan rugi bersih di 2025.

WSKT membukukan rugi bersih Rp 3,92 triliun di 2025, naik 51,71% secara tahunan dari rugi bersih Rp 2,58 triliun di 2024. Kerugian WSKT mulanya didorong dari penurunan pendapatan. Sepanjang 2025, pendapatan usaha Waskita turun 17,63% year on year (YoY) menjadi Rp 8,81 triliun.


Pos beban WSKT memang terpantau naik sepanjang tahun lalu. Misalnya, beban lain-lain naik menjadi Rp 953,54 miliar di 2025, dari Rp 102,32 miliar di 2024. Lalu, beban pajak penghasilan menjadi Rp 91,43 miliar di 2025, dari sebelumnya Rp 49,13 miliar. 

Baca Juga: IHSG Ajlok ke Bawah Level 7.000, Pasar Masuk Fase Tekanan dan Transisi

Meskipun begitu, dari sisi neraca, total liabilitas perseroan sebesar Rp 67,06 triliun di akhir Desember 2025, turun dari Rp 69,27 triliun di akhir Desember 2024.  

Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita bilang, manajemen WSKT memang tengah berfokus menurunkan liabilitas melalui beberapa rencana strategis, di antaranya percepatan divestasi jalan tol dan optimalisasi aset. 

“Kedua langkah ini sebagai upaya strategi Waskita Karya untuk kembali ke core business menjadi kontraktor murni,” katanya.

Rugi bersih PTPP bengkak ke Rp 6,07 triliun sepanjang 2025, naik 298,99% dari rugi Rp 1,52 triliun di tahun 2024. Sepanjang 2025, pendapatan usaha PTPP juga turun 17,87% ke Rp 16,27 triliun.

Sekretaris Perusahaan PTPP Joko Raharjo mengatakan, pada tahun 2025, perseroan melakukan langkah kehati-hatian melalui pengakuan penurunan nilai (impairment) atas aset tertentu pada entitas anak. Termasuk, pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) atas piutang serta penyesuaian nilai persediaan, sebagai bagian dari penguatan kualitas aset dan penerapan manajemen risiko yang lebih prudent.

Langkah-langkah ini merupakan bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian, penguatan tata kelola perusahaan, serta penyesuaian terhadap dinamika industri. Hal ini tidak mencerminkan adanya permasalahan dalam pengelolaan operasional perseroan.

Kebijakan tersebut diakui memberikan tekanan terhadap kinerja keuangan konsolidasian PTPP pada periode pelaporan tahun 2025. 

“Namun demikian, manajemen menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat fundamental keuangan perseroan dalam jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (2/4).

WIKA juga mencatatkan peningkatan rugi bersih 328,30% YoY ke Rp 9,7 triliun di tahun lalu. Pendapatan neto juga turun 30,75% secara tahunan dari Rp 19,24 triliun di 2024 menjadi Rp 13,32 triliun.

Salah satu faktor pemberat kinerja WIKA di tahun 2025 adalah proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh. Hal itu tercermin pada pos bagian rugi ventura bersama yang naik dari Rp 606,66 miliar menjadi Rp 1,44 triliun di 2025.

Melansir laporan keuangan tahun 2025, WIKA menyebutkan bahwa Pada tanggal 31 Desember 2024, perusahaan mendaftarkan klaim PDPK KSO WIKA-CRIC-CRDC-CREC-CRSC atas proyek High Speed Railway Jakarta Bandung milik PT Kereta Cepat Indonesia sebesar Rp 5,01 triliun yang merupakan klaim atas cost over run ke Singapore International Arbitration Centre (SIAC). 

Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal Saham ESSA, CTRA, dan ADRO untuk Selasa (7/4)

Pada tanggal 30 Januari 2026, WIKA dan KCIC mengajukan permohonan mediasi dalam rangka penyelesaian perselisihan tersebut ke Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara

(Jamdatun). 

“Hingga laporan keuangan konsolidasian diterbitkan, belum ada tanggapan dari Jamdatun terkait permohonan yang diajukan Perusahaan dan proses di SIAC masih disuspensi,” kata manajemen WIKA dalam laporan keuangan tersebut.

Sebagai gambaran, konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) memegang 60% saham PT KCIC. Sebagai bagian dari konsorsium tersebut, WIKA memegang 33,36% saham di PSBI.

Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito mengatakan, sejak awal Whoosh beroperasi, perseroan dibebani kerugian sekitar Rp 1,8 triliun setiap tahunnya.

“Tahun lalu di 2025 (kerugian dari KCIC) sekitar Rp1,7 triliun - Rp 1,8 triliun. Sehingga, memang cukup berat WIKA ini untuk bisa mempunyai laba yang baik karena kerugian dari kereta cepat ini rata-rata per tahun sampai Rp1,8 triliun,” ujarnya dalam Media Gathering WIKA di Jakarta Utara, Senin (6/4/2025).

Sementara, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) belum merilis laporan keuangan tahun lalu. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tanggal 27 Maret 2026, Direktur Keuangan ADHI, Bani Iqbal bilang bahwa proses penyelesaian audit laporan keuangan masih berlangsung, sehingga ada keterlambatan penyampaian laporan keuangan konsolidasi yang berakhir pada 31 Desember 2025.

Di tengah penurunan kinerja keuangan, WSKT mengantongi nilai kontrak baru Rp 12,52 triliun sepanjang 2025, naik dari raihan tahun 2024 yang sebesar Rp 9,55 triliun. Sementara, nilai kontrak baru WIKA tahun 2025 sebesar Rp 17,46 triliun di tahun 2025, turun dari raihan tahun 2024 sebesar Rp 20,65 triliun. 

Senasib, nilai kontrak baru PTPP di tahun 2025 juga turun menjadi Rp 24,95 triliun, dari  raihan tahun 2024 sebesar Rp 27,09 triliun. ADHI punya nilai kontrak baru Rp 18,1 triliun sepanjang 2025, turun dari raihan per akhir Desember 2024 yang sebesar 2024.

Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan melihat, penurunan kinerja WIKA, PTPP, dan WSKT disebabkan oleh tingginya beban keuangan dan biaya operasional.

Sementara, untuk ADHI, meskipun belum merilis laporan keuangan, secara skala besaran pendapatan yang diperoleh pasca Covid-19, bisa dikatakan sudah pulih seperti sebelum Covid-19. Sehingga, pasca Covid-19, ADHI bisa konsisten membukukan laba bersih.

Namun, dalam dua tahun terakhir perolehan pendapatannya menurun drastis, bahkan berlanjut di tahun ini yang membuat perolehan labanya juga menyusut. 

“Di tahun 2025, ADHI kemungkinan akan mengalami penurunan performa yang signifikan, baik pendapatan maupun laba,” katanya kepada Kontan, Senin (6/4).

Head Research Korea Invesment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, pembengkakan rugi WIKA dan WSKT dipicu beban bunga utang jumbo, pencadangan piutang, dan minimnya margin. 

“Kemungkinan kinerja ADHI relatif aman karena mengutamakan proyek berskema pembayaran berkala (progress payment) dan didukung suntikan modal (PMN),” ujarnya kepada Kontan, Senin.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengungkapkan, sentimen negatif juga masih membayangi emiten BUMN karya dan ditambah biaya belanja pemerintah yang berkurang untuk sektor konstruksi di tahun 2025.

Baca Juga: Tren Positif Kinerja Emiten Nikel Berpotensi Lanjut pada 2026

“Mungkin juga cost of fund masih tinggi. Di sisi lain, kalau belanja proyek juga ada kemungkinan marginnya tipis. Belum lagi ada risiko dari proyek lama yang harus diselesaikan,” katanya kepada Kontan, Senin.

Di tahun 2026, tampaknya masih sulit untuk mendapatkan pertumbuhan yang tinggi di sektor konstruksi. Sebab, dalam kondisi saat ini, potensi penundaan belanja konstruksi swasta sangat besar.

Alfred bilang, pilihan utama memperbaiki kinerja BUMN karya di tahun ini adalah menaikan kembali skala pendapatan.

Namun, tantangannya sangat besar, mengingat proyek yang terafiliasi pemerintah dengan pembiayaan APBN/APBD dan BUMN tidak sebesar di periode pemerintahan sebelumnya.

Sementara dari swasta, kondisi saat ini masih berat dan ditambah dalam 10 tahun terakhir emiten BUMN karya juga sangat minim di segmen ini. 

“Jika melihat skala operasional para emiten karya, proyek-proyek luar dari skala regional bisa menjadi suatu pertimbangan besar untuk diusahakan,” tuturnya.

Pilihan berikutnya untuk memperbaiki kinerja BUMN karya ketika pendapatan tidak bisa kembali pulih adalah penyesuaiaan biaya operasional alias efisiensi.

Alfred melihat, ADHI secara performa kemungkinan akan bisa lebih baik dan bisa mencatatkan laba, walaupun mengalami penurunan. Di sisi lain, pasar saat ini juga tengah menunggu realisasi dari rencana Danantara untuk restrukturisasi dan merger BUMN karya. 

“Pasar melihat permasalahan beban utang dan skala pendapatan BUMN karya hanya bisa diselesaikan oleh Danantara,” ungkapnya.

Senada, Wafi melihat prospek emiten BUMN karya di 2026 sangat penuh tantangan. Langkah pemulihan kinerja mereka bisa melalui restrukturisasi utang radikal, divestasi aset, dan penghentian penerimaan proyek tanpa uang muka (turnkey). 

PTPP dan ADHI dilihat masih bisa mencatatkan kinerja baik. Sentimen positif penggerak kinerja emiten BUMN karya berasal dari penyelesaian IKN dan proyek strategis nasional (PSN). Sementara, sentimen negatif berasal dari pergeseran APBN ke sektor pangan/sosial dan beban suku bunga. 

“Efek merger dan keterlibatan Danantara juga bukan solusi instan. Memaksakan merger sebelum restrukturisasi utang WIKA/WSKT tuntas justru berisiko menularkan beban keuangan ke entitas yang sehat,” katanya.

Alhasil, Wafi belum memberikan rekomendasi saham untuk emiten BUMN karya.

Nafan menambahkan, selama arus kas masih baik, emiten BUMN masih akan mampu memiliki kemampuan untuk pendanaan operasional. 

Selain itu, dengan adanya rencana merger di akhir tahun 2026, beban emiten konstruksi pelat merah ini akan lebih efisien dan prospektif

Nafan pun merekomendasikan speculative buy untuk PTPP dan trading buy untuk ADHI dengan fair value masing-masing sepanjang 12 bulan di kisaran Rp 520 - Rp 580 per saham dan Rp 430 - Rp 480 per saham.

Baca Juga: IHSG Anjlok ke Bawah 7.000, Sentimen Global dan HSC Tekan Pasar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News