Rasio Dividen Dikabarkan Turun, BRI Tegaskan Komitmen Jaga Shareholder Return



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menegaskan komitmennya untuk terus memberikan imbal hasil yang optimal kepada pemegang saham di tengah akselerasi pertumbuhan bisnis.

Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi mengatakan, kebijakan pembagian dividen perusahaan bakal tetap mempertimbangkan kondisi fundamental dan kebutuhan permodalan untuk menopang pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.

"BRI senantiasa berkomitmen untuk menciptakan nilai yang optimal dan berkelanjutan bagi seluruh pemegang saham. Terkait dividend payout ratio, kebijakan dividen perseroan ditetapkan dengan mempertimbangkan berbagai faktor secara komprehensif," ujar Achmad dalam keterangan resmi, Senin (7/9/2026).


Faktor tersebut antara lain kinerja keuangan, tingkat permodalan, kebutuhan pengembangan bisnis, kondisi perekonomian, serta keputusan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Baca Juga: OJK Catat Premi Asuransi Jiwa Tumbuh 7,76% hingga Juli 2026

Komitmen tersebut ditopang oleh kinerja BRI hingga semester I-2026 yang masih solid. Hingga akhir Juni 2026, BRI secara konsolidasian membukukan laba bersih Rp 31,2 triliun, tumbuh 17,5% secara tahunan (yoy).

Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan ekspansi kredit yang mencapai 16,2% yoy. Di saat yang sama, kualitas aset juga membaik dengan rasio non-performing loan (NPL) turun dari 3% menjadi 2,9%.

Dari sisi permodalan, BRI mencatatkan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 21,5%. Level tersebut masih berada di atas target jangka panjang BRI, yakni minimal 20%.

Achmad bilang, kondisi tersebut memberikan ruang bagi BRI untuk menjaga keseimbangan antara pemberian imbal hasil kepada pemegang saham dan kebutuhan memperkuat modal untuk ekspansi bisnis.

"Yang terpenting, kemampuan BRI dalam menciptakan shareholder value tetap ditopang fundamental yang semakin kuat. Kondisi tersebut memberikan ruang yang memadai bagi BRI untuk menjaga keseimbangan antara memberikan imbal hasil yang optimal kepada pemegang saham dan mempertahankan kapasitas permodalan," katanya.

Di luar itu, menurut Achmad, penciptaan nilai bagi pemegang saham tak hanya diukur dari besarnya dividen maupun capital gain. BRI juga melihat peningkatan laba, penguatan fundamental, kualitas aset, serta pertumbuhan bisnis jangka panjang sebagai bagian dari shareholder value.

 
BBRI Chart by TradingView

Ia menambahkan, pertumbuhan modal yang salah satunya berasal dari peningkatan laba menjadi bagian dari strategi pengelolaan modal BRI. Penguatan modal tersebut diperlukan agar perseroan memiliki kapasitas yang lebih besar dalam membiayai pertumbuhan dan menangkap peluang bisnis ke depan.

"Kami melihat penciptaan nilai bagi pemegang saham dari perspektif yang jauh lebih luas. Dengan optimalisasi alokasi modal ini, kami berkomitmen untuk menciptakan pertumbuhan laba yang solid, sehingga mampu memberikan hasil dan nilai yang semakin meningkat bagi seluruh pemegang saham," imbuh Achmad.

Ke depan, BRI akan tetap menjalankan strategi pertumbuhan secara disiplin dengan menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis, kualitas aset, profitabilitas, dan kecukupan modal.

Dengan fundamental dan kapasitas permodalan yang masih terjaga, BRI optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi pemegang saham.

"Fokus kami adalah memastikan setiap keputusan alokasi modal mampu menciptakan nilai yang optimal dalam jangka panjang. BRI akan terus menjaga keseimbangan antara memberikan imbal hasil yang atraktif bagi pemegang saham, memperkuat permodalan, serta menyediakan ruang yang memadai untuk mendukung pertumbuhan bisnis," pungkas Achmad.

Baca Juga: Pefindo Pertahankan Rating BRI di Level idAAA dengan Outlook Stabil

Untuk diketahui, dalam riset MNC Sekuritas tertanggal 1 September 2026, BRI diketahui bakal menurunkan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio/DPR) ke kisaran 70% untuk tahun buku 2026. 

Riset tersebut juga menyebutkan, posisi DPR untuk jangka panjang bakal ditetapkan di rentang 50%–60%. Sebagai perbandingan, DPR bank untuk tahun buku 2025 mencapai 92%. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News