Rasio Kewirausahaan Indonesia Baru 3,29%, Kemendag Dorong Waralaba untuk Genjot UMKM



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong peran sektor waralaba dalam menghadirkan pilihan produk yang beragam khususnya untuk memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan, saat ini rasio kewirausahaan di Indonesia masih berada di kisaran 3,29% dari total angkatan kerja. Untuk mencapai status negara maju, Indonesia perlu meningkatkan angka tersebut hingga mencapai minimal 10% hingga 12%. 

Seiring hal ini, Roro melihat waralaba menjadi instrumen yang potensial untuk mendongkrak rasio kewirausahaan nasional.


"Waralaba merupakan model bisnis yang efektif untuk mempercepat lahirnya wirausaha baru karena bersifat terstandardisasi dan mudah diprediksi. Kemendag berkomitmen penuh dalam mendukung perkembangan kewirausahaan nasional," ujar Roro dalam keterangan resmi, Jumat (8/5/2026).

Baca Juga: Kuasai Pasar Global, APNI dan PNIA Bangun Koridor Nikel Indonesia–Filipina

Menurutnya, model bisnis ini relevan bagi berbagai kalangan, dari generasi muda yang penuh ide kreatif, ibu rumah tangga, hingga masyarakat yang masa purna tugas dan ingin memulai kegiatan baru yang produktif. Hal ini, kata Roro, menegaskan sisi inklusivitas model bisnis waralaba. 

Gelaran Franchise & License Expo Indonesia (FLEI) 2026 yang dibuka di JIExpo Kemayoran pada Kamis (7/5/2026) kemarin dipercaya menjadi salah satu upaya menggenjot waralaba.

Roro meyakini, ajang FLEI 2026 mampu menyajikan informasi segar bagi masyarakat terkait tren terkini dan prospek pasar.

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita Ginting Sumpit menyoroti bahwa pasca pandemi, bisnis waralaba merupakan salah satu sektor yang paling cepat pulih. 

Baca Juga: Produk Mamin RI Raup Potensi Transaksi US$ 20 Juta di SIAL Canada 2026

"Industri waralaba Indonesia mencatatkan total omzet mencapai Rp 143,25 triliun sepanjang tahun 2024 dengan penyerapan tenaga kerja yang mencapai 98.000 orang," ujar Levita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News