KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kualitas aset perbankan di segmen kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menunjukkan tren beragam pada awal tahun ini. Bank Indonesia (BI) mencatat rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) UMKM naik tipis menjadi 4,6% pada Januari 2026, meningkat dari posisi Desember 2025 yang tercatat 4,33%. Kenaikan risiko ini mendorong bunga kredit UMKM ikut naik tipis 1 basis poin menjadi 10,57%.
Meski begitu, BI belum merinci pertumbuhan outstanding kredit UMKM hingga Januari.
Baca Juga: Menteri UMKM Ungkap Tantangan dan Perkembangan Hapus Tagih Kredit Macet UMKM Data terakhir per Desember 2025 menunjukkan nilai outstanding kredit UMKM mencapai Rp 1.501,5 triliun, turun 0,3% secara tahunan dan mengalami kontraksi tiga bulan berturut-turut. PT Bank Mandiri Tbk menjadi salah satu bank yang mencatat kenaikan NPL di segmen UMKM. Berdasarkan paparan kinerja 2025, rasio NPL untuk kredit mikro dan payroll mencapai 2,94% pada Desember 2025, naik dari 1,94% pada periode sama tahun sebelumnya. Outstanding kredit segmen ini tercatat Rp 195 triliun, naik 3,95% secara tahunan, sehingga nilai kredit bermasalah mencapai Rp 5,74 triliun. Sementara itu, NPL segmen kecil dan menengah naik tipis menjadi 0,97% dari 0,92% tahun 2024, dengan outstanding kredit sebesar Rp 85 triliun. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mencatat pertumbuhan kredit UMKM, mencapai Rp 130,9 triliun per Desember 2025 atau naik 5,7% secara tahunan.
Baca Juga: Rasio Kredit Macet Sejumlah BPD Masih Terjaga pada Awal Semester-II 2025 Namun, NPL segmen ini menyumbang 17,4% dari total nilai NPL BCA yang sebesar Rp 16,5 triliun. Artinya, nilai kredit UMKM bermasalah naik menjadi Rp 2,87 triliun dari Rp 2,48 triliun pada 2024. Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat perbaikan kualitas kredit UMKM. Rasio NPL segmen kecil turun dari 4,5% pada akhir 2024 menjadi 3,5%, sedangkan NPL segmen menengah menurun dari 5,2% menjadi 4,7%. Direktur Manajemen Risiko BNI, David Pirzada, menegaskan bahwa perbaikan kualitas tercermin dari penurunan NPL dan special mention loan (SML). Meski realisasi penyaluran di bawah kuota, BNI tetap selektif dan cermat.
Baca Juga: Daya Beli Rendah, Rasio Kredit Macet KPR Kembali Meningkat "Kuota KUR BNI tahun 2026 ditetapkan Rp 10 triliun, turun dari Rp 12 triliun pada 2025, guna menjaga keseimbangan pertumbuhan, risiko, dan optimalisasi harga," ujar David.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News