Rating saham properti dipangkas, analis sebut masih bisa dikoleksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beberapa lembaga rating melakukan penurunan rating terhadap perusahaan-perusahaan yang berada di bidang properti. Moody's misalnya, lembaga pemeringkat berbasis di Amerika Serikat ini baru saja menurunkan peringkat PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) menjadi B2 pada 12 september yang lalu.

Moody's menyebut bahwa alasan dari penurunan ini didasarkan dari ekspektasi likuiditas perusahaan yang diprediksi akan mencatatkan pelemahan dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. Selain itu, kondisi pasar saat ini semakin memberatkan perusahaan dengan semakin melemahnya rupiah dan tingginya suku bunga.

Tak cuma ASRI, perusahaan properti lain juga mengalami penurunan rating. Saham PT Summarecon Agung (SMRA) misalnya mencatatkan penurunan rating dari pefindo menjadi idA dari sebelumnya idA+ pada 12 September yang lalu.


Penurunan rating ini dilakukan dengan menurunya ekpektasi Pefindo atas struktur kapital perusahaan dan arus kas perusahaan dengan banyaknya proyek yang akan dilakukan oleh SMRA. Proyek-proyek ini dirasa membutuhkan pendanaan yang tak sedikit, padahal keadaan pasar properti saat ini masih belumlah pulih.

Muhammad Al Fatih, Analis Samuel Sekuritas menilai, saat ini memang keadaan pasar properti memang sedang mengalami banyak tantangan. Hal ini membuat banyak lembaga pemeringkat perusahaan menurunkan rating dari perushaan-perusahaan properti.

"Ini terkait dengan tendensi kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah," kata Al Fatih kepada KONTAN, Minggu (16/9).

Meski demikian, Al Fatih menilai bahwa sebenarnya ada beberapa sentimen positif yang bisa menjadi kabar baik bagi perusahaan-perusahaan properti, yakni pelonggaran Down Payment (DP) dari BI. Tapi, pelonggaran ini mungkin kurang manis sehingga Bank BTN tak berminat untuk memanfaatkan fasilitas tersebut. Karena itu, Al Fatih belum memberikan rekomendasi terhadap saham-saham properti.

Sementara itu, analis Panin Sekuritas, William Hartanto mengakui, kondisi properti saat ini cukup menantang dengan kondisi perusahaan yang sensitif terhadap rupiah.

"Dengan pelemahan rupiah, saham-saham properti semakin tak menarik di mata investor dan peringkat berisiko diturunkan karena ragu akan kemampuan mereka membayar utang pada saat jatuh tempo," kata William kepada KONTAN, Minggu (16/9).

Meski begitu, William berasumsi bahwa saat ini fundamental perusahaan-perusahaan properti masih baik, karena masih mencatatkan pertumbuhan. Ia juga melihat bahwa sebenarnya saham ASRI juga masih layak untuk dipertimbangkan.

"Pertimbangannya ROE ASRI lebih tinggi dari SMRA dan tahun ini ada sentimen positif dari potensi pendapatan tambahan dari selesainya patung GWK," kata William. Ia juga mengatakan bahwa sebenarnya, saham properti juga masih mendapatkan sentimen positif dari relaksasi loan to value (LTV) Kredit Pemilikan Rumah.

Ia menyarankan untuk membeli saham-saham ASRI dengan target harga Rp 500 per saham, BSDE dengan target harga Rp 2.200 per saham, BKSL dengan target harga Rp 250 per saham dn CTRA dengan target harga Rp 1.500 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia