KONTAN.CO.ID - BERN. Perusahaan manufaktur global yang berbasis di China menghadapi situasi pelik. Hambatan supply chain (rantai pasok) di China yang dipicu ketegangan perdagangan global, pembatasan ekspor hingga proteksionisme global, menyebabkan perusahaan manufaktur global melirik negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) salah satunya Indonesia, menjadi alternatif basis produksinya. Tidak kurang dari 500 perusahaan manufaktur asal Swiss yang sedang mencari alternatif kawasan produksi di Asia Tenggara, setelah ekspor asal China banyak mengalami hambatan. Hal ini terungkap setelah I Gede Ngurah Swajaya Duta besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein berdiskusi dengan Presiden Swiss Guy Parmelin bersama sejumlah duta besar ASEAN, beberapa waktu lalu.
"Mereka mencari alternatif basis kawasan produksi selain China. Perusahaan Swiss memiliki keunggulan research and development serta kualitas produk," tutur I Gede Ngurah Swajaya kepada rombongan jurnalis Grup Kompas Gramedia di Wisma Kedutaan Besar RI di Bern, Swiss, Selasa (22/6/2026). Liputan ini terkait hubungan bilateral RI-Swiss yang memasuki usia ke-75 tahun.
Baca Juga: Meski Indeks Manufaktur Membaik, Pengusaha Masih Waspadai Banyak Tekanan ASEAN yang diperkirakan memiliki jumlah penduduk mencapai 700 juta hingga 800 juga jiwa pada tahun 2026 ini, merupakan daya tarik pasar yang sangat menarik. Pertanyaannya, siapkah Indonesia memanfaatkan peluang serbuan ekspansi perusahaan manufaktur asal Swiss tersebut? Dapatkah Indonesia menjamin kebutuhan sumber daya manusia (SDM) perusahaan-perusahaan tersebut? Menurut Ngurah Swajaya, Swiss tidak menempatkan murahnya upah buruh sebagai poin utama ekspansi industri manufakturnya. Yang mereka butuhkan, lanjut Ngurah Swajaya, adalah tenaga kerja terlatih (skilled worker), karena produk barang Swiss terkenal dengan kualitasnya. Penyiapan ternaga kerja terlatih ini, yang menjadi tantangan bagi pemerintah Indonesia. Swiss sendiri terkenal dengan pendidikan vokasinya. Dual vocational education and training (Dual VET) Swiss adalah sistem pendidikan sistem dual-track yang diakui dunia karena menghasilkan tenaga kerja terampil dan tingkat pengangguran usia muda yang rendah. Program ini menggabungkan pelatihan kerja praktik di perusahaan dengan pembelajaran teori di sekolah kejuruan. Di Indonesia, Swiss telah melakukan Kerja sama mengembangkan Pendidikan vokasi. Misalnya Politeknik Manufaktur (POLMAN) Bandung. Ini merupakan pusat kolaborasi strategis antara Indonesia dan Swiss untuk pengembangan pendidikan vokasi, energi terbarukan, dan teknologi manufaktur. Sayangnya pola pikir masyarakat Indonesia sendiri masih menempatkan pendidikan vokasi sebagai pilihan paling akhir, jika anaknya tidak berpeluang mengecap pendidikan hingga bangku kuliah. Belum lagi industri di Tanah Air kerap mementingkan tingkat pendidikan strata 1 ketimbang SDM dengan keahlian yang diperoleh dari pendidikan vokasi.
Baca Juga: PMI Manufaktur Naik ke 50,0, Tapi Industri Belum Sepenuhnya Pulih Sementara itu, Francis Wanandi Ketua Komite Bilateral untuk Swiss dan Liechtenstein di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia) menyebutkan, perusahaan perusahaan asal Swiss tidak pernah berurusan dengan minimnya upah tenaga kerja. "Karena mereka membutuhkan tenaga kerja terlatih, maka upahnya selalu di atas upah minimum," tutur Francis, yang juga tengah berada di Wisma Kedutaan Besar RI di Bern, Swiss.
Oleh sebab itu, di Swiss sendiri, pangsa pasar tenaga kerja mayoritas atau sekitar 60%-nya diisi oleh lulusan pendididikan vakasi dan sisanya dari pendidikan akademik. Guna mempersiapkan kebutuhan SDM oleh industri manufaktur gobal, tentu saja kurikulum pendidikannya harus menyesuaikan dengan kebutuhan terkini. Jika ditanya berapa nilai investasi yang akan dibawa dari entitas manufaktur Swiss ke Asia Tenggara? Ngurah Swajaya menyebut paradigma ini seharusnya diubah. Bukan lagi seberapa besar nilai investasi yang akan ditanamkan, melainkan seberapa besar investasi itu akan berdampak dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News