Rawan tsunami, BMKG bangun radar canggih di Yogyakarta dan Jawa Tengah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membangun infrastruktur peringatan dini gempa bumi dan tsunami di pesisir Bantul, D.I Yogyakarta dan Purworejo, Jawa Tengah. Persisnya di Pantai Parangtritis dan Pantai Keburuhan.

Pembangunan infrastruktur berupa radar tsunami ini sangat penting, mengingat Yogyakarta dan  Jawa Tengah merupakan kawasan rawan gempa bumi dan tsunami.

"Pembangunan radar tsunami ini merupakan bentuk kerjasama BMKG dan MIC (Ministry of Internal Affairs and Communications) Jepang, serta didukung oleh Universitas Gadjah Mada," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam siaran pers Selasa (3/9).


Baca Juga: Kemarin, BMKG mencatat dua gempa bermagnitudo 5

Dwikorita menjelaskan, kinerja radar tsunami itu akan diuji dan dievaluasi terlebih dahulu dalam kurun waktu enam bulan hingga satu tahun ke depan guna memperoleh hasil yang lebih optimal. Radar tsunami tersebut kelak memonitor arus laut, mulai kecepatan, arah, ketinggian, hingga periode gelombang, dengan menggunakan gelombang radio frekuensi tinggi atau gelombang pendek yang disebut HF radar.

"Sistem HF radar ini (frekuensi 16 MHz) mampu memonitor wilayah laut dengan luasan 800 kilometer persegi dengan radius jangkauan 80 kilometer," imbuh Dwikorita.

Kepala Bidang Geofisika, Pusat Penelitian, dan Pengembangan BMKG Supriyanto, menambahkan, instalasi dan pemasangan instrumen radar tsunami relatif mudah karena sistem tersebut ditempatkan di pesisir pantai dalam bentuk antena-antena radio.

"HF radar ini juga bisa berfungsi sebagai Oceanographic Radar yang memiliki multi-fungsi tidak hanya sebagai monitoring gelombang tsunami, tetapi juga untuk kemaritiman, seperti monitoring arus permukaan, gelombang, dan pola pasang surut air laut," ujar Supriyanto.

Baca Juga: Peringatan BMKG: Ada alarm, zona gempa selatan Jawa sangat aktif

Selain itu, pada bidang kebencanaan oceano-meteorologi, radar tersebut mampu untuk memonitor ketinggian gelombang dan tekanan udara rendah akibat siklon tropis, serta memberikan informasi prediksi sebaran polusi atau tumpahan minyak.

Bahkan, bila terjadi kecelakaan laut, radar ini bisa membantu tim rescue dalam melakukan evakuasi korban. Radar itu juga mampu memonitor pergerakan sampah di lautan, pergerakan arus laut, dan perubahan volume air laut.

Saat ini, pembangunan radar tsunami di Pantai Parangtritis dan Pantai Keburuhan memasuki tahap awal konstruksi.

"Diharapkan dengan selesainya instalasi dan uji coba yang ditargetkan Maret 2020, kehadiran radar ini akan membantu meningkatkan kehandalan sistem peringatan dini tsunami pada objek-objek vital negara, khususnya Bandara Yogyakarta Intenational Airport," sebut Dwikorita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: S.S. Kurniawan