RBA Naikkan Suku Bunga Ketiga Kalinya, Inflasi Energi Jadi Biang Kerok



KONTAN.CO.ID - Bank sentral Australia kembali memperketat kebijakan moneternya. Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga acuan untuk ketiga kalinya sepanjang 2026, seiring upaya menahan inflasi yang kian persisten akibat lonjakan harga energi global.

Dalam rapat kebijakan Mei, RBA menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,35%, sekaligus mengembalikan biaya pinjaman ke level tertinggi sejak pandemi.

Kenaikan ini juga membalikkan seluruh pemangkasan suku bunga yang dilakukan sepanjang 2025.


Baca Juga: UPDATE: Harga Emas Dunia Bangkit dari Level Terendah 5 Pekan Selasa (5/5)

Keputusan tersebut diambil dengan suara 8 banding 1, mencerminkan sikap yang semakin hawkish dibandingkan rapat Maret yang sebelumnya lebih ketat.

Dalam pernyataannya, RBA menilai tekanan inflasi masih akan bertahan dalam waktu yang cukup lama, dengan risiko yang cenderung meningkat.

“Kenaikan harga bahan bakar mendorong inflasi dan berpotensi menimbulkan efek lanjutan terhadap harga barang dan jasa secara luas,” tulis dewan RBA dilansir Reuters Selasa (5/5/2026).

Inflasi Australia sendiri telah mencapai 4,6% pada Maret, jauh di atas target bank sentral di kisaran 2%–3%.

Bahkan, RBA memperkirakan inflasi dapat mendekati 5% tahun ini, dipicu oleh lonjakan harga minyak global.

Baca Juga: UPDATE: Harga Minyak Dunia Turun Tipis Selasa (5/5), Brent ke US$113,93

Lonjakan tersebut tak lepas dari konflik geopolitik di kawasan Selat Hormuz yang mengganggu pasokan energi dunia. Jalur vital ini biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak global, sehingga gangguan berdampak langsung pada harga energi.

Kepala Riset Ekonomi Oxford Economics Australia Harry Murphy Cruise menyebut, RBA hampir tidak memiliki pilihan selain menaikkan suku bunga.

“Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lama, RBA kemungkinan harus menaikkan suku bunga beberapa kali lagi tahun ini untuk menekan inflasi,” ujarnya.

Meski demikian, RBA juga memberi sinyal bahwa kebijakan saat ini sudah cukup ketat dan memberi ruang untuk merespons perkembangan ke depan, membuka kemungkinan jeda kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Di sisi pasar, langkah ini sebagian besar sudah diantisipasi pelaku pasar. Namun, ekspektasi tetap terbuka untuk kenaikan lanjutan hingga suku bunga mencapai 4,60% pada September level tertinggi sejak 2011.

Baca Juga: China Balas AS, Gunakan UU Anti-Sanksi untuk Lindungi Kilang Minyak

Tekanan inflasi yang meningkat juga mulai berdampak pada perekonomian domestik. Kepercayaan bisnis dan konsumen melemah, sementara pasar properti mulai kehilangan momentum akibat tingginya biaya pinjaman.

Meski demikian, pasar tenaga kerja masih relatif kuat dengan tingkat pengangguran bertahan di level rendah 4,3%.

Secara keseluruhan, arah kebijakan RBA ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik global dan harga energi, yang kini menjadi faktor kunci dalam menentukan trajektori inflasi.